Semarang, Jawa Tengah – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkuat upaya pengelolaan dan memperluas akses informasi air tanah untuk masyarakat melalui soft launching Sistem informasi Air tanah Terpadu Indonesia, yang disebut sebagai ARTESIS. Soft launching ARTESIS dilaksanakan pada Rabu (29/7/2026) dalam rangkaian acara The 11th International Conference on Energy, Environment and Information System (ICENIS 2026) dan Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-8 Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) di Semarang, Jawa Tengah. Pengenalan ARTESIS menjadi salah satu langkah Badan Geologi dalam menjawab tantangan pengelolaan air tanah, terutama di wilayah perkotaan dan industri yang mengalami peningkatan kebutuhan air. “Air tanah bukan sumber daya yang dapat kita gunakan tanpa batas. Ada pepatah yang mengingatkan bahwa generasi kita tidak memiliki air tanah, kita hanya meminjamnya dari generasi yang akan datang. Karena itu, menjaga air tanah hari ini merupakan komitmen bersama untuk memastikan air tanah dikelola secara berkelanjutan,” ujar Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Ia menceritakan bagaimana pegelolaan air tanah di Jakarta yang dilaksanakan secara serius melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, dari daerah imbuhan ke daerah lepasan air tanah dan pengembangan air PDAM secara progresif. Hasilnya, di Cekungan Air Tanah Jakarta periode 2018–2024 memperlihatkan tanda tanda-tanda pemulihan air tanah tertekan dengan naiknya permukaan air tanah dan melandainya penurunan tanah (landsubsidence) di sejumlah wilayah. Evaluasi dan analisis data menjadi hal fundamental dalam pengambilan kebijakan pengelolaan air tanah, melalui ARTESIS sebagai sistem informasi terpadu yang mengintegrasikan data perizinan, pemantauan, serta berbagi data informasi hidrogeologi. ARTESIS dilengkapi berbagai fitur unggalan, mulai dari WebGIS untuk mengeksplorasi kondisi air tanah secara spasial, Query360 untuk melakukan analisis data secara interaktif, serta Modul Evaluator yang mengintegrasikan 14 parameter spasial dan nonspasial untuk mendukung proses evaluasi perizinan air tanah secara lebih cepat, konsisten, objektif, dan terukur. ARTESIS juga memiliki Portal Kolaborasi Data Spasial yang memungkinkan produsen data di Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, maupun pemerintah daerah untuk mengunggah dan mengelola data sesuai dengan peran dan kewenangannya. Data yang disampaikan selanjutnya melalui proses verifikasi dan validasi sebelum dipublikasikan untuk menjaga kualitas, konsistensi, validitas, dan keterbaruan informasi. Melalui Modul Pemantauan, ARTESIS menyediakan informasi mengenai kondisi muka air tanah dan muka tanah, termasuk sebaran sumur pemantauan muka air tanah serta stasiun pemantauan penurunan muka tanah. Integrasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi air tanah dan perubahan muka tanah sebagai dasar pengambilan kebijakan. Menurut Lana, tantangan pengelolaan air tanah tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, serta kolaborasi nasional dan internasional diperlukan untuk menghasilkan pendekatan yang mampu menjawab perubahan lingkungan dan meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya air. “Kami berharap pertemuan ini menjadi wadah yang berharga untuk pertukaran pengetahuan. Kami meyakini kekuatan pembelajaran bersama, joint research, dan kerja sama internasional dapat menghasilkan solusi yang lebih kuat untuk menjaga keberlanjutan air tanah dan menghadapi tantangan penurunan muka tanah,” kata Lana. Melalui soft launching ini, ARTESIS mulai diperkenalkan sebagai bagian dari transformasi digital pengelolaan air tanah yang dikembangkan Badan Geologi. Integrasi data, teknologi geospasial, otomasi analisis, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat pengelolaan air tanah untuk menjaga ketersediaan air tanah bagi generasi mendatang.
Semarang,
Jawa Tengah – Badan Geologi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkuat upaya pengelolaan
dan memperluas akses informasi air tanah untuk masyarakat melalui soft
launching Sistem informasi Air tanah Terpadu Indonesia, yang disebut
sebagai ARTESIS. Soft launching ARTESIS dilaksanakan pada Rabu
(29/7/2026) dalam rangkaian acara The 11th International Conference on
Energy, Environment and Information System (ICENIS 2026) dan Pertemuan
Ilmiah Tahunan ke-8 Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) di Semarang,
Jawa Tengah.
Pengenalan
ARTESIS menjadi salah satu langkah Badan Geologi dalam menjawab tantangan
pengelolaan air tanah, terutama di wilayah perkotaan dan industri yang
mengalami peningkatan kebutuhan air.
“Air
tanah bukan sumber daya yang dapat kita gunakan tanpa batas. Ada pepatah yang
mengingatkan bahwa generasi kita tidak memiliki air tanah, kita hanya
meminjamnya dari generasi yang akan datang. Karena itu, menjaga air tanah hari
ini merupakan komitmen bersama untuk memastikan air tanah dikelola secara
berkelanjutan,” ujar Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria.
Ia
menceritakan bagaimana pegelolaan air tanah di Jakarta yang dilaksanakan secara
serius melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, dari daerah
imbuhan ke daerah lepasan air tanah dan pengembangan air PDAM secara progresif.
Hasilnya, di Cekungan Air Tanah Jakarta periode 2018–2024 memperlihatkan tanda tanda-tanda
pemulihan air tanah tertekan dengan naiknya permukaan air tanah dan melandainya
penurunan tanah (landsubsidence) di sejumlah wilayah.
Evaluasi
dan analisis data menjadi hal fundamental dalam pengambilan kebijakan pengelolaan
air tanah, melalui ARTESIS sebagai sistem informasi terpadu yang
mengintegrasikan data perizinan, pemantauan, serta berbagi data informasi
hidrogeologi. ARTESIS dilengkapi berbagai fitur unggalan, mulai dari WebGIS
untuk mengeksplorasi kondisi air tanah secara spasial, Query360 untuk melakukan
analisis data secara interaktif, serta Modul Evaluator yang mengintegrasikan 14
parameter spasial dan nonspasial untuk mendukung proses evaluasi perizinan air
tanah secara lebih cepat, konsisten, objektif, dan terukur.
ARTESIS
juga memiliki Portal Kolaborasi Data Spasial yang memungkinkan produsen data di
Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, maupun pemerintah daerah untuk mengunggah dan
mengelola data sesuai dengan peran dan kewenangannya. Data yang disampaikan
selanjutnya melalui proses verifikasi dan validasi sebelum dipublikasikan untuk
menjaga kualitas, konsistensi, validitas, dan keterbaruan informasi.
Melalui
Modul Pemantauan, ARTESIS menyediakan informasi mengenai kondisi muka air tanah
dan muka tanah, termasuk sebaran sumur pemantauan muka air tanah serta stasiun
pemantauan penurunan muka tanah. Integrasi tersebut diharapkan dapat memberikan
gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi air tanah dan perubahan muka
tanah sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Menurut
Lana, tantangan pengelolaan air tanah tidak dapat diselesaikan oleh satu
institusi saja. Pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, serta kolaborasi
nasional dan internasional diperlukan untuk menghasilkan pendekatan yang mampu
menjawab perubahan lingkungan dan meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya
air.
“Kami
berharap pertemuan ini menjadi wadah yang berharga untuk pertukaran
pengetahuan. Kami meyakini kekuatan pembelajaran bersama, joint research,
dan kerja sama internasional dapat menghasilkan solusi yang lebih kuat untuk
menjaga keberlanjutan air tanah dan menghadapi tantangan penurunan muka tanah,”
kata Lana.
Melalui
soft launching ini, ARTESIS mulai diperkenalkan sebagai bagian dari
transformasi digital pengelolaan air tanah yang dikembangkan Badan Geologi.
Integrasi data, teknologi geospasial, otomasi analisis, dan kolaborasi
antarpemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat pengelolaan air tanah untuk
menjaga ketersediaan air tanah bagi generasi mendatang.