Berita Terkini Badan Geologi, Geological Agency of Indonesia, Badan Geologi, Geological Agency, Kementerian ESDM, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ministry of Energy and Mineral Resources of Republic of Indonesia http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini Thu, 13 Dec 2018 11:39:20 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management en-gb Laporan Kebencanaan Geologi 03 Desember 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1548-laporan-kebencanaan-geologi-03-desember-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1548-laporan-kebencanaan-geologi-03-desember-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Senin 3 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 150 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan - Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali Getaran Banjir
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 3 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Low Frekuensi- 5 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 8 kali gempa Tektonik Jauh- 7 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang - tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 500 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut dan Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 41 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Timurlaut -Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 335 kali gempa Letusan- 2 kali gempa Harmonik- gempa Tremor menerus dengan amplitudo 4-58 mm (dominan 56 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Desember 2018 pukul 16:18 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Baratdaya. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 29 kali gempa Guguran- 7 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 - 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timurlaut - Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Desember 2018 pukul 09:36 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Baratlaut.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 87 kali gempa Letusan- 80 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Guguran- 24 kali Tremor Harmonik - 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.  Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara2.  Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur3.  Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan 7 orang meninggal dunia di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara; 14 rumah rusak di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur; lalu lintas terhambat di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 17 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama*, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 49 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 150 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan - Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali Getaran Banjir
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 9 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 3 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Low Frekuensi- 5 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Lokal- 8 kali gempa Tektonik Jauh- 7 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang - tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 500 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut dan Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 41 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Timurlaut -Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 335 kali gempa Letusan- 2 kali gempa Harmonik- gempa Tremor menerus dengan amplitudo 4-58 mm (dominan 56 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Baratdaya. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 29 kali gempa Guguran- 7 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 - 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timurlaut - Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 8 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Desember 2018 tercatat:- 87 kali gempa Letusan- 80 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Guguran- 24 kali Tremor Harmonik - 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Desember 2018 pukul 16:18 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Desember 2018 pukul 09:36 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Baratlaut.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,  NTB, NTT, Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.  Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara*, 2.  Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur*, 3.  Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur*, 4. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, 5. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 6. Kabupaten  Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, 7. Kabupaten Agam,Provinsi  Sumatera Barat, 8. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung; 9.Kabupaten Magelang, Provinsi  Jawa Tengah, 10. Kabupaten Purworejo, Provinsi  Jawa Tengah, 11. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, 12. Kabupaten Tabanan, Provinsu Bali, 13. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 14. Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, 15. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 16.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 17. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 18. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 19. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 20. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY. 
*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Gerakan Tanah di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara
Longsor menerjang pemandian alam air panas Baur Paris di Desa Raja Berneh, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tujuh orang meninggal dunia tertimpa material longsor. Tanah longsor terjadi terjadi pada hari Minggu (02/12/2018) sekitar pukul 06.00 Wib.Longsor tersebut terjadi akibat hujan deras yang melanda wilayah Brastagi dan sekitarnya.
Sumber  : https://www.liputan6.com/regional/read/3797249/pemandian-alam-air-panas-di-karo-dihantam-longsor-7-orang-tewas
Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air, sistem pengaliran air permukaan (drainase) yang kurang tertata dengan baik dan  hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

2.  Gerakan Tanah di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, mengakibatkan belasan rumah tertimpa longsor. Tanah longsor terjadi terjadi pada hari Sabtu dini hari (01/12/2018).Kawasan yang tertimpa longsor menyebar di lima kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Longsor terjadi setelah hujan mengguyur selama 5 jam.Seni salah seorang warga Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, menyatakan longsor terjadi pada Sabtu dini hari. Suara gemuruh yang terdengar di belakang rumah membangunkan dirinya dan seluruh penghuni rumah. Mereka berhasil menyelamatkan diri.Tembok di bagian belakang kena, ada 4 rumah yg terkena longsor.Selain di Kecamatan Bendungan, longsor terjadi di Kecamatan Trenggalek, Bendungan, Kampak, Watulimo, dan Kecamatan Dongko. Ada 13 rumah yang terkena dampak longsor tersebut.
Sumber  : https://www.liputan6.com/news/read/3797063/diguyur-hujan-longsor-terjang-5-kecamatan-di-trenggalek

Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air, sistem pengaliran air permukaan (drainase) yang kurang tertata dengan baik dan dipicuh hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya 

3.  Gerakan Tanah di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur
Longsor terjadi di tebing tepi Jalan Raya Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Lumajang. Tumpukan tanah yang menutup jalan, membuat jalur Lumajang-Malang sempat terputus. Tanah longsor terjadi terjadi pada hari Sabtu dini hari (01/12/2018). Longsor terjadi akibat air hujan yang menggerus tanah di lereng-lereng curam.
Sumber : https://news.detik.com/jawatimur/4326093/tebing-longsor-jalur-lumajang-malang-sempat-putus
Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng yang terjal,tanah lapukan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air, sistem pengaliran air permukaan (drainase) yang kurang tertata dengan baik dan dipicuh dipicuh hujan dengan intensitas tinggi.
Rekomendasi :
• Segera melakukan pembersihan material longsoran di sekitar area gerakan tanah dan pencarian korban. 
• Warga yang bermukim di sekitar lokasi longsor dan berdekatan dengan tebing agar meningkatkan kewaspadan terutama ketika curah hujan tinggi dan mengungsi.
• Untuk ke depannya agar tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran.
• Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah, dan pemanfaatan lahan dengan pola tanam basah pada bagian atas dan kaki lereng.
• Dilakukan penataan sistem drainase.
• Dilakukan penataan sistem drainase.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan bagi pengguna jalan di sekitar lokasi longsor.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

