Pada 15 Februari 2020 dilaporkan adanya fenomena keluarnya api disertai asap pekat, bau belerang dan air panas pasca terjadinya gerakan tanah (tanah longsor) di Desa Sebot, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini kemudian memunculkan spekulasi akan lahirnya gunungapi baru. Menanggapi hal tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral segera menindaklanjuti dengan mengirimkan tim untuk melakukan penyelidikan ke lokasi kejadian.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa wilayah Desa Sebot dan Desa Netpala tersusun oleh batulempung berwarna abu-abu kehitaman. Pada area keluarnya gas, batulempung berubah warna menjadi merah, kuning dan hitam (terdapat tanda-tanda efek bakar). Pada area tersebut ditemukan mineralisasi kuarsa dan pirit pada tanah di sekitar rekahan tempat keluarnya gas. Batuan di lokasi ini merupakan bagian dari Formasi Bobonaro. Manifestasi gas sendiri berada pada zona hancuran akibat struktur geologi (sesar). Morfologi wilayah manifestasi gas berupa perbukitan bergelombang kuat dengan kemiringan lereng secara umum berkisar 20 - 30?, dimana secara setempat berbentuk terjal di bagian tebing dengan kemiringan lereng mencapai >40?.

Hasil pemeriksaan visual tanggal 19 Februari 2020 teramati kemunculan gas/asap pada area bekas longsoran di lereng Sungai Taumin di Desa Sebot. Luas area kemunculan gas/asap ini relatif kecil, yaitu berada di dalam area sekitar 2 meter persegi. Pada area ini tidak teramati adanya tekanan emisi gas yang tinggi, tidak terdengar suara mendesis (blazer), tidak teramati adanya sublimat belerang, dan tidak teramati adanya nyala api. Visual asap teramati berwarna putih tipis keluar dari celah-celah batulempung dengan tinggi asap sekitar 2 meter. Bau gas sulfur tercium dengan intensitas sedang hingga kuat pada jangkauan sekitar 50 meter dari area manifestasi. Sebaran bau tidak merata bergantung pada arah angin. Selain fluida gas, tidak ada fluida lain seperti air panas atau lava yang muncul dari area keluarnya gas seperti yang diberitakan sebelumnya. Secara geografis, manifestasi gas terjadi pada koordinat 09?42'19,1'' LS dan 124?16'23,5'' BT (728 meter di atas permukaan laut).

Informasi dari masyarakat setempat menyebutkan tidak merasakan adanya getaran-getaran pada saat munculnya fenomena gas tersebut pada tanggal 7 Februari 2020 maupun pada hari-hari berikutnya. Temperatur lubang gas di Desa Sebot terukur lebih dari 300 oC (dengan temperatur udara 32 oC). Pengukuran jenis dan kandungan gas di tempat keluarnya hembusan gas dilakukan dengan alat detektor Multigas, dimana gas yg terukur didominasi oleh gas SO2 dan H2S. Pada jarak sekitar 2 meter dari titik ventilasi gas, konsentrasi gas SO2 yang terukur dapat mencapai 121 ppm, H2S mencapai 46 ppm, dan CO2 mencapai 1400 ppm. Sedangkan untuk gas metana (CH4) dan CO tidak terdeteksi (nihil). Rasio rata-rata gas yang diperoleh untuk CO2/SO2 sebesar 2,4 (R2 = 0,79), CO2/H2S sebesar 11,2 (R2 = 0,75), dan H2S/SO2 sebesar 0,2 (R2 = 0,78).

Selain di Desa Sebot, fenomena manifestasi gas juga teramati di Desa Netpala, yaitu pada koordinat geografis 09?43'31,3'' LS dan 124?15'46,2'' BT (933 meter di atas permukaan laut). Berdasarkan informasi dari masyarakat, manifestasi gas ini muncul pada sekitar bulan Juli 2019, namun saat ini intensitas aktivitasnya sudah jauh menurun/melemah. Lapangan manifestasi yang ada saat ini hanya berupa bekas-bekas tembusan gas yang sudah padam. Pada pemeriksaan tanggal 19 Februari 2020 terdapat satu titik yang tersisa. Visual asap teramati berwarna putih sangat tipis keluar dari celah batulempung dengan tinggi asap sekitar 15 cm. Tidak teramati adanya tekanan emisi gas yang tinggi, tidak terdengar suara mendesis (blazer), dan tidak teramati adanya sublimat belerang. Bau gas sulfur tercium sangat lemah hingga jarak sekitar 2 meter (tergantung arah angin).

Berdasarkan karakteristik dari rasio gas yang terukur di Desa Sebot dapat disimpulkan bahwa gas berasal dari aktivitas magmatisme (tipe subduksi) yang didominasi oleh gas-gas sulfur. Gas ditengarai sebagai sisa proses sulfidasi dari magma (magma cooling system) yang keluar ke permukaan melalui rekahan yang dipengaruhi oleh kondisi struktur geologi (sesar) setempat. Kelurusan manifestasi gas yang muncul di dua tempat (Desa Sebot dan Desa Netpala) sesuai dengan pola sesar normal berarah timurlaut-baratdaya yang terdapat di bagian timur Mollo Utara.

Adanya bekas-bekas intrusi di daerah Mollo Utara (munculnya marmer) merupakan bukti aktivitas magmatisme di masa lampau (purba). Keterdapatan mineral-mineral yang merupakan hasil dari proses mineralisasi menguatkan indikasi adanya gas dan panas yang terjebak dalam zona struktur geologi dimana lapisan batulempung berfungsi sebagai batuan penutup (caps rock).

Intensitas aktivitas gas di Desa Sebot diperkirakan akan melemah seiring dengan waktu, identik dengan kondisi manifestasi gas di Desa Netpala dimana selama 7 bulan intensitas aktivitasnya terus melemah dan menuju padam. Gas yang tidak bertekanan tinggi dan cenderung melemah menjadi indikasi tidak adanya penambahan akumulasi gas yang keluar melewati rekahan.

Berdasarkan analisis data dasar geologi setempat dan hasil penyelidikan lapangan dapat disimpulkan beberapa poin utama sebagai berikut:

(1) Konsentrasi gas sulfur (SO2 dan H2S) yang terukur melebihi ambang batas normal di udara, dimana ambang normal gas SO2 adalah 2 ppm dan H2S adalah 10 ppm.

(2) Sumber dari gas dan temperatur panas bukan berasal dari aktivitas vulkanisme (gunungapi) baru, namun berasal dari sisa aktivitas magmatisme masa lampau (purba) yg mengisi zona lemah pada struktur geologi dan tertutup oleh batulempung.

(3) Aktivitas gas tidak mengindikasikan akan munculnya gunungapi baru.

Dengan mempertimbangkan kondisi geologi dan morfologi wilayahnya dan berdasarkan hasil penyelidikan di area manifestasi gas maka direkomendasikan:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas dan memasuki area radius 100 meter dari titik keluarnya gas untuk menghindari paparan gas beracun yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

(2) Masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas di sekitar area keluarnya gas karena merupakan area yang rawan longsor.

(3) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

(4) Masyarakat agar senantiasa mengikuti rekomendasi dari Badan Geologi maupun arahan dari Pemerintah Daerah setempat dan BPBD Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Hak Cipta © 2020 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 18
Jakarta Pusat 10110
Telp. 021 3804242 Fax. 021 3507210