Evaluasi kegiatan G. Batur tahun 1995 terutama didasarkan pada hasil pengamatan visual dan kegempaan yang dilakukan dari Pos PGA G. Batur di Penelokan. Secara visual kegiatan G. Batur sampai dengan akhir 1955 masih ditandai dengan adanya letusan dan hembusan yang teramati pada bulan Januari, Maret, dan Mei 1955. Tinggi asap letusan mencapai lk 300 m di atas pusat letusan.
Faktor yang ikut menentukan intensitas bencana gunungapi adalah sifat dan tipe letusan gunungapi, sebaran produk letusan, perioda letusan, kepadatan penduduk di sekitar gunungapi serta perkembangan pemukiman dan wisatawan. Berdasarkan data letusan yang telah lampau, produk letusan G. Lewotobi Laki - laki dan Perempuan yang dapat menimbulkan bencana meliputi abu, pasir, dan lapili, bom volkanik,…
Berdasarkan sejarah letusan, aktifitas vulkanik (purna kaldera) G. Rinjani terjadi di dalam kaldera dengan menghasilkan G.Barujari dan G.Rombongan. Pereoda istirahat letusan antara 3 - 29 tahun. Produk erupsi G.Barujari dan Rombongan adalah endapan leleran lava dan jatuhan piroklastik, hal ini menunjukkan bahwa sifat erupsinya adalah esplosif dan efusif.
Kegiatan G. Iya dan G. Ebulobo dipantau secara terus - menerus oleh Sub Direktorat Pengamatan Gunungapi melalui Pos Pengamatan Tetap yang berlokasi di daerah gunungapi tersebut. Pemantauan kegiatan gunungapi selain visual juga pengamatan gempa. Pengamatan gempa untuk G.Iya dengan seismograf PS-2 bersistem telemetri satu komponen vertikal. Sedangkan G.Ebulobo menggunakan seismograf Elektromagnet…
Memperhatikan sifat erupsi masa lampau dan makin padatnya penduduk yang bermukim di sekitar puncak G.Ileboleng, hal ini akan menambah tingkat bahaya eupsi G.Ileboleng. Untuk mengantisipasi mitigasi akibat erupsi yang akan datang, sangat diperlukan suatu usaha mengevaluasi aktifitas vulkaniknya. Untuk keperluan pekerjaan tersebut diperlukan pengumpulan data - data masa lampau dan kondisi sekaran…
Komplek G. Rinjani terdapat di P.Lombok bagian utara, termasuk Prov. NTB, mencakup 3 (tiga) Kabupaten yaitu : Kab. Lombok Barat, Kab. Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Timur. Peningkatan aktifitas G. Rinjani terjadi sejak tgl 4 Juni 1994 pkl. 02.00 WITA berupa suara dentuman dari arah kaldera, kemudian pada tgl 4 Juni 1994 pkl. 08.00 WITA teramati asap letusan berwarna hita, tebal dengan tinggi lk…
Kebijakan otonomi daerah memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengembangkan daerahnya. Penataan wilayah harus mempertimbangkan sumber daya dan potensi bencananya. Oleh karena itu diperlukan upaya pengurangan risiko bencana. Analisis risiko bencana gunungapi dilakukan untuk mengetahui tingkat risiko suatu objek bencana di dalam kawasan rawan bencana gunungapi. Peta risiko ben…