Setelah terjadi letusan2 G.Semeru tetap giat dengan terus menerusnja membentuk sumbat lava jang tambah besar dan tambah tinggi, begitu pula guguran2 lava jang keluar dari sekitar aliran lava selalu meluntjur ke Bs. Semut dan Tjurah Lengkeng tak pernah berhenti. Maka tibalah saatnja untuk pemeriksaan puntjak tahun 1962.
Pada tgl 17Djuli 1971 telah diberangkatkan tim pemtaan Gn. Api menuju banyuwangi Jatim, untuk melanjutkan pemetaan daerah bahaya kawah idjen yang semula telah dikerjakan pada pertengahan bulan Juni 1971 oleh Sdr L. Djoharman B. Sc (Ketua Tim) dan sdr. Komar Restikadjaja (surveyer)
Kesan pertama jang didapat penulis pada pemeriksaan adalah bahwa kegiatan Vulkan hanja berkisar pada aktivitas solfatara. Gedjala2 lain dari itu ta' ada sama sekali. Dan solfatara jang aktif hanjalah solfatara2 jang berada di Kawah Ratu dan Kawah Baru.
Pada tanggal 3 Nopember 1970, penulis diperintahkan oleh Kasi Pengawasan Gn. Api bertugas ke daerah Djawa Timur dengan S.P.P.D. No. 2271/S/1970. Setelah persiapan jang diperlukan selesai pada tgl. 5 Nopember 1970 berangkat kendaraan dinas D. 1571, bersama Sdr. Suparto S. dan Sdr. Tarmani sebagai pengemudi menuju jogjakarta.
Pendakian puncak G. Semeru yang dilakukan mulai tanggal 20-8-1969, telah kembali dengan selamat pada tgl. 22/8-1969 djam 11.00, ketempat pemberangkatann yaitu pos Tawongsongo, djadi memakan waktu 2,5 hari.
Kegiatan bekerja dari G. Semeru mulai dari tanggal 4/5-59 sedangkan kegiatan terdapat disekitar sumbat lava di Djonggring Seloko. Letusan - letusan yang dapat disimpulkan dari laporan harian pos Gunung Sawur, adalah letusan dari type stromboli.
Pada tanggal 2/11-1958 kami berangkat ke Djawa Tengah dan Djawa Timur, tugas utamanya adalah untuk melihat keadaan pos - pos pendjagaan gunungapi di Djawa Timur, yang perlu diperbaiki dan dilengkapi. Kecuali dari itu juga perlu diperiksa pesawat Gempa di G. Sawur, di G. Kelut dan di Pos Babadan (Gunung Merapi).
Menurut berita dari Tasikmalaya, yang diterima oleh Kantor Karesidenan Perianagan pada tanggal 7/4-59, maka G. Galunggung tampak mengeluarkan asap yang lebih tebal dari pada yang sudah - sudah, sedangkan dari jauh mengeluarkan asap.
Pada tanggal 23 Februari 1956, kami diberi tugas untuk memeriksa G.Kelud, berkenaan dengan terjadinya ombak didalam setinggi 5m, pada tanggal 20 Februari 1956, yang disebabkan oleh longsornya dinding kawah sebelah Barat-Daya dari kawah.
Solfatara G. Wayang dalam banyak segi sangat ganjil. Di sini orang melihat banyak gejala alam menjadi satu, yang sesuai dengan yang dari solfatara lain di Jawa, di sini namun tampak lebih jelas dan lebih mudah dapat diamati.