Pertimbangan Seismotektonik Untuk Pembangunan Infrastruktur Migas Blok Masela, Maluku

Asdani Soehaimi, peneliti Badan Geologi di bidang seismologi Pusat Survei Geologi yang saat ini aktif di Subbidang Pemetaan Tematik Pusat Survei Geologi, tampil di Geoseminar Pusat Survei Geologi, jumat (07/07/17). Paparannya berkaitan dengan program strategis pemerintah pusat, terutama dalam program pembangunan Blok Migas Masela, secara umum Asdani, membahas mengenai studi awal seismotektonik untuk pembangunan infrastruktur Blok Migas Masela sebagai upaya perlindungan dari bencana geologi khususnya gempa bumi dan tsunami serta bencana ikutannya seperti tanah longsor dan likuifaksi. Dari studi awal berdasarkan pertimbangan seismotektonik yang berbasis pada dinamika geologi dan tektonik serta data kegempaan pada wilayah ini, telah teridentifikasi dua potensi bencana yakni gempa bumi dan tsunami.

pertimbanganseismotektonikuntukpembangunaninfrastrukturmigasblokmaselamaluku      
Blok Migas Masela secara geografis terletak di lepas pantai Indonesia Timur dan berdekatan dengan perbatasan Australia dimana terdapat setidaknya tiga pulau terdekat yang akan menjadi tempat dibangunnya infrastruktur pendukung untuk Blok Migas Masela. Ketiga pulau tersebut yakni Pulau Babar, Tanimbar, dan Aru. Selanjutnya, sebagai parameter utama studi ini, Asdani menggunakan data geologi dan geofisika meliputi data struktur geologi/tektonik, proses geologi, data anomali bouger, peta zonasi gempa, data potensi kegempaan magnitude > 5. Berdasarkan beberapa parameter tersebut, ringkasan kondisi Blok Migas Masela sendiri yang berada di lepas pantai direkomendasikan sebagai area/zona yang aman. Namun sebaliknya, ketiga pulau terdekat dari Blok Migas Masela yang menjadi wilayah dimana akan dibangun infrastruktur pendukung masih perlu dilakukan kajian lebih lanjut.
Sebagai contoh, Pulau Babar dan Pulau Tanimbar secara jangkauan jarak lebih dekat namun berada pada tataan geologi yang sangat dinamis hubungannya dengan patahan aktif dengan batuan dasar berupa batuan sedimen. Khusus unuk Pulau Babar juga terdapat gunung api lumpur. Berbeda dengan kedua pulau tersebut, Pulau Aru secara jangkauan jarak relatif lebih jauh terhadap Blok Migas Masela, akan tetapi potensi bencana yang ada tidak sebanyak dibandingkan kedua pulau sebelumnya, seandainya terjadi tsunami dari zona Banda ada potensi terlindungi oleh morfologi tinggian pulau ini dan juga batuan dasarnya lebih kuat. Tentu saja selain kondisi tersebut juga perlu mempertimbangkan keefektifaan dan efisiensi baik dari aspek biaya, ekonomi, sosial masyarakat, dll.
 
Beberapa pertanyaan dan masukan dari para peserta, secara umum topik diskusi terkait dengan berbagai fenomena geologi yang dipaparkan seperti halnya perbandingan fenomena geologi yang ada di sekitar Blok Migas Masela dan kejadian gempa Pidie Aceh yang sebelumnya jarang adanya kejadian gempa pada tataan geologi yang ada untuk memahami bagaimana proses kejadian dan efeknya. Selain itu juga membahas mengenai tambahan informasi geologi pada pulau-pulau di sekitar kawasan Blok Migas Masela dan bagaimana implikasinya terhadap studi ini. Semoga materi yang dipresentasikan pada seminar ini memberikan kontribusi dalam upaya mitigasi bencana yang berkaitan dengan keberadaan infrastruktur strategis yang akan dibangun di lokasi Blok Migas Masela, Maluku.
   
Sumber: Arief Prabowo

 
<Berita Terkini>