Gerakan tanah di Kecamatan Kali Bawang, Kabupaten Wonosobo, Provinsi JawaTengah terjadi pada hari Senin 15 Maret 2022 di Dusun Dapo kretek, Desa Karang Sambung, Kec. Kali Bawang.

Kawasan zona gerakan tanah, merupakan kawasan morfologi yang berada di atas lereng dengan sudut kelerengan 100 - 300.

Secara umum morfologi lokasi bencana di Kecamatan Kali Bawang merupakan Lereng dengan kemiringan menengah - tinggi sebesar 100 - 450 Lokasi bencana / zona gerakan tanah berada pada ketinggian kisaran 630 - 654 m dpl.

Gerakan tanah terjadi pada tanggal 15 Maret 2022 saat curah hujan tinggi. Kawasan kecamatan Kalibawang berada pada zona potensi Menengah - Tinggi menunjukan adanya faktor pemicu curah hujan. Dan berdasarkan prediksi tingkat curah hujan bulanan mencapai > 300 mm /perbulan.

Berdasarkan pengamatan lapangan, gerakan tanah dikontrol oleh bidang gelincir dengan arah N 2900 E pada bagian bawah bidang gelincir berupa pelapukan berwarna kuning, berukuran pasir kasar, bersifat sarang dengan ketebalan 5 meter. Pada bagian atas bidang gelincir ditutupi oleh soil berwarna coklat yang bersifat urai. Kedua litologi ini merupakan bagian dari formasi Halang.

Zona gerakan tanah pada lereng atas merupakan kawasan pemukiman pada bagian tengah berupa kebun campuran dan jalan Desa, dilereng bawah merupakan kawasan kebun dan persawahan.

Zona gerakan tanah merupakan akumulasi limpasan air permukaan, sewaktu terjadi hujan air bergerak mengikuti kemiringan lereng. Sedangkan lereng bawah terdapat aliran sungai, tidak ditemukan sumur dan mata air di lokasi bencana.

Menurut informasi warga pada bulan Januari 2022 masjid dan rumah yang berada di sebelahnya mulai mengalami keretakan. Keretakan terus berkembang hingga puncaknya ada bulan Maret 2022 menyebabkan amblasan sedalam 0,5 meter.

Hasil pantauan lapangan, gerakan tanah menunjukan tipe amblasan pada kelurusan morfologi berarah relatif selatan, dan zona gerakan tanah dengan sektor amblesan pada kawasan alur lembah.

Bagian belakang Masjid (tempat wudhu) mengalami ambles sehingga lantai menjadi ambruk dan tiang penyangga atap menjadi miring serta satu buah rumah warga ambles dan rusak parah.

Kawasan terlanda gerakan tanah telah mengalami proses kejadian berulang. Gerakan tanah ini berada pada pemukiman warga dengan arah umum pergerakan relatif selatan (N 2900 E), mengalami amblesan berkisar 0,5 meter. Gerakan tanah mengarah ke bagian lembah dan ada kejadian longsor di bagian lereng bawah lembah.

Potensi ancaman gerakan tanah dengan mahkota amblesan berada pada bangunan warga, dengan arah pergerakan N 2900 E atau relatif ke arah barat laut.

Pada zona gerakan tanah berpotensi terulang kembali dan mengancam kawasan pemukiman dalam jangka pendek antara lain berupa ancaman runtuhnya bangunan dan dalam jangka pangjang berpotensi menimbulkan dampak amblasan, aliran bahan rombakan dan retakan.

Dalam jangka panjang, jika kawasan ini tidak terkendali pembangunannya berpotensi terkena dampak gerakan tanah .Kawasan permukiman yang mengalami retakan dan amblasan berpotensi runtuh dan mengancam jiwa penghuninya.

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan: Adanya akumulasi air pada permukaan, baik berupa air hujan maupun air limbah warga yang mencapai titik jenuh sehingga tanah bergerak pada bidang gelincir dan menjadikan penyebab amblesan, sifat fisik batuan penyusun yang kurang kompak dan sarang serta zona gerakan tanah berupa tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan mudah terinfiltasi air serta mudah jenuh air saat hujan, adanya longsoran pada bagian bawah lembah, kemiringan lereng yang agak terjal pada lereng atas dan bawah, curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama menjadi penyebab secara umum

Zona gerakan tanah merupakan kawasan lemah yang sering terlanda gerakan tanah secara berulang. Sistim drainase pada pemukiman yang kurang baik, sehingga air hujan dan air limbah rumah tangga tidak tersalurkan ke sungai dengan lancar. Bidang lemah dengan komposisi batuan yang sudah terbentuk sebelumnya menyebabkan debit air bawah permukaan bertambah besar dan memicu ikatan butir antar batuan menjadi tidak kompak begerak searah N 2900 E.

Kesimpulan: Gerakan tanah yang terjadi merupakan dampak dari terganggunya kestabilan lereng akibat perpaduan penyebab kondisi geologi (batuan dan pelapukan tanah) dan morfologi /kelerengan serta serta aktifitas manusia dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi, Saluran air permukaan baik dari hujan, limpasan air dari tubuh jalan maupun limbah rumah tangga tidak tertata dengan baik, mengakibatkan air menyebar dan terakumulasi menjadi sumber air baru di bagian lembah permukiman. Kondisi tersebut meningkatkan faktor terjadinya gerakan tanah, telah terbentuknya bidang gelincir zona Gerakan tanah di kawasan ini berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa amblesan, longsoran, rayapan, kawasan Zona Gerakan Tanah merupakan Kawasan berulang terjadinya gerakan tanah tipe lambat dengan fenomena amblesan, retakan dan pergeseran tubuh tanah mengikuti pola morfologi bergerak mengikuti kelerengan.

Berdasarkan Peta Prakiraan ZKGT PVMBG - Badan Geologi pada bulan Maret 2022, Lokasi bencana berada pada Zona Potensi Menengah - Tinggi terjadinya gerakan tanah.

Sumber : Pvmbg - Badan Geologi

Hak Cipta © 2022
BADAN GEOLOGI - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jl. Diponegoro No. 57 Bandung 40122 Telp. 022 7215297