Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi daerah penelitian yang mencakup; Geomorfologi, struktur geologi dan stratigrafinya sehingga dapat diketahui sejarah/evolusi pembentukan Gunungapi Egon tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjang untuk penelitian selanjutnya terutama dalam pemetaan geologi, pemetaan daearah bahaya dan disiplin ilmu lainnya.
G. Agung merupakan Gunungapi Aktif tipe A, selayaknya untuk dipantau secara terus menerus kegiatannya, selain pengamatan dengan kegempaan dan visual dari Pos, kita juga mengetahui keadaan kawah G. Agung dan sekitarnya, sehingga Direktorat Vulkanologi Bandung menugaskan staf Seksi Bali dan Nusatenggara yaitu penulis dengan Sdr. Ariestika Gunalan.
Maksud pemantauan ini adalah sebagai realisasi Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Bali NTB dan NTT sesuai dengan tugas dan fungsi Kanwil antara lain untuk mengetahui sejauhmana Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (d.h. Daerah Bahaya Gunungapi), di G. Lewotobi dan sekitarnya.
Semula pengamatan gempa di G. Tambora memakai seismograf sistim kabel, dengan sistim ini kurang efektif karena kabel yang menghubungkan rekorder dengan seismometer sering putus, maka pada Agustus 1996 sistim kabel diganti dengan sistim radio telemetri.
Pengamatan secara visual dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi G.Rinjani di Sembalun Lawang umumnya G. Rinjani tampak jelas, tetapi pada siang maupun sore hari terkadang terjadi kabut 0I - 0II. Selain itu, dilakukan juga pengamatan kegempaan menggunakan Seismograf Model PS-2 bersistem Radio Telemetri (RTS), dimana seismometer ditempatkan di lereng G. Rinjani daerah Padabalong dekat G. PLawang…
Dalam Anggaran tahun 1996 - 1997 di Seksi Bali dan Nusatenggara terdapat beberapa gunungapi yang seismografnya tidak berfungsi baik, sehingga Pimpinan Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi, Direktrorat Vulkanologi mengambil langkah perbaikan/penyempunaan perangkat seismograf. Tujuan ini dimaksudkan agar pemantauan kegempaan gunungapi, khususnya di Bali dan Nusatenggara dapat normal kembali.
Perbedaan rona baik pada citra satelit maupun foto udara antara lereng barat dan lereng timur sampai selatan Gunung Tambora serta laporan peneliti sebelumnya yang menyebutkan adanya hutan lebat di bagian lereng sebelah barat hanya empat tahun setelah letusan (1819), pada awalnya menimbulkan asumsi bahwa material hasil erupsi yang terjadi pada tahun 1815 terutama aliran piroklastika diletuskan d…
G. Bromo (2329 m di atas muka laut) terletak di Jawa Timur dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Kerucut tersebut merupakan salah satu titik kegiatan baru dan satu-satunya yang masih aktif dalam kaldera Tengger yang berbentuk elips (Foto 1). Kaldera tersebut memanjang arah timurlaut-baratdaya dan bergaristengah 1k 11 km x 7 km, merupakan gunungapi yang…
Pengukuran Cospec atau tepatnya adalah pengukuran emisi gas So2 dengan menggunakan correlation spectrometer (Cospec) berhasil dilakukan untuk G. Sumbing, Dieng (kawah sileri dan kawah sikidang) serta Gunung Slamet.
Pada tanggal 25 Oktober 1988 sampai dengan 18 Nopember 1988, Sdr. Effendi, Sdr. M. SL. Tobing, Sdr. Nanang Rahardjo dan penulis dengan SPD No. 1359/P/88 melakukan Pengukuran Deformasi Ulang ke Gunung Galunggung, disertai Ka di Topografi dan Pengukuran Deformasi.