Pengukuran Deformasi Vertikal di G.. Tangkubanparahu dilakukan untuk mengetahui perubahan beda tinggi (arah vertikal) dari sebuah gunung api, guna mengetahui kegiatan di daerah gunungapi serta untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kegiatan suatu gunung api.
Pemetaan di kawasan Gunungapi Kawah Timbang adalah untuk membuat batas daerah - daerah yang terlanda bencana akibat letusan gunungapi di daerah Kawah Timbang dan sebagai revisi terhadap peta daerah bahaya Pengunungan Dieng yang telah dibuat oleh Sumarna Hamidi tahun 1980.
Gunungapi Perbakti merupakan salah satu gunungapi yang tergabung dalam suatu kompleks atau kelompok gunungapi aktif di sekitar Gunungapi Salak, terletak disebelah baratdaya-nya, merupakan salah satu lapangan Solfