RINGKASAN HASIL ASSESSMENT LAPANGAN
Tanggal Survei: 19 Agustus 2026
1. GEMPA BUMI
A. Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Parameter | Hasil Observasi |
Lokasi | Desa Anakoli – Desa Marapokot, Kabupaten Nagekeo |
Temuan utama | Kerusakan rumah warga |
Objek terdampak | Rumah warga |
Dampak | Masyarakat tidak lagi menginap di rumah yang mengalami kerusakan |
Tingkat urgensi | Penting |
Kondisi lapangan | Ditemukan beberapa rumah/bangunan mengalami kerusakan |
Rekomendasi awal | Masyarakat tetap berada di tempat pengungsian |
Uraian:
Assessment kerusakan bangunan di wilayah Desa Anakoli hingga Desa Marapokot menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah rumah warga. Kondisi bangunan yang terdampak menyebabkan masyarakat tidak lagi menginap di rumah tersebut dan tetap berada di lokasi pengungsian. Hasil assessment menempatkan kondisi ini pada tingkat urgensi penting, dengan rekomendasi agar masyarakat tetap berada di tempat pengungsian sampai kondisi bangunan dinyatakan aman. Dokumentasi lapangan juga memperlihatkan kerusakan pada beberapa bangunan rumah di wilayah pesisir Kabupaten Nagekeo, termasuk bangunan dengan kerusakan berat pada bagian struktur/atap.
Lampiran:
B. Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Parameter | Hasil Observasi |
Lokasi | Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur |
Temuan utama | Kerusakan pada beberapa rumah warga akibat gempa bumi |
Kondisi infrastruktur | Kerusakan meliputi dinding, kolom/struktur, bagian teras, plafon/atap, serta material bangunan yang runtuh. Beberapa bangunan menunjukkan kerusakan cukup signifikan sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut sebelum ditempati kembali |
Pengungsian | Belum terdapat data jumlah pengungsi pada dokumentasi yang tersedia. Kondisi bangunan yang mengalami kerusakan memerlukan kewaspadaan dan pemeriksaan keamanan sebelum masyarakat kembali menempati rumah |
Kebutuhan mendesak | Assessment kelayakan bangunan, pengamanan bangunan yang rusak, serta kebutuhan material/perbaikan bagi rumah terdampak |
Dokumentasi | Dokumentasi kondisi kerusakan bangunan warga di Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka |
Catatan | Data jumlah bangunan terdampak secara kuantitatif belum tersedia dalam dokumen yang diberikan |
Uraian:
Hasil assessment lapangan di Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah bangunan warga setelah kejadian gempa bumi. Kerusakan yang terdokumentasi mencakup elemen dinding, kolom/struktur, teras, plafon/atap, serta material bangunan yang mengalami keruntuhan. Sebagian bangunan memperlihatkan kerusakan yang cukup signifikan sehingga diperlukan pemeriksaan kelayakan bangunan sebelum masyarakat kembali menempatinya. Kebutuhan awal yang teridentifikasi meliputi assessment kelayakan bangunan secara lebih lanjut, pengamanan terhadap bagian bangunan yang rusak dan berpotensi membahayakan, serta penyediaan material untuk perbaikan rumah terdampak. Data jumlah pengungsi belum tersedia dalam dokumentasi yang diterima.
Lampiran:
2. TSUNAMI
A. Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Parameter | Hasil Observasi |
Lokasi utama | Marapokot dan Anakoli, Kabupaten Nagekeo |
Ketinggian limpasan | ±1 meter |
Kedalaman genangan | ±0,5 meter |
Jangkauan air | 100–150 meter |
Arah datang gelombang | 65° (timur laut) di Marapokot; 32° (utara–timur laut) di Anakoli |
Jejak tsunami | Garis sisa endapan halus pada tanah |
Material endapan | Air, lumpur, lanau, ranting dan daun |
Dampak pesisir | Abrasi |
Vegetasi | Kerusakan mangrove minimal |
Korban jiwa | Nihil |
Pengungsian | 240 jiwa/80 KK di Marapokot dan 703 jiwa/187 KK di Anakoli |
Kebutuhan mendesak | Air bersih, logistik pangan, tenda pengungsian dan alat komunikasi |
Uraian:
Hasil assessment di wilayah pesisir Kabupaten Nagekeo menunjukkan adanya jejak tsunami berupa genangan dengan kedalaman sekitar 0,5 meter, ketinggian limpasan sekitar 1 meter, serta jangkauan air 100–150 meter. Batas genangan ditandai oleh sisa endapan halus pada permukaan tanah dengan material berupa air, lumpur, lanau, ranting dan daun. Di Marapokot gelombang tercatat datang dari arah 65° atau timur laut, sedangkan di Anakoli dari arah 32° atau utara–timur laut. Dampak yang teridentifikasi terutama berupa abrasi pada garis pantai/pesisir dan gangguan utilitas, berupa pemadaman listrik serta gangguan telekomunikasi. Di Marapokot tercatat 240 jiwa dari 80 KK mengungsi, sedangkan di Anakoli tercatat 703 jiwa dari 187 KK. Tidak terdapat korban jiwa pada kedua lokasi assessment.
Catatan umum:
Dokumen ini merupakan penggabungan tiga ringkasan hasil assessment lapangan tanggal 19 Agustus 2026 dan disusun ulang berdasarkan jenis kebencanaan. Data yang tidak tersedia pada dokumen sumber tetap ditandai sebagai “belum ada data” dan tidak diasumsikan.
Lampiran: