Laporan Kebencanaan Geologi 07 Januari 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 07 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap putih hingga kelabu tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah barat dan timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 06 Januari 2018 tercatat:- 14 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 13 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL).- Tremor menerus dengan amplitudo 1-23 mm (dominan 1 mm).
Tanggal 07 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)- 8 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:
- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.-Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA:
Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan abu vulkanik maksimum mencapai ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya dan selatan.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-700 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 5 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 300-2500 m diatas puncak, dan 79 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Januari 2018 Pukul 14:50 WIB, terkait letusan abu tebal selama 308 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin ke arah tenggara dan timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut dan tidak teramati asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 06 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan nihil.- Gempa Tektonik Lokal 1 kali.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Dari tanggal 02-07 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami kerusakan. Perbaikan segera dilakukan. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 10-100 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timut. Melalui rekaman seismograf pada 06 Januari 2018 tercatat:- 20 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Fase Banyak.- Nihil Gempa Vulkanik Dalam.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.- Nihil Gempa Tektonik Lokal.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.
2.Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur.
3.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah.
4.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.
5. Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali.
6. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh.
7. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.

Penyebab  : Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng,  pemukiman dan jalan  di bangun di dekat tebing / lereng, kondisi batuan dan  struktur geologi setempat, sifat tanah pelapukan yang mudah menyerap air ,  labil, vegetasi yang terus berkurang diperbukitan,  drainase air tidak berfungsi / tidak ada serta dipicuh oleh  tingginya curah hujan baik sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah..Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan akses jalan menjadi terganggu di Kabupaten Wonosobo, (Provinsi Jawa Tengah) dan di  Kabupaten Bireun ( Provinsi Aceh)  ; 2 (dua) rumah  dan sebuah kandang sapi rusak berat di Kabupaten Malang (Provinsi  Jawa Timur); 2 (dua) rumah rusak berat dan 3 (tiga) rumah terancam serta  jalan desa tertutup tanah longsor di Kabupaten Banyumas (Provinsi Jawa Tengah); lalu lintas di kawasan wisata terhambat di Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur ); saluran irigasi terputus dan mengancam ratusan hektar sawah terancam kekeringan serta  satu kandang ternak rusak di Kabupaten Gianyar (Provinsi Bali) ; kerusakan sekitar 21 bangunan, terdiri dari 15 rumah warga (16 KK/44 jiwa, 5 rumah diungsikan), 2 tempat usaha (kandang ayam dan eks pabrik teh), 3 fasilitas umum (masjid, madrasah, jalan lingkungan)  di  Kabupaten Majalengka, (Provinsi Jawa Barat)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
 
Gempa bumi di wilayah Kepulauan Batu, Sumatra Utara
Informasi Gempa bumi;Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 6 Januari 2018, pukul 17:26 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,62° BT dan 0,33° LU, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 30 km, berjarak 94 km baratdaya Mandailingnatal, Sumatra Utara. Berdasarkan GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 98,58° BT dan 0,36° LU, dengan magnitudo M 4,9 pada kedalaman 55 km. The United States Geological Survey (USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,602° BT dan 0,324° LU, dengan magnitudo M 4,9 pada kedalaman 49,9 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi;Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah Kepulauan Batu, Pulau Nias dan pesisir barat Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kepulauan barat Sumatera (Kep. Batu dan P. Nias) pada umumnya disusun oleh batuan tua atau berumur Pra-Tersier hingga Tersier. Wilayah pesisir barat Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter. Batuan berumur Kuarter serta batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi;Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa bumi;Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Berdasarkan BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Padangsidimpuan dengan intensitas I-II MMI (Modified Mercalli Intensity). Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi;(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap air dan abu tipis-sedang putih kelabu tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200-500 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 06 Januari 2018 tercatat:- 14 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 13 kali Gempa Hembusan- Nihil Tektonik Lokal (TL).- Tremor menerus dengan amplitudo 1-23 mm (dominan 1 mm).
Tanggal 07 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- 4 kali Gempa Hembusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lemah dari arah kawah setinggi 50-700 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf dan visualtercatat 5 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 300-2500 m diatas puncak, dan 79 kali gempa guguran,  jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, asap kawah putih dan kelabu tebal tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 06 Januari 2018 tercatat:- Gempa Letusan 2 kali.- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).- Tektonik Lokal 1 kali.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu tebal teramati 200-600 m. Angin bertiup ke arah selatan dan timur. Sistem rekorder seismograf dari tanggal 02-07 Januari 2018 mengalami kerusakan, perbaikan segera dilakukan.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati cerah hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lenah 10-100 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 06 Januari 2018 tercatat:- 20 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Fase Banyak.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal- Nihil Gempa Vulkanik Dalam- Nihil Gempa Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baradaya dan selatan.
(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Januari 2018 Pukul 14:50 WIB, terkait letusan abu tebal selama 308 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin ke arah tenggara dan selatan.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah*, 
2. Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur*,
3. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah*,
4. Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur*, 
5. Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali*, 
6. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh*,
7. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat*,
8. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah, 
9. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, 
10. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,   
11. Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah,
12. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,
13. Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah,
14. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,
15. Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali ,
16. Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat,
17. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur,
18. Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah,
19. Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah,
20. Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan,
21. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,
22. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan,
23. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,
24. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, 
25. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
26. Kabupaten Bantul, Provinsi DI. Yogyakarta, 
27. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 
28. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,   
29. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 
30. Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, 
31. Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 
32. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 
33. Kabupaten Pidie , Provinsi Aceh,
34. Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, 
35. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
36. Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, 
37. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.  
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah/tanah longsor terjadi di sepanjang  Desa Pringapus dan Desa Tegalsari Kecamatan Garung,  Kabupaten Wonosobo,  Jawa Tengah pada Jumat, 5 Januari 2018 sekitar pukul 19.00 WIB. Tanah longsor diperkirakan sepanjang sekitar 40 m dengan tinggi tebing sekitar 60 m, sehingga akses jalan menjadi terganggu.
Sumber : https://www.wonosobozone.com/gotong-royong-bersih-jalan-yang-terkenal-longsor/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi menyebabkan  air melimpas di tebing di atas jalan dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. 

2.Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di pemukiman RT 03 RW 01 Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur pada Jumat, 5 Januari 2018 sekitar pukul 20.00 WIB. Hujan deras dan angin kencang di wilayah Ngadireso berlangsung sejak pukul 14.00 WIB hingga malam hari memicuh tanah longsor. Tanah longsor mengakibatkan 2 (dua) rumah  dan sebuah kandang sapi rusak berat. 
Sumber : http://komsos.memontum.com/3387-kapolsek-dan-babinsa-poncokusumo-benahi-rumah-warga-korban-longsor ; dan http://www.timesmalang.com/read/24986/20180106/144128/dua-rumah-dan-kandang-sapi-tersapu-tanah-longsor-di-poncokusumo/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi menyebabkan  air melimpas di tebing di atas pemukiman dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. 

3.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa TengahGerakan tanah terjadi di pemukiman di wilayah Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah, yaitu:
 Pemukiman Dusun Kalisalak, Desa Karangbawang, Kecamatan Ajibarang pada Jumat, 5 Januari 2018 siang  hari. Gerakan tanah berasal dari tebing setinggi 12 meter dan lebar 7 meter yang mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak berat dan 3 (tiga) rumah terancam Pemukiman RT 1 RW 1, Desa Watuagung Kecamatan Tambak pada Jumat, 5 Januari 2018. Gerakan tanah mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak dan jalan desa tertutup tanah longsor. 
Sumber: http://rri.co.id/purwokerto/post/berita/475493/banyumas/bencana_tanah_longsor_terjadi_di_empat_desa_di_banyumas.html
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi menyebabkan air melimpas pada tebing di atas pemukiman dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. 

4.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur 
Gerakan tanah terjadi di kawasan lokasi wisata Sarangan, di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada Jumat, 5 Januari 2018 malam hari. Hal ini disebabkan hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak siang hingga malam hari kemarin . Material tanah menimbun jalur jalan dan kebun di sekitar kawasan wisata tersebut. Ketinggian material longsor sekitar 3 meter dengan panjang 5 meter, ketebalannya mencapai 1,5 meter.
Sumber : https://faktualnews.co/2018/01/06/longsor-terjang-kawasan-wisata-telaga-sarangan/54405/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi menyebabkan air melimpas di tebing di atas jalan dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. 

5. Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali 
Gerakan tanah terjadi di wilayah Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali, yaitu:
• Saluran irigasi Subak Cebok di Banjar Kedisan, Tegalalang, Gianyar pada Sabtu (6/1/2018), pagi . Tebing yang bersebelahan dengan saluran irigasi Subak Cebok ambrol sehingga talang saluran irigasi patah mengakibatkan saluran irigasi sepanjang 100 meter ikut ambrol dan  kandang babi yang ada dipinggir tebing juga ikut tergerus longsor. Atas kejadian ini, ratusan hektar lahan sawah milik petani di Subak Cebok terancam kekeringan. Curamnya lokasi longsoran , pemilik kandang Babi I Made Mupu mengaku tidak berani melalukan evakuasi dan membiarkan ternaknya berada diatara reruntuhan mengingat adanya Potensi longsoron susulan karena  hujan terus turun di wilayahnya.
• di Jalan Ir Sukarno bukit Tampaksiring, Gianyar pada Sabtu (6/1/2018) sore hari . Gerakan tanah menutup badan jalan dan mengakibatkan arus lalu lintas  macet berjam-jam serta satu buah mobil jenis Pik Up ikut tergerus terbawa longsoran. Pengemudi Pik Up selamat namun hingga berita ini diturunkan mobil Pik Up belum bisa dievakuasi
Sumber  : https://www.mediapelangi.com/saluran-irigasi-subak-cebok-tegallalang-ambrol/ 
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

6. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
Gerakan tanah / tanah longsor di Jalan di Kawasan Pinto Rimba, Kecamatan peudada, Bireuen akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut  pada Tanggal (6/1/2018). Badan jalan tertimbun dengan tanah longsor dan  badan jalan tergurus air di Pinto Rimba, mengakibatkan petani kesulitan melintasi jalan tersebut untuk membawa hasil panen dari kebunnya. Butuh waktu 15 jam untuk melakukan penggalian saluran dan pembuangan tanah longsor lebih kurang 10 meter.Sedangkan untuk penggalian saluran mencapai 400 meter untuk menghindari air mengalir di badan jalan.
Sumber http://kabarbireuen.com/jalan-pinto-rimba-peudada-longsor-bpbp-bireuen-akan-turunkan-alat-berat/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal porus, mudah menyerap air, dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.

7. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di Desa Cimuncang Blok Pamujaan Kec. Malausma pada Hari Sabtu Tanggal 6 Januari 2018 dengan awal kejadian sekitar pukul 05.00 WIB Sabtu pagi tgl 6 Januari 2018. Berdampak terhadap beberapa rumah warga yg mengalami retak-retak sekitar 2 cm pd bagian dinding dan lantai bangunan. Retakan juga terjadi pada kolam ikan sehingga airnya surut masuk ke dalam rekahan tanah. Pemantauan pada siang hari pukul 12.00 WIB retakan yg terjadi pada dinding dan lantai bertambah menjadi sekitar 4 cm dan terdapat retakan  baru pada tanah dan lantai bangunan masjid.  Dampak pergerakan tanah ini mengakibatkan kerusakan sekitar 21 bangunan, terdiri dari 15 rumah warga (16 KK/44 jiwa, 5 rumah diungsikan), 2 tempat usaha (kandang ayam dan eks pabrik teh), 3 fasilitas umum (masjid, madrasah, jalan lingkungan).
Sumber : Informasi bersumber dari laporan BPBD yang disampaikan kepada Pusat vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, kondisi batuan dan struktur batuan setempat , drainase air yang tidak berfungsi dengan baik menyebabkan air melimpas ke tubuh jalan dan dipicuh oleh curah hujan pada sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.
* Rekomendasi : 
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
• Masyarakat maupun pengguna jalan yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama;
• Masyarakat yang bermukim pada rumah yang terancam ambruk atau  bermukim di dekat  tebing  agar mengungsi sementara waktu ke tempat yang lebih aman;
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
• Tidak membangun di dekat  tebing sungai;
• Menata aliran air permukaan pada tebing agar arah aliran air permukaan tidak masuk ke arah tebing;
• Mengosongkan kolam ikan;
• Pemantauan retakan dan retakan segera ditutup agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng;
• Memasang rambu rambu daerah rawan longsor di sepanjang jalan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.



Bandung, 07 Januari 2018
PVMBG Badan Geologi, KESDM
Kasbani