Laporan Kebencanaan Geologi 01 Januari 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 1 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-1000 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 31 Desember 2017 tercatat:- 12 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 14 kali Gempa Hembusan-3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm).
Tanggal Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 8 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
- Status Level IV (Awas) hanya berlaku pada radius 8-10 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan NORMAL dan masih tetap AMAN.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-200 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah baratdaya-barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1500-2000 m diatas puncak, dan 68 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran 700-1000 m ke arah timur-tenggara.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Desember 2017 Pukul 14:11 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat-baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 400-500 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 31 Desember 2017 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- 2 kali Gempa Letusan
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2017 pukul 08:00 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 300-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 31 Desember 2017 tercatat:- 101 kali gempa letusan- 53 kali gempa Hembusan- 32 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 5-10 m diatas kawah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 31 Desember 2017 tercatat:- 28 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Jauh- 2 kali Gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Kuningan , Provinsi JawaBarat
2. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
3. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.
Penyebab:Penyebab gerakan tanah diduga akibat tanah pelapukan yang tebal dan labil, kemiringan lereng yang curam, dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi dan lama sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Dampak ;Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan jalur jalan  tertimbun dan  lalu lintas terputus sementara di jalur  lintas antar desa, 160 jiwa dalam satu dusun  terisolasi dan satu sekolah terancam di Kabupaten Kuningan (Provinsi Jawa Barat); satu rumah ibadah rusak di Kabupaten Gianyar (Provinsi Bali); tanggul sungai rusak di Kabupaten Kebumen (Provinsi Jawa Tengah).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-1000 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 31 Desember 2017 tercatat:- 12 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 14 kali Gempa Hembusan-3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- Tremor menerus dengan amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm).
Tanggal Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)- 8 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-200 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah baratdaya-barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1500-2000 m diatas puncak, dan 68 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran 700-1000 m ke arah timur-tenggara.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 400-500 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 31 Desember 2017 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).- 1 kali Gempa Tektonik Jauh- 2 kali Gempa Letusan
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 300-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 31 Desember 2017 tercatat:- 101 kali gempa letusan- 53 kali gempa Hembusan- 32 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 5-10 m diatas kawah. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 31 Desember 2017 tercatat:- 28 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Jauh- 2 kali Gempa Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Desember 2017 Pukul 14:11 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat-baratdaya.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2017 pukul 08:00 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Kuningan , Provinsi JawaBarat*, 
2. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali*, 
3. Kabupaten Kebumen,  Provinsi Jawa Tengah*, 
4. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, 
5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 
6. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 
7. Kabupaten Pasuruan , Provinsi Jawa Timur, 
8. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, 
9. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 
10. Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, 
11. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 
12. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, 
13. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 
14. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, 
15. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, 
16. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten, 
17. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, 
18. Kabupaten Tapanuli Selatan , Provinsi Sumatera Utara.   

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa BaratGerakan tanah terjadi di Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat pada hari Sabtu, 30 Desember 2017 setelah hujan deras yang mengguyur sejak pukul 13.30 hingga pukul 14.30 wib. Dampak gerakan tanah mengakibatkan jalan poros penghubung Desa Pinara – Desa Gunungmanik terputus sepanjang 7 meter dengan lebar 4 meter; 35 kk dengan 160 jiwa di Dusun Babakan dan terisolir; dan TK 1 PGRI Fatimah Azzahra terancam longsoran.
Sumber berita: http://kuninganterkini.com/aneka/7806-longsor-ciniru,-dusun-babakan-terisolir.html
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, saluran drainase yang kurang baik, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Membuat saluran drainase yang kedap air, serta mengalirkannya menjauh dari lereng yang longsor;
• Untuk sementara jalan tidak bisa dilalui, sehingga dihimbau masyarakat untuk menggunakan jalan yang lain sampai ada penanganan;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.

2. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
Derasnya aliran sungai pun menyebabkan salah satu senderan pangkung (jurang, red) di Perumahan Sri Santika Graha Lingkungan Kelod Kauh, Kelurahan Abianbase, Gianyar ambles pada, Sabtu (30/12) dini hari. Amblesnya senderan membuat sebuah palinggih Padmasana lengkap dengan panyengker dan bangunan poskamling di sisi selatannya longsor ke jurang. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Hanya saja warga perumahan yang beranggotakan 25 KK kehilangan tempat sembahyang.
Sumber Berita : http://www.nusabali.com/berita/22793/senderan-ambles-padmasana-dan-poskamling-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat tanah pelapukan yang tebal dan labil, kemiringan lereng yang curam,  erosi lateral sungai , dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi dan lama sehingga lereng menjadi tidak stabil.

3.Kabupaten Kebumen,  Provinsi Jawa Tengah
Banjir mengancam sejumlah desa di Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, menyusul tanggul Sungai Banda dalam kondisi kritis akibat gerakan tanah / tanah  longsor di perbatasan Desa Tepakyang dan Sugihwaras. Longsornya tanggul sungai sepanjang 40 meter, terjadi bersama datangnya banjir, Selasa (30/12/2014). Tanggul yang semula tebalnya sekitar dua meter, kini hanya menyisakan tidak lebih dari satu meter.
sumber Berita : http://m.kabarkebumen.com/web/read/808/not_found.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat tanah pelapukan yang tebal dan labil, kemiringan lereng yang curam,  erosi lateral sungai , dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi dan lama sehingga lereng menjadi tidak stabil.
*Rekomendasi : 
• Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama;
• Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar tempat bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih aman; 
• Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalulintas kembali lancar dengan tetap kewaspadaan selama melakukan kegiatan pembersihan tersebut;
• Melandaikan lereng, dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras;
• Memperbaiki drainase dan saluran air permukaan agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan serta tidak membiarkan bebas air melalui lereng;
• Memvangun bangunan penahan erosi sungai dengan fondasi mencapai batuan yang keras;
• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng;
• Memasang rambu rambu daerah rawan longsor di sepanjang jalan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

Rendang, Bali, 01 Januari 2018
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani