Manifestasi di lapangan aktifitas vulkanik G.Sirung saat sekarang berupa kegiatan solfatara di dalam kawah - kawahnya, dibandingkan dengan data penelitian terdahulu tidak mengalami perubahan. Dari data visual seperti tinggi asap dan data hasil pengukuran suhu solfatara antara 1994 -1999, peningkatan aktifitas solfatara/kawah telah terjadi pada Oktober 1995, Juni dan Agustus 1997. Sedangkan dari…
Letusan - letusan G. Batur dalam 1994 - 1995 bersifat eksplosive disertai lontaran material pijar dan menghasilkan kawah baru (Kawah 1994). Kemudian letusan 8 November 1997 hanya berupa letusan - letusan gas kering dari dalam Kawah Batur III. Kemudian pada 2 Juni 1998 pusat letusan berpindah dari Kawah Batur III, menghasilkan kawah baru (Kawah 1998).
G. SangeangApi terakhir erupsi pada 24 Januari 1997 yang sampai Juli 1998 letusan/hembusan asap masih sering terjadi. Erupsi 1997 bersifat eksplosif dan efusif. Karena dari hasil pengamatan menunjukkan terjadinya guguran - guguran lava ke arah S. Berano. Sampai dengan Juli 1998 gempa vulkanik terekam oleh seismograf yang jumlahnya per bulan di atas normal.
Hasil evaluasi seismik serta ditunjang oleh data visualnya, kegiatan G. Ili Boleng saat ini dinilai dalam kondisi aktif normal. Sedangkan dari evaluasi seismik kegiatan G. Ili Lewotolo, secara kuantitas menunjukkan tingkat kejadian gempa vulkanik per harinya diatas normal, hal ini diduga sudah berlangsung sebelum pemasangan seismograf di Pos PGA Ili Lewotolo (September 1994). Secara visual akti…
G. Batur adalah salah satu gunungapi aktif di Indonesia, termasuk gunungapi yang sering meletus dibandingkan dengan G. Agung, keduanya terletak di P.Bali. Berdasarkan produk erupsi 1994/1995, erupsi G. Batur bersifat esplosif (strombolian), efusif atau kombinasi esplosif dengan efusif.
Evaluasi kegiatan G. Batur tahun 1995 terutama didasarkan pada hasil pengamatan visual dan kegempaan yang dilakukan dari Pos PGA G. Batur di Penelokan. Secara visual kegiatan G. Batur sampai dengan akhir 1955 masih ditandai dengan adanya letusan dan hembusan yang teramati pada bulan Januari, Maret, dan Mei 1955. Tinggi asap letusan mencapai lk 300 m di atas pusat letusan.
Faktor yang ikut menentukan intensitas bencana gunungapi adalah sifat dan tipe letusan gunungapi, sebaran produk letusan, perioda letusan, kepadatan penduduk di sekitar gunungapi serta perkembangan pemukiman dan wisatawan. Berdasarkan data letusan yang telah lampau, produk letusan G. Lewotobi Laki - laki dan Perempuan yang dapat menimbulkan bencana meliputi abu, pasir, dan lapili, bom volkanik,…
Berdasarkan sejarah letusan, aktifitas vulkanik (purna kaldera) G. Rinjani terjadi di dalam kaldera dengan menghasilkan G.Barujari dan G.Rombongan. Pereoda istirahat letusan antara 3 - 29 tahun. Produk erupsi G.Barujari dan Rombongan adalah endapan leleran lava dan jatuhan piroklastik, hal ini menunjukkan bahwa sifat erupsinya adalah esplosif dan efusif.
Kegiatan G. Iya dan G. Ebulobo dipantau secara terus - menerus oleh Sub Direktorat Pengamatan Gunungapi melalui Pos Pengamatan Tetap yang berlokasi di daerah gunungapi tersebut. Pemantauan kegiatan gunungapi selain visual juga pengamatan gempa. Pengamatan gempa untuk G.Iya dengan seismograf PS-2 bersistem telemetri satu komponen vertikal. Sedangkan G.Ebulobo menggunakan seismograf Elektromagnet…
Memperhatikan sifat erupsi masa lampau dan makin padatnya penduduk yang bermukim di sekitar puncak G.Ileboleng, hal ini akan menambah tingkat bahaya eupsi G.Ileboleng. Untuk mengantisipasi mitigasi akibat erupsi yang akan datang, sangat diperlukan suatu usaha mengevaluasi aktifitas vulkaniknya. Untuk keperluan pekerjaan tersebut diperlukan pengumpulan data - data masa lampau dan kondisi sekaran…