Pemantauan Gunung Merapi, salah satunya menggunakan metode Magnetik, telah memberikan hasil pemantauan aktifitas G. Merapi yang sangat penting, untuk membandingkan dengan metode yang lain seperti metode Seismik, deformasi, geokimia dsb. Untuk mendapatkan data yang rutin dan akurasi data perlu dilakukan perawatan dan perbaikan alat apabila terjadi kerusakan.
Hingga saat ini, G. Merapi (2968 m dml), yang berlokasi di perbatasan propinsi Jawa Tengah dan DIY masih tetap menunjukkan aktivitasnya dengan mengeluarkan guguran-guguran lava pijar dari puncaknya. Walaupun intensitas gugurannya sudah mulai menurun, namun arah guguran masih bervariasi di antara hulu Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo dan Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum 2,5 km dari puncak.
Gunung merapi merupakan gunungapi yang bertipe strato dengan kubah lava. Gunung yang merupakan gunungapi paling aktif ini dengan ketinggian 2965 m, mempunyai periode letusan 2 sampai 7 tahun sekali. Letusan merapi mempunyai karakter tersendiri yang disebut dengan tipe merapi, yang pada prinsipnya merupakan guguran kubah lava.
Salah satu teknik pemantauan geodesi, GPS mempunyai beberapa keunggulan diantaranya adalah kemampuan GPS untuk memberikan posisi 3 dimensi secara langsung. Karena itu GPS sering digunakan untuk pemeaan topografi meninggalkan metoda konvensional yang lain ( theodolite atau EDM). Deformasi di puncak merapi erat kaitannya dengan keberadaan retakan retakan yang terjadi di sekitar kubah lava.
Untuk melanjutkan pekerjaan Pengembangan Mitigasi Bencana Geologi, dalam kesempatan ini tim penyelidik mencoba untuk melakukan pengembangan metode dengan menggunakan alat seismograf digital "portable" sehingga dapat dilakukan pengambilan data dengan cara berpindah pindah tempat " moving", untuk dapat mengetahui arah sumber gempa dari beberapa tempat.
Program penyuluhan atau penyebaran informasi mengenai karakteristik Gunung Merapi dan berbagai aspeknya, terus diupayakan untuk dapat sampai ke seluruh desa-desa yang termasuk daerah rawan bencana gunung Merapi, terutama di kabupaten Magelang propinsi Jawa Tengah dan di kabupaten Sleman, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta.
Salah satu metoda yang digunakan untuk memantau/menyelidiki aktivitas gunungapi adalah metode Deformasi, dimana metode ini berdasarkan pada perubahan fisik gunungapi. Perubahan bentuk tubuh gunung yang terjadi akibat adanya proses migrasi magma dan tekanan magma yang menuju permukaan disebut dengan gejala deformasi.
Setiap kali gunung Merapi akan meletus selalu didahului oleh meningkatnya aktivitas baik kegempaan maupun deformasi yang tidak bisa diamati dan dirasakan oleh manusia, tetapi bisa dirasakan atau di deteksi dengan peralatan geofisika seperti tilt meter dan seismometer, oleh karena itu untuk memantau aktivitas gunung merapi khusunya kegempaannya maka kontinuitas dan kualitas rekaman data gempa pe…
Air rembesan danau kawah Ijen yang mengalir di Kali Banyupait mengandung unsur vulkanik terlarut terutama sulfat, khlorida, gas karbon dioksida, aluminium dan besi dengan konsentrasi yang sangat tinggi. Hal ini secara sepintas dapat dilihat dari warna air yang tidak normal, air kawah ijen maupun kali banyupait berwarna hijau muda yang diakibatkan oleh terdapatnya senyawa heksa khloro ferat (II)…
Air kali banyupait yang berasal dari rembesan air danau kawah Ijen mempunyai derajat keasaman yang tinggi (pH sekitar 0,5-1) dan konsentrasi ion terlarut yang tinggi pula terutama sulfat, khlorida besi dan aluminium. Sampai saat ini unsur vulkanik Gunung Kawah Ijen yang terkandung dalam air kali banyupait menjadi sumber polutan terhadap air kali banyupait yang terbntuk hasil pencampuran dari ai…