PVMBG,

BADAN GEOLOGI, KESDM;
03 Desember 2018


Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Mon, 03 Dec 2018 05:31:35 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 02 Desember 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1547-laporan-kebencanaan-geologi-02-desember-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1547-laporan-kebencanaan-geologi-02-desember-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Minggu 2 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulknaik Dalam- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 2 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 150 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas tipis - sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Low Frekuensi- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang - tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 400 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 19 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Timurlaut -Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- gempa Tremor menerus dengan amplitudo 10-58 mm (dominan 56 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang - tebal. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 79 kali gempa Guguran- 15 kali gempa Hembusan- 7 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 - 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Desember 2018 pukul 09:36 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Baratlaut.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 100 kali gempa Letusan- 125 kali gempa Hembusan- 17 kali gempa Guguran- 6 kali Tremor Harmonik - 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur3. Kabupaten  Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah4. Kabupaten Agam,Provinsi  Sumatera Barat5. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  lalulintas terhambat di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh;  2 rumah rusak di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur; lalu lintas terhambat  di Kabupaten  Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah dan  Kabupaten Agam,Provinsi  Sumatera Barat;  satu rumah rusak, satu tertimbun,  satu korban luka-luka dan jalan tertimbun di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 17 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama*, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 49 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulknaik Dalam- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 2 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 150 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas tipis - sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timurlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Low Frekuensi- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 5 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali Getaran Banjir

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang - tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 400 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 19 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Timurlaut -Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- gempa Tremor menerus dengan amplitudo 10-58 mm (dominan 56 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang - tebal. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 79 kali gempa Guguran- 15 kali gempa Hembusan- 7 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 - 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Desember 2018 tercatat:- 100 kali gempa Letusan- 125 kali gempa Hembusan- 17 kali gempa Guguran- 6 kali Tremor Harmonik - 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Desember 2018 pukul 09:36 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Baratlaut.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,  NTB, NTT, Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh*, 2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur*, 3. Kabupaten  Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah*, 4. Kabupaten Agam,Provinsi  Sumatera Barat*, 5. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung*; 6.Kabupaten Magelang, Provinsi  Jawa Tengah, 7. Kabupaten Purworejo, Provinsi  Jawa Tengah, 8. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, 9. Kabupaten Tabanan, Provinsu Bali, 10. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 11. Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, 12. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 13.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 14. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 15. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 16. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 17. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY, 18. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta, 19. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat, 20. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat, 21. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat, 22. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah, 23. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY, 24.Kabupaten Murarara, Provinsi Sumatera Selatan, 25.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh
Longsor terjadi di ruas jalan nasional Bireuen-Takengon, tepatnya di kilometer 92, Kampung Kelupak Mata, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (30/11) sekira pukul 03.00 WIB. Akses sempat terputus total lantaran kondisi badan jalan yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan.
Sumber:http://aceh.tribunnews.com/2018/12/01/lintas-takengon-tertimbun-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
Longsor terjadi di Dusun Jengglik, Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Jumat (1/11) tengah malam.  Longsor terjadi pada tebing setinggi 20 meter di belakang rumah dan merusak dua unit rumah dibawahnya.
Sumber:https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4326005/rumah-di-trenggalek-rusak-diterjang-longsor-warga-gotong-royong
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten  Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Longsor terjadi di jalur jalan di Dusun Manguntapa, Desa Baleraksa, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (30/11/2018). Longsor menimpa tepi jalan alternatif penghubung Desa Tunjungmuli, Kramat, dan Sirau dengan Desa Baleraksa. Tanah di pinggir jalan sepanjang 10 meter amblas dengan kedalaman 30 meter.
Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2018/12/01/longsor-di-karangmoncol-purbalingga-polsek-karangmoncol-pasang-garis-polisi
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
Longsor terjadi di kawasan Jorong Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Sabtu (01/12) dini hari. Pinggir jalan raya KM 13 dari Bukittinggi ke Pasaman tepatnya Batang Palupuh, telah terjadi tanah longsor dengan tinggi tanah longsor lima meter dan panjang tujuh meter. Longsor ini terjadi akibat tingginya curah hujan di daerah Palupuh. Akibatnya, arus lalu lintas yang dari Sumbar menuju Sumut jadi terganggu
Sumber:https://www.viva.co.id/berita/nasional/1099383-longsor-jalur-penghubung-sumbar-dan-sumut-tak-bisa-dilintasi
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

5. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung
Longsor terjadi di jalan lintas barat (jalinbar) ruas Pekon Sedayu, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Sabtu 1 Desember 2018. Jalan yang tertutup longsoran sepanjang 35 meter dan empat tiang listrik roboh.  Di Dusun Sridadi tepatnya pada tikungan di atas rumah makan PKS grup. satu rumah rusak, satu rumah tertimbun tanah longsor, satu orang luka-luka dan material longsoran menutupi jalan.
Sumber:http://lampung.tribunnews.com/2018/12/01/lalu-lintas-lumpuh-jalinbar-sedayu-tertutup-longsor-dan-4-tiang-listrik-roboh
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Berhati-hati ketika melakukan pembersihan material longsoran karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
• Perbaikan dan perkuatan lereng sebaiknya dilakukan untuk penanggulangan longsor;
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
02 Desember 2018


Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Sun, 02 Dec 2018 05:26:39 +0000
Tanggapan Kejadian Gempa Bumi di Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku Tanggal 01 Desember 2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1546-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-di-timurlaut-maluku-barat-daya-maluku-tanggal-01-desember-2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1546-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-di-timurlaut-maluku-barat-daya-maluku-tanggal-01-desember-2018

Bersama ini, kami sampaikan laporan tanggapan terjadinya gempa bumi di Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku, berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG,  dan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, sebagai berikut:

I. Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018, pukul 20:27:20 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  7,66° LS  dan 128,83° BT, dengan magnitudo 6,5 pada kedalaman 162 km, berjarak 275 km Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku. 

II. Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi
Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan gunung api Kuarter, sedimen dan metamorf Tersier sampai Pra Tersier. Sebagian besar endapan tersebut telah tersesarkan dan terlapukkan. Pada endapan yang terlapukkan dan tersesarkan diperkirakan guncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.

III. Penyebab gempa bumi
Berdasarkan kedalaman pusatnya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi aktivitas zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.

IV. Dampak gempa bumi
Menurut BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Tiakur sebesar III-IV MMI ( Modified Mercalli Intensity), Saumlaki, Soe dan Atambua sebesar III MMI, Ambon sebesar II MMI serta di Kalabahi sebesar I-II MMI. Hingga tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat guncangan gempa bumi ini.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun pusat gempa bumi berada di laut, tetapi diperkirakan tidak terjadi dislokasi dasar laut.

V. Rekomendasi
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi-KESDM



Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Sat, 01 Dec 2018 05:22:47 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 01 Desember 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1545-laporan-kebencanaan-geologi-01-desember-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1545-laporan-kebencanaan-geologi-01-desember-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Sabtu 1 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 500 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tornillo- 3 kali gempa Tektonik Jauh (1 kali diantaranya gempa terasa pada skala II MMI)
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulknaik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 1 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas tipis - sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali gempa Harmonik- 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 32 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Baratdaya dan Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 22 kali gempa Vulkanik Dalam- gempa Tremor menerus dengan amplitudo 2-58 mm (dominan 56 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang - tebal. Angin bertiup lemah ke arah Barat Daya, Utara dan Barat. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 45 kali gempa Guguran- 13 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 - 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Selatan - Baratdaya.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 November 2018 pukul 18:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 100 kali gempa Letusan- 90 kali gempa Hembusan- 29 kali gempa Guguran- 42 kali Tremor Harmonik 

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Magelang, Provinsi  Jawa Tengah2. Kabupaten Purworejo, Provinsi  Jawa Tengah3. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur4. Kabupaten Tabanan, Provinsu Bali5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
Penyebab: Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kondisi tanah/ batuan yang lemah,  fondasi turap yang kurang kuat,curah hujan yang tinggi sebelum dan sesudahnya
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan satu rumah rusak di Kabupaten Magelang, Provinsi  Jawa Tengah; dua rumah rusak dan 4 terancam di Kabupaten Purworejo, Provinsi  Jawa Tengah; dua rumah rusak di Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur; jalan tertutup longsor,di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali; lalu lintas terhambat di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Baratdaya Muko-muko, Bengkulu 
Informasi gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jum'at, 30 November 2018 pukul 21:49 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 100,85°BT dan 3,12°LS (83 km BaratDaya Muko-Muko, Bengkulu), dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 83 km. Berdasarkan GFZ, Jerman,  pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,03° BT dan 2,98° LS, dengan magnitudo 4,8 Mw pada kedalaman 47 km. Berdasarkan informasi dari USGS, Amerika Serikat pusat gempa bumi berada pada koordinat 100,897°BT dan 2,974°LS dengan magnitudo M4,8 pada kedalaman 44,6 km.   Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi. 
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi aktivitas pada zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia di perairan barat Sumatera.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Muko-muko dengan intensitas II-II MMI dan di Kota Padang sebesar II MMI. Gempa bumi ini tidak memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat belum dilaporkan adanya kerusakan bangunan maupun korban jiwa atau luka akibat gempa bumi.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunungapi


Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 17 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama*, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 49 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 500 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tornillo- 3 kali gempa Tektonik Jauh (1 kali diantaranya gempa terasa pada skala II MMI)
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Vulknaik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 1 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas tipis - sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 13 kali gempa Tektonik Jauh- 1 kali gempa Harmonik- 1 kali Getaran Banjir

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 32 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Baratdaya dan Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 22 kali gempa Vulkanik Dalam- gempa Tremor menerus dengan amplitudo 2-58 mm (dominan 56 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang - tebal. Angin bertiup lemah ke arah Barat Daya, Utara dan Barat. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 45 kali gempa Guguran- 13 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 200 - 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Selatan - Baratdaya.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 8 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 30 November 2018 tercatat:- 100 kali gempa Letusan- 90 kali gempa Hembusan- 29 kali gempa Guguran- 42 kali Tremor Harmonik 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 November 2018 pukul 18:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,  NTB, NTT, Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 1.Kabupaten Magelang, Provinsi  Jawa Tengah*, 2. Kabupaten Purworejo, Provinsi  Jawa Tengah*, 3. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur*, 4. Kabupaten Tabanan, Provinsu Bali*, 5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur*, 6. Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, 7. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 8.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 9. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 10. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 11. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 12. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY, 13. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta, 14. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat, 15. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat, 16. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat, 17. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah, 18. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY, 19.Kabupaten Murarara, Provinsi Sumatera Selatan, 20.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 21.Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh .
*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Bencana tanah longsor terjadi di Dusun Mangkli 1, Desa Mangkli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jumat (30/11/2018) dini hari tadi. Tebing setinggi 10 meter dengan panjang delapan meter longsor dan menimpa dinding salah satu rumah milik warga. Penghuni rumah selamat, tetapi rumah mengalami kerusakan ringan.Sebelumnya hujan lebat mendera di wilayah Kecamatan Kaliangkrik dan sekitarnya.Hal tersebut membuat tebing setinggi 10 meter dengan panjang delapan meter yang ada di samping rumah Darwanto (40), warga setempat, tiba-tiba longsor.Material longsor pun menimpa dinding bagian depan dan teras rumah."Hujan dengan intensitas sedang sampai lebat yang terjadi di wilayah Kecamatan Kalingakrik sejak sore sampai dini hari tadi, mengakibatkan tebing yang ada di samping rumah warga longsor dan mengenai dinding pada bagian depan dan teras rumah," ujar Edy, Jumat (30/11/2018).
Sumber berita: http://jogja.tribunnews.com/2018/11/30/longsor-di-kaliangkrik-rusak-satu-rumah-warga
Gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal serta dipicu oleh hujan yang deras.

2. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Dua rumah warga di  Desa Sokoagung, Kecamatan Bagelan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, rusak akibat diterjang longsor, Kamis (29/11/2018). Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur desa tersebut selama beberapa jam. Selain merusak dua rumah warga, longsor dari bukit setinggi 15 meter tersebut juga mengancam empat rumah warga lainnya. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.Longsor tersebut juga memaksa penghuni dua rumah tersebut kini mengungsi ke rumah kerabat mereka lantaran kondisi rumahnya tak bisa ditinggali lagi.Korban longsor, Sidik menuturkan, bencana longsor itu bermula saat hujan deras mengguyur sejak Kamis pagi. Setelah hujan mulai reda, tanah dari bukit setinggi 15 meter di belakang rumahnya tiba-tiba longsor.Menurut Sidik, sebelum terjadi longsor tanah di bukit tersebut mengalami retak-retak. “Memang ada beberapa tanah di bukit ini yang retak-retak. Mungkin pas kemasukan air tanahnya jadi gembur dan longsor,” ucapnya.
Sumber: https://www.inews.id/daerah/jateng/diguyur-hujan-deras-2-rumah-di-purworejo-rusak-diterjang-longsor/369113
Gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal serta dipicu oleh hujan yang deras serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

3. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
Hujan deras yang mengguyur semalam, membuat tebing setinggi 6 meter di Desa Pagerwojo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, longsor dan menimpa 2 rumah.Tembok bagian belakang rumah milik Kaslan (64) dan Sinto (60) jebol terkena runtuhan material longsor.Hingga saat ini warga sekitar masih belum berani membersihkan material longsor. Kondisi tanah yang masih labil bisa menyebabkan terjadinya longsor susulan.Salah seorang pemilik rumah, Kaslan menuturkan, peristiwa longsor ini terjadi dini hari sekitar pukul 01.30 WIB. Saat kejadian mereka sudah berada di luar rumah karena khawatir akan terjadi longsor. Intensitas hujan tinggi yang terjadi sejak sore, membuat mereka memilih untuk tidak berada di dalam rumah.
Untuk sementara waktu. Kaslan bersama keluarga berencana untuk mengungsi di rumah salah seorang keluarganya. Mereka khawatir longsor susulan akan terjadi, dan semakin memperparah kondisi rumah.Struktur tanah yang kurang kuat menyebabkan longsor mudah terjadi, terutama saat hujan deras.
Sumber:https://jatimnow.com/baca-9637-diguyur-hujan-deras-2-rumah-di-tulungagung-tertimpa-longsoran-tanah
Gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal serta dipicu oleh hujan yang deras serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

4. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali
Akibat hujan lebat yang mengguyur Bali khususnya Tabanan, tanah longsor disertai pohon tumbang terjadi di jalan penghubung antara Banjar Beng, Desa Marga, dengan Desa Selanbawak, Jumat (30/11/2018) pagi.Menerima laporan tersebut, polisi bersama petugas Tagana langsung mengecek ke lapangan untuk melakukan evakuasi. Tanah longsor dan pohon tumbang menutup jalan di sebelah barat ujung jembatan yang menghubungkan dari Banjar Beng, Desa Marga menuju Desa Selanbawak, Kecamatan Marga. Peristiwa ini diduga akibat curah hujan yang cukup tinggi.
Sumber:http://bali.tribunnews.com/2018/11/30/jalan-penghubung-desa-marga-dan-desa-selanbawak-tertutup-material-longsor-dan-pohon-tumbang
Gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal serta dipicu oleh hujan yang deras.

5.Kabupaten  Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
Arus Ponorogo-Trenggalek pada Jumat (30/11/2018) sejak subuh mulai dibuka. Jalur ini sempat ditutup pada Kamis (29/11/2018) karena longsor setelah hujan deras mengguyur wilayah ini sejak sore.
Begitu terjadi longsor, sejumlah petugas yang bersiaga melakukan pembersihan. Karena itulah, sejak pagi jalur ini sudah bisa dilewati kembali.
KM 16 ini adalah jalur yang rawan longsor. Lokasinya berada di tepi tebing yang rawan ambrol. Sejak memasuki musim hujan, jalur ini telah berkali-kali longsor dan harus dibuka tutup.
Pada jalur ini sedang dilaksanakan pembangunan.Di antaranya pembuatan plengseng untuk mencegah longsor di tebing sekitar jalan. "Sejak tadi pagi sudah bisa dilewati. Personel dari polsek setempat masih tetap berjaga," ungkap Edi.
Sumber:http://beritajatim.com/peristiwa/345665/sempat_ditutup_akibat_longsor,_jalur_ponorogo-trenggalek_dibuka_lagi.html
Gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal serta dipicu oleh hujan yang deras.
Rekomendasi:
• Masyarakat agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Diperlukan perkuatan lereng atau penahan lereng dan perbaikan drainase untuk menanggulangi gerakan tanah;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Masyarakat dan pengguna jalan disekitarnya mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

PVMBG,

BADAN GEOLOGI, KESDM;
1 Desember 2018


Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Sat, 01 Dec 2018 05:15:40 +0000
Tanggapan Kejadian Gempa Bumi di Baratdaya Muku-Muko, Bengkulu, Tanggal 30 November 2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1544-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-di-baratdaya-muku-muko-bengkulu-tanggal-30-november-2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1544-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-di-baratdaya-muku-muko-bengkulu-tanggal-30-november-2018


1. Informasi gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Jum'at, 30 November 2018 pukul 21:49 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada pada koordinat 100,85°BT dan 3,12°LS (83 km BaratDaya Muko-Muko, Bengkulu), dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 83 km. Berdasarkan GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman,  pusat gempa bumi terletak pada koordinat 101,03° BT dan 2,98° LS, dengan magnitudo 4,8 Mw pada kedalaman 47 km. Berdasarkan informasi dari United State of Geological Survey (USGS), Amerika Serikat pusat gempa bumi berada pada koordinat 100,897°BT dan 2,974°LS dengan magnitudo M4,8 pada kedalaman 44,6 km.   

2. Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi. 

3. Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi ini berasosiasi aktivitas pada zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia di perairan barat Sumatera.

4. Dampak gempa bumi:
Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Muko-muko dengan intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity) dan di Kota Padang sebesar II MMI. Gempa bumi ini tidak memicu tsunami karena energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan dislokasi di dasar laut. Hingga tanggapan ini dibuat belum dilaporkan adanya kerusakan bangunan maupun korban jiwa atau luka akibat gempa bumi.

5. Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi - KESDM


Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Fri, 30 Nov 2018 05:10:24 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 30 November 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1543-laporan-kebencanaan-geologi-30-november-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1543-laporan-kebencanaan-geologi-30-november-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Jumat 30 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 50 - 200 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur, Barat, Selatan dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 30 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 15 hingga 50 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 10 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 51 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati letusan, warna asap hitam, intensitas tebal, tinggi 500 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Barat Laut danTimur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 7 kali gempa Letusan- 13 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 31 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 400 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tebal. Angin bertiup lemah ke arah Barat Daya, Tenggara dan Selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 54 kali gempa Guguran- 16 kali gempa Hembusan- 6 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 4 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 November 2018 pukul 18:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 99 kali gempa Letusan- 142 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Guguran- 2 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 5 – 27 mm- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, 2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
Penyebab: Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kondisi tanah/ batuan yang lemah,  fondasi turap yang kurang kuat,curah hujan yang tinggi sebelum dan sesudahnya
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan jalan terputus  di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah; rumah warga rusak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah;  akses jalan tertutup di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat; satu rumah tertimpa longsor  di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah; 2 unit rumah rusak akibat tertimpa tanggul  yang longsor di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Perairan Selatan Yogyakarta
Informasi gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 30 November 2018 pukul 03:42 WIB. BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  8,84°LS dan 109,74°BT (124 km sebelah Barat Daya Kabupaten Bantul, Yogyakarta), dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 18 km. 
Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah selatan Provinsi DI Yogyakarta. Wilayah tersebut disusun oleh batuan karbonat, batuan sedimen dan batuan gunungapi berumur Tersier serta batuan sedimen dan batuan gunungapi berumur Kuarter. Batuan berumur Tersier yang telah terlapukan serta batuan berumur muda pada umumnya bersifat urai dan dapat mengamplifikasi guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:Berdasarkan BMKG guncangan gempa bumi dirasakan di Kulonprogo, Yogyakarta, dan Bantul dengan intensitas III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

2) Gempa bumi di baratdaya Kep. Nias, Sumatera Utara 
Informasi gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 30 November 2018 pukul 03:21 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  0,13°LU dan 96,85°BT (120 km sebelah barat daya Kep. Nias), dengan magnitudo 5.9 pada kedalaman 10 km. Berdasarkan informasi dari GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,2°LU dan 97,07°BT, dengan magnitudo 5.7 dan kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di laut, di pantai barat Pulau Sumatera. Berdasarkan tatanan tektoniknya, daerah pusat gempa dipengaruhi oleh zona penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Secara geologi, daerah sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, serta batuan sedimen berumur Tersier dan batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat lepas dan akan memperkuat guncangan gempa bumi. 
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia di Pantai barat Sumatera.
Dampak gempa bumi:Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 17 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama*, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 50 - 200 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur, Barat, Selatan dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 30 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 15 hingga 50 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 10 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 51 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati letusan, warna asap hitam, intensitas tebal, tinggi 500 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Barat Laut danTimur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 7 kali gempa Letusan- 13 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 31 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 400 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tebal. Angin bertiup lemah ke arah Barat Daya, Tenggara dan Selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 54 kali gempa Guguran- 16 kali gempa Hembusan- 6 kali gempa Low Frequency- 4 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 4 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 29 November 2018 tercatat:- 99 kali gempa Letusan- 142 kali gempa Hembusan- 28 kali gempa Guguran- 2 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 5 – 27 mm- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 November 2018 pukul 18:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur*, 2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*, 3.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, 4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 6. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 5. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY, 8. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta, 9. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat, 11. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat, 12. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah, 13. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY, 14.Kabupaten Murarara, Provinsi Sumatera Selatan, 15.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 16.Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh , 17.Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat , 18.Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 19.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
Longsoran terjadi dengan perlahan, hingga akhirnya memutus jalur jalan Sangasanga-Muara Jawa, bahkan sampai saat ini tanah terus bergerak. Selain membuat jalur transportasi darat terputus, akibat kejadian itu juga membuat lima unit rumah warga RT 9, Kelurahan Jawa, Kecamatan Sanga Sanga, Kutai Kartanegara yang berada di pinggir jalan terkubur longsor.
Sumber berita: Kaltim.tribunnews.com/2018/11/29/rumah-yang-terkubur-longsor-di-sangasanga-lokasinya-tak-jauh-dari-kawasan-tambang 
Gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal serta dipicu oleh hujan yang deras dan kondisi geologi diperkirakan batulempung.

2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Jalan retak, kata Hasby, kurang lebih sepanjang 50 meter. Lokasinya di titik yang sedang dilakukan perbaikan karena sebelumnya juga pernah terjadi longsor yakni di wilayah Riung Gunung, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Kejadian ini terjadi pada hari Rabu, 28 November 2018. Akibatnya arus lalu lintas dari Cianjur – Puncak – Bogor terganggung.  
Sumber :https://metro.tempo.co/read/1150633/jalan-retak-jalur-puncak-terancam-longsor-lagi Gerakan tanah diperkirakan tipe rayapan yang ditandai munculnya retakan pada jalan dan bisa berkembang menjadi longsoran. Faktor penyebab longsor diperkirakan lereng yang terjal, dan kondisi geologi daerahnya rawan longsor terbukti sering terjadi  longsor pada jalur ini serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan disekitarnya mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Diperlukan perkuatan lereng atau penahan lereng dan perbaikan drainase untuk menanggulangi gerakan tanah;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Pengguna jalan sebaiknya menghindari jalur ini karena daerah tersebut rawan longsor dan bisa menggunakan jalur alternatif Jonggol-Cariu-Sukabumi.
• Jika diperlukan diberlakukan sistem buka tutup pada saat atau setelah turun hujan atau sebaiknya diberlakukan sistem buka tutup dan satu jalur untuk mengurangi risiko bencana;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
• Melakukan perbaikan sistem drainase dan penguatan lereng untuk menanggulangi longsor;
• Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
• Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
30 November 2018


Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Fri, 30 Nov 2018 05:04:54 +0000
Tanggapan Gempa Bumi di Barat Daya Kep. Nias, Sumatra Utara, Tanggal 30 November 2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1542-tanggapan-gempa-bumi-di-barat-daya-kep-nias-sumatra-utara-tanggal-30-november-2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1542-tanggapan-gempa-bumi-di-barat-daya-kep-nias-sumatra-utara-tanggal-30-november-2018


I. Informasi gempa bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 30 November 2018 pukul 03:21 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada pada koordinat  0,13°LU dan 96,85°BT (120 km sebelah barat daya Kep. Nias), dengan magnitudo 5.9 pada kedalaman 10 km. Berdasarkan informasi dari GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,2°LU dan 97,07°BT, dengan magnitudo 5.7 dan kedalaman 10 km. 

II. Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi
Pusat gempa bumi berada di laut, di pantai barat Pulau Sumatera. Berdasarkan tatanan tektoniknya, daerah pusat gempa dipengaruhi oleh zona penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Secara geologi, daerah sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, serta batuan sedimen berumur Tersier dan batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat lepas dan akan memperkuat guncangan gempa bumi. 

III. Penyebab gempa bumi
Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi ini berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia di Pantai barat Sumatera.

IV. Dampak gempa bumi:
Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

V. Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi - KESDM



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Fri, 30 Nov 2018 05:00:28 +0000
Tanggapan Gempa Bumi di Perairan Selatan Yogyakarta Tanggal 30 November 2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1541-tanggapan-gempa-bumi-di-perairan-selatan-yogyakarta-tanggal-30-november-2018 http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1541-tanggapan-gempa-bumi-di-perairan-selatan-yogyakarta-tanggal-30-november-2018


Bersama ini disampaikan tanggapan kejadian gempa bumi di perairan selatan Yogyakarta berdasarkan informasi dari berbagai sumber dan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, sebagai berikut:

I. Informasi gempa bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 30 November 2018 pukul 03:42 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada pada koordinat  8,84°LS dan 109,74°BT (124 km sebelah Barat Daya Kabupaten Bantul, Yogyakarta), dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 18 km. 

II. Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:
Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah selatan Provinsi DI Yogyakarta. Wilayah tersebut disusun oleh batuan karbonat, batuan sedimen dan batuan gunungapi berumur Tersier serta batuan sedimen dan batuan gunungapi berumur Kuarter. Batuan berumur Tersier yang telah terlapukan serta batuan berumur muda pada umumnya bersifat urai dan dapat mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

III. Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

IV. Dampak gempa bumi:
Berdasarkan BMKG guncangan gempa bumi dirasakan di Kulonprogo, Yogyakarta, dan Bantul dengan intensitas III MMI (Modified Mercalli Intensity). Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

V. Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi - KESDM


Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Fri, 30 Nov 2018 04:49:36 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 29 November 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1540-laporan-kebencanaan-geologi-29-november-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1540-laporan-kebencanaan-geologi-29-november-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Kamis 29 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 200 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis hingga tebal, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara, Timur, Barat, Barat Daya dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 29 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 hingga 250 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas sedang hingga tebal, tekanan asap lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 11 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tekanan asap lemah, dan tinggi sekitar 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat Laut, Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 40 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 16 kali gempa Vulkanik Dangkal- 12 kali gempa Vulkanik Dalam- 4 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur Laut, Tenggara dan Selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 51 kali gempa Guguran- 12 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 3 kali gempa Hybrid- 2 kali gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tekanan lemah hingga sedang,  dan tinggi sekitar 600 - 800 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi sekitar 600 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 8 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 November 2018 pukul 18:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 88 kali gempa Letusan- 81 kali gempa Hembusan- 37 kali gempa Guguran- 35 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 5 – 27 mm

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah 3. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat 4. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah5. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY
Penyebab: Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kondisi tanah/ batuan yang lemah,  fondasi turap yang kurang kuat,curah hujan yang tinggi sebelum dan sesudahnya
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan jalan terputus  di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah; rumah warga rusak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah;  akses jalan tertutup di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat; satu rumah tertimpa longsor  di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah; 2 unit rumah rusak akibat tertimpa tanggul  yang longsor di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 17 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 49 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 200 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis hingga tebal, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara, Timur, Barat, Barat Daya dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 1 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 29 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 hingga 250 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas sedang hingga tebal, tekanan asap lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Tenggara dan Selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 11 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tekanan asap lemah, dan tinggi sekitar 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat Laut, Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 40 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 6 kali gempa Hembusan- 16 kali gempa Vulkanik Dangkal- 12 kali gempa Vulkanik Dalam- 4 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur Laut, Tenggara dan Selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 51 kali gempa Guguran- 12 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 3 kali gempa Hybrid- 2 kali gempa Tektonik Lokal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tekanan lemah hingga sedang,  dan tinggi sekitar 600 - 800 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi sekitar 600 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 8 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 28 November 2018 tercatat:- 88 kali gempa Letusan- 81 kali gempa Hembusan- 37 kali gempa Guguran- 35 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 5 – 27 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 November 2018 pukul 18:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah*, 2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah*, 3. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*, 4. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah*, 5. Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY*, 6. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta, 7. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat, 8. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat, 9. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat, 10. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah, 11. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY, 12.Kabupaten Murarara, Provinsi Sumatera Selatan, 13.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 14.Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh , 15.Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat , 16.Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 17.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 18.Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, 19.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 20.Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi 
*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi didua lokasi yang berbeda, yaitu di Desa Kalikesur RT.1 RW.1, Kec. Kedungbanteng pada hari Rabu 28 November 2018 pagi hari. Gerakan tanah tersebut mengkibatkan jalan terputus sepanjang 25 meter dengan lebar 6 meter sehingga lalu lintas Kalikesur-Windujaya putus total tidak bisa dilalui kendaraan. Gerakan tanah juga terjadi di Desa Windujaya RW.5 jalan penghubung antar RT ambles sepanjang 25 meter deang lebar 4 meter sehingga jalan putus total tidak bisa dilalui kendaraan.
Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2018/11/28/longsor-putus-jalan-di-dua-desa-di-banyumas?page=2
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Dusun Kalipucung Wetan RT.01 RW.12, Desa Kalirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 27 November 2018 pukul 15.00 WIB sore hari yang mengkibatkan tebing setinggi 3 meter, lebar 20 meter dan panjang 15 meter longsor dan merusak 1 unit rumah warga yang berada dibawahnya.
Sumber :http://jogja.tribunnews.com/2018/11/28/longsor-di-salaman-rusak-rumah-warga
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

3. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di tebing jalan yang menghubungkan Kecamatan Cibinong – Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu 28 November 2018 yang mengakibatkan tebing jalan longsor dan akses jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan akibat tertutup sempat ditutup sementara waktu sampai material longsor dibersihkan.
Sumber :http://jabar.tribunnews.com/2018/11/28/hujan-deras-mengguyur-cianjur-membuat-tebing-longsor-dan-sempat-memutus-jalur-cibinong-sindangbarang
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

4. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Dusun Begulon RT.03 RW.05, Desa Kramat, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 27 November 2018 sore hari yang mengakibatkan fondasi bahu jalan sepanjang 20 meter longsor dengan tinggi 5 meter menimpa 1 unit rumah yang berada dibawahnya.
Sumber :https://daerah.sindonews.com/read/1358164/22/rumah-warga-temanggung-rusak-tertimpa-longsor-1543372475
Penyebab gerakan tanah diduga akibat fondasi turap yang kurang kuat untuk menahan tebing dan penataan air permukaan yang kurang baik. Selain itu dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di daerah tersebut. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan.

5.Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY
Gerakan tanah terjadi di Dusun Manggung, Desa Tileng, Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunungkidul. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu 28 November 2018 dini hari pukul 00.30 WIB yang mengakibatkan tanggul ambrol sepanjang 25 meter dan menimpa 2 unit rumah yang berada dibawahnya.
Sumber :http://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2018/11/28/513/955581/tanggul-longsor-timpa-2-rumah-warga-girisubo-gunungkidul
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanggul yang kurang kuat menahan lereng dan aliran air permukaan yang kurang baik  juga dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan.• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek.
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing.
• Penghuni rumah sebaiknya mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman dari bencana gerakan tanah terutama pada saat turun hujan deras dengan durasi yang cukup lama.
• Masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau lereng yang terjal agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi longsor susulan;
• Membuat turap/dinding penahan lereng dengan fondasi yang kuat dan  yang mengikuti kaidah-kaidah geotek.
• Tidak membuat saluran drinase yang langsung membuang air ke daerah bencana atau sekitar tebing;
• Segera membersihkan material longsoran dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan.
• Penghuni rumah sebaiknya mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman dari bencana gerakan tanah terutama pada saat turun hujan deras dengan durasi yang cukup lama.
• Masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau lereng yang terjal agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi longsor susulan;
• Membuat turap/dinding penahan lereng dengan fondasi yang kuat dan  yang mengikuti kaidah-kaidah geotek;
• Penataan kembali aliran permukaan dan tidak membuat saluran drinase yang langsung membuang air ke daerah bencana atau ke rumah yang berada dibawahnya;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM;
29 November 2018


Kasbani



Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Thu, 29 Nov 2018 04:43:35 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 28 November 2018 (06:00 WIB) http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1539-laporan-kebencanaan-geologi-28-november-2018-0600-wib http://geologi.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1539-laporan-kebencanaan-geologi-28-november-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Rabu 28 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 300 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tebal, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tornillo- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Hembusan
Tanggal 28 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas sedang. Angin bertiup lemah ke arah Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tremor Non Harmonik- 8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut, Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 23 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Timur, dan Barat Daya.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- 7 kali gempa Hembusan- 25 kali gempa Vulkanik Dangkal- 8 kali gempa Vulkanik Dalam- 16 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah ke arah Barat Daya, Barat dan Barat Laut. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 48 kali gempa Guguran- 15 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, tekanan sedang,  dan tinggi sekitar 200 - 600 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 6 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 November 2018 pukul 17:38 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 117 kali gempa Letusan- 150 kali gempa Hembusan- 23 kali gempa Guguran- 3 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 7 – 23 mm- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  November  2018  yang dibandingkan bulan  Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta2. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat3. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat4. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat5. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah6. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY
Penyebab: Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kondisi tanah/ batuan yang lemah, erosi sungai curah hujan yang tinggi sebelum dan sesudahnya
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan dua motor tertimbun longsor di Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta ; lima rumah rusak, 12 yang lain terancam , saluran irigasi  sejumlah kolam ikan dan sawah warga tertimbun  di Kabupaten  Ciamis , Provinsi Jawa Barat; lima rumah amblas di Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat; ua rumah milik warga setempat mengalami rusak ringan di Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah; lalu lintas terhambat di Kabupaten Sleman , Provinsi DIY
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 2 (dua) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.c. Sebanyak 18 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 300 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tebal, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tornillo- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, tekanan lemah, intensitas asap tipis, dengan tinggi kolom asap 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Hembusan
Tanggal 28 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas kawah puncak, berwarna putih, intensitas sedang. Angin bertiup lemah ke arah Utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tremor Non Harmonik- 8 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 100 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut, Timur dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 23 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Utara, Timur, dan Barat Daya.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- 7 kali gempa Hembusan- 25 kali gempa Vulkanik Dangkal- 8 kali gempa Vulkanik Dalam- 16 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah ke arah Barat Daya, Barat dan Barat Laut. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 48 kali gempa Guguran- 15 kali gempa Hembusan- 4 kali gempa Low Frequency- 2 kali gempa Hybrid
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, tekanan sedang,  dan tinggi sekitar 200 - 600 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi sekitar 200 – 600 m di atas puncak berwarna putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 3 kali gempa Letusan- 2 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 6 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 November 2018 tercatat:- 117 kali gempa Letusan- 150 kali gempa Hembusan- 23 kali gempa Guguran- 3 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo 7 – 23 mm- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(4) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.
(5) G. Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 November 2018 pukul 10:44 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timurlaut.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 November 2018 pukul 17:38 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta*, 2. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat*, 3. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat*, 4. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat*, 5. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah*, 6. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY*, 7.Kabupaten Murarara, Provinsi Sumatera Selatan, 8.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 9.Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh , 10.Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat , 11.Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 12.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 13.Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, 14.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 15.Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, 16.Kabupaten Limapuluh Koto, Provinsi Sumatera Barat.

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1. Kota Jakarta Timur , Provinsi DKI Jakarta
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di kompleks Perumahan Pesona Kalisari, Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, dikarenakan sebuah lubang yang ada di jalan depan rumah korban yang bernomor 278 di RT 007/RW 005, Senin (26/11/2018). Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun dua unit sepeda motor yang diparkir di dalam garasi turut terseret dan akhirnya tertimbun longsoran.
Sumber:https://elshinta.com/news/162025/2018/11/27/longsor-pasar-rebo-karena-sebuah-lubang-di-depan-rumah;https://kompas.id/baca/utama/2018/11/27/hujan-deras-picu-longsor/;https://www.aspiranesia.com/2018/11/longsor-di-perumahan-kalisari-jakarta.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah struktur tanah yang labil, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

2. Kabupaten Garut , Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada Tembok Penahan Tanah (TPT) menyebabkan satu rumah warga tertimbun dan beberapa rumah warga lainnya terancam terdampak longsor di Desa Dangian, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (26/11/2018). longsoran tanah dan ambrolnya TPT setinggi 9 meter itu terjadi setelah hujan deras mengguyur Banjarwangi dan wilayah selatan Garut lainnya.Longsoran tanah itu, terjadi di Kampung Cikoleang, Desa Dangiang, Kecamatan Banjarwangi, Garut, sekitar pukul 01.00 WIB.
Sumber:https://jabar.antaranews.com/berita/76903/longsor-tembok-penahan-tanah-timbun-rumah-warga-di-garut
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

3. Kabupaten Ciamis , Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di beberapa titik, tersebar di empat kecamatan di kabupaten Ciamis, Senin (26/11/2018). longsor tebing setinggi 15 meter terjadi di Desa Sindangherang, Kecamatan Panumbangan. Longsor menimpa satu rumah dan mengancam tujuh rumah lainnya di sekitaran tebing.  Di Kecamatan Cikoneng, longsor tebing tanah terjadi di sembilan titik meliputi Dusun Cikuda, Dusun Babakan, Dusun Sigung 2 dan Dusun Palasari. Sebanyak tiga rumah terdampak dan lima rumah terancam. Longsoran tebing tanah tersebut juga menimbun saluran irigasi. Longsor tebing setinggi tujuh meter menimpa dua rumah warga di kawasan Sindangkasih. Selain itu, tanah longsor melanda Dusun Tonggoh berlokasi di Kecamatan Sadanaya. Longsoran menimbun sejumlah kolam ikan dan sawah warga.
Sumber:https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4318975/5-rumah-rusak-diterjang-longsor-di-ciamis
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu erosi sungai yang tinggi.

4. Kabupaten Purwakarta , Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi terhadap lima rumah warga di Kampung Warung Desa Parakansalam, Kecamatan Pondoksalam Purwakarta amblas bersama longsoran tanah sedalam sekitar 7 meter. Peristiwa terjadi pada Minggu (25/11) malam
Sumber:http://www.purwasukanews.com/purwasuka/item/1261-longsor-di-pondoksalam,-lima-rumah-amblas
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu curah hujan yang tinggi.

5. Kabupaten Wonosobo , Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah/ Tanah Longsor menimpa salah satu warga Dusun Majaina, Desa Pasodongan, Kecamatan Kaliwiro, Selasa (27/11/2018). longsor diduga disebabkan hujan deras yang terjadi sejak siang hari. Akibatnya talud pondasi jalan kabupaten setinggi 8 meter dengan panjang 13 meter yang berada di sebelah utara rumah korban longsor. Material longsoran menimpa dinding rumah korban sehingga mengakibatkan tembok ruang tamu rusak. Akibatnya dua rumah milik warga setempat mengalami rusak ringan.
Sumber:http://wonosobo.sorot.co/berita-3019-link-.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu curah hujan yang tinggi.

6. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY
Gerakan tanah/ Tanah Longsor di jalur penghubung Kopeng. Kepuharjo ke Wilayah Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Selasa (27/11/2018) pukul 11.00 WIB
Sumber:https://twitter.com/starjogja
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi: 
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana agar waspada dan berhati-hati, khususnya pada keadaan hujan;
• Pembersihan Material longsoran;
• Membuat penahan lereng dan pengatuan drainase;
• Memelihara tanaman berakar dalam dan kuat;
• Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Memperkuat kestabilan lereng, membuat penahan lereng, dan pengatuan drainase;
• Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.

PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM; 
28 November 2018


Kasbani



Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Wed, 28 Nov 2018 04:38:50 +0000