Berdasarkan letusan sebelumnya karakter letusan G. Galunggung adalah letusan yang sangat dahsyat (berlangsung secara singkat atau lama) yang diakhir erupsi kubah lava (1918) dan pembentukan kerucut sinder serta leleran lava (1983). Untuk mengetahui produk letusan yang lebih tua lagi berdasarkan peta geologi.
G. Galunggung menempati daerah seluas kurang lebih 275 km2 dengan diameter 27 km (baratlaut-tenggara) dan 13 km (timurlaut-baratdaya). G. Galunggung merupakan gunungapi aktif tipe strato dengan ketinggian 2168 m dpl atau 1820 di atas daratan Tasikmalaya. Sejarah letusan G. Galunggung secara umum bersifat relativ aktif.
G. Galunggung merupakan salah satu gunungapi aktiv tipe A yang ada di Indonesia. Kegiatan vulkaniknya selalu dipantau dari Pos Pengamatan Gunungapi Galunggung di Kampung Sayuran, Desa Padakembang, termasuk kedalam wilayah Kabupaten Singaparna, sekitar 17 km dari Kota Tasikmalaya. G. Galunggung dengan tinggi puncaknya 1.168 m di atas permukaan laut.
Dari 129 gunungapi aktif di Indonesia (Tipe A, B, dan C) terdapat 79 gunungapi tipe-A dan 65 buah gunungapi Tipe-A yang dipantau secara kontinyu, satu diantaranya adalah G. Galunggung yang terletak di Kab, Tasikmalaya dan Kab. Garut, Propinsi Jawa Barat. G. Galunggung terakhir meletus pada 5 April 1982 - 19 Mei 1983, merupakan fase letusan yang menghancurkan 80% kubah lava Gunung Jati.
Gunung Galunggung salah satu gunungapi aktif di Jawa Barat dengan tinggi 2168 m diatas permukaan laut. Gunungapi ini terletak kurang lebih 17 km sebelah barat laut kota Tasikmalaya. Letusan yang pertama di ketahui dan tercatat pada tahun 1822, 1868 dan 1894 dan kemudian disusul 1894, 1918 menghasilkan kubah lava letusan besar dalam sejarah tercatat pada tahun 1822 yang menyebabkan lebih dari 40…
Pada tanggal 25 Oktober 1988 sampai dengan 18 Nopember 1988, Sdr. Effendi, Sdr. M. SL. Tobing, Sdr. Nanang Rahardjo dan penulis dengan SPD No. 1359/P/88 melakukan Pengukuran Deformasi Ulang ke Gunung Galunggung, disertai Ka di Topografi dan Pengukuran Deformasi.
Setelah letusan G. Galunggung 5 April 1982 berkesinambungan sampai pertengahan Mei 1982, maka timbul suatu gagasan untuk memonitor tingkah laku kegiatan gunungapi ini lebuh intensif lagi dengan mengerahkan segala potensi yang ada pada Direktorat Vulkanologi
Letusan G. Galunggung dapat mengakibatkan bahaya primer yakni bahaya langsung pada waktu letusan terjadi dan bahaya sekunder yakni bahaya sebagai akibat setelah letusan.