Dibandingkan dengan gunungapi lainnya di wilayah Minahasa-Sulawesi Utara, G. Soputan merupakan gunungapi giat dan sering meletus baik secara eksplosif maupun efusif. Jangka waktu antara dua letusannya pada masa lampau berturut-turut berkisar antara satu atau dua tahun, sedangkan waktu terpanjang antara dua letusan adalah 45 tahun. Dari pendakian puncak Soputan pada bulan Oktober 2002 diketahui …
Dibandingkan dengan gunungapi lainnya di wilayah Minahasa-Sulawesi Utara. G. Soputan merupakan gunungapi giat dan sering meletus baik secara eksplosif maupun efusif. Jangka waktu antara dua letusannya pada masa lampau berturut-turut berkisaran antara satu atau dua tahun, sedangkan waktu terpanjang antara dua letusan adalah 45 tahun. Dari pendakian puncak Soputan pada bulan Oktber 2002 diketahui…
Sebagai realisasi rencana kerja Proyek Pengamatan/Pe-anggaran 1993/1994 ngawasan dan Pemetaan Gunungapi tahunan pada tanggal 8 Mei 1993 diberangkatkan Ato Djuhara dan Agus Martono dengan SPPD masing-masing No. 330/0441/3402/93 dan 331/0441/3402/93 ke G. Pui atau G. Meja selama 34 hari termasuk perjalanan. G. Pui menurut penduduk setempat namanya ialah G. Meja. G. Pui atau G. Meja yang merupakan…
Sebagai gunungapi paling aktif di indonesia bahkan di dunia, G. Merapi telah banyak menarik banyak ilmuwan kebumian pada umumnya dan kegunungapian pada khususnya untuk mempelajari berbagai aspek tentang gunungapi tersebut. G.Merapi juga merupakan laboratorium alam kegunungapian dan salah satu Pos Pengamatan Gunungapi yang mempunyai peralatan monitoring paling lengkap di Indonesia.
Pemetaan zona risiko bahaya G. Agung ini ditujukan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum mengenai tingkatan risiko yang mungkin timbul sebagai akibat bahaya G. Agung. Informasi tingkatan risiko bahaya G. Agung di suatu wilayah itu dipandang penting sebagai dasar pertimbangan bagi pengembangan pembangunan di daerah tersebut.
Maksud dari pada Pembuatan Peta Kawasan Rawan Bencana G. Agung ini sebagai pengganti Peta Daerah Bahaya yang sudah pernah dibuat pada tahun sebelumnya dimana pembagiannya terdiri dari Daerah Terlarang, Bahaya I dan II, yang dirasa masih kurang lengkap, pada umumnya kedua peta tersebut masih identik dengan Peta Kawasan Rawan Bencana I, II, dan III, yang lebih lengkap.
Pemetaan daerah bahaya G. Wee Sino dan sekitarnya dilakukan dalam rangka pelaksanaan Proyek Pengamatan/Pengawasan dan Pemetaan Gunungapi, pada PELITA V tahun 1993-1994. Pemetaan ini dilakukan cleh Seksi Pemetaan Daerah Gunungapi Sub Direktorat Pemetaan Bahaya Gunungapi. Tim terdiri dari Ato Djuhara dan Agus Martono dengan 3.P.P.D No. 995/0441/3402/93 dan 996/0441/3402/93. Lama pemetaan 1 bulan…
Sub Direktorat Pemetaan Gunungapi, Direktorat Vulkanologi telah melakukan Pemetaan Daerah Bahaya G. Anak Ranakah. Pemetaan tersebut dilakukan bulan Juli 1988 dan merupakan penelitian ulang dan pemetaan lanjutan bulan Januari 1988 yang dipetakan oleh Ato Djuhara Wirasaputra. G. Anak Ranakah di komplek G. Mandasawu, termasuk kedalam wilayah Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pendud…
Tujuan pemetaan daerah bahaya G. Batur adalah untuk mempersiapkan suatu peta daerah bahaya suatu gunungapi yang mempunyai masa istirahat antara 1 sampai 30 tahun (jangka menengah). Pada 1970, G.Batur telah dipetakan oleh S.Hamidi dkk yang menghasilkan satu peta daerah bahaya setelah terjadi kegiatan letusan paroksimal 1963. Metode penelitian yang dilaksanakan selama pekerjaan ini dilaksanakan a…
Daerah gunungapi selain dapat menimbulkan bencana juga memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di dalam masa pembangunan berkelanjutan ini perlu kiranya dilakukan usaha pengantar Tata Ruang dan Tata Guna Lahan di daerah gunungapi sedemikian rupa sehingga manfaatnya bagi kesejahteraan hidup dapat dipergunakan seoptimal mungkin namun risiko bahaya gunungapinya dapat di tekan seminimal mungkin.…