Pengamatan lapangan dilaksanakan dari awal Agustus sampai pertengahan September 1984, menggunakan sistim jaringan tripartit. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat seismograp elektromagnetik tiga komponen. Sedang transdusernya adalah ''Short Period Seismometer" komponen tegak dengan "Natural Period" 1 cycle per detik.
Pengamatan lapangan berlangsung selama satu bulan, yaitu sejak akhir Januari sampai pertengahan Februari 1985. Cara pengamatan gempa yang diterapkan disini adalah jaringan tripartit. Sedang peralatan yang digunakan adalah seperangkat seismograp elektromagnetik tiga komponen.
In August, 1984, Robert Y.Koyanagi, Seismologist, and George Kojima, Electronics technician were missioned to Indonesia to evaluate the radiotelemetered seismic network (RTS) at Merapi Volcano Observatory located at Yogyakarta in Central Java.
Pengamatan visual G.Lamongan dikerjakan setiap saat dan menggunakan alat sebuah teropong. Ukuran suhu udara menggunakan termometer, pengukur air hujan adalah gelas pengukur air hujan, dan petunjuk arah angin pengamatan langsung. Termometer, tabung air dan arah angin dibaca/dicatat tiap pkl 06.00, 12.00 dan 18.00.
Berdasarkan pengamatan visual, kegiatan G.Lamongan selama April 1984 sampai dengan Februari 1985 tidak menunjukkan adanya perubahan atau kelainan kegiatan. Asap solfatara/fumarola umumnya tampak putih tipis, tekanan gas lemah. Begitu juga suhu air ranu tidak berubah. Suhu air ranu maksimum 30'C.
Pengukuran dimulai dari jalan simpang tiga menuju Kokoncong yang letaknya di Kp. Cisemplo (ialah dai patok lama hasil pengukuran terdahulu) adapun yang diukur ialah: S.Cikasasah, Susukangede, S.Cisaruni, dan Irigasi Cikunten.
G.Sumbing pada waktu pemeriksaan masih tetap normal. Asap solfatara pada umumnya putih tipis dengan tekanan gas lemah, ketinggian asap maksimum 10 m dari permukaan dan minimum 4 m. Suhu solfatara tercatat minimum 90'C dan maksimum 110'C, sedangkan suhu air panas di dasar kawah terukur minimum 75'C dan maksimum 87'C.
Gunung Papandayan terletak dalam deretan gunungapi Priangan Selatan, hampir tepat sebelah selatan G.Guntur dan dihubungkan dengan tetangganya sebelah timur G.Cikuray yang menjulang tinggi puncaknya berbentuk kerucut.
Pemetaan daerah bahaya G.Sundoro ini merupakan pemetaan ulang dari hasil pemetaan daerah bahaya yang telah dilakukan oleh R.Hadian (1970). Penulis tersebut membagi zona daerah bahaya berdasarkan penampilan morfologi yang terdiri dari daerah bahaya dan daerah waspada.
Berdasarkan SPPD No 2541/P/1984 penulis ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan dan pengukuran suhu kawah - kawah di Datarang Tinggi Dieng selama 30 hari. Maksud dilakukan pemeriksaan tersebut ialah untuk mengetahui tingkat kegiatan pada waktu itu dibandingkan dengan sebelumnya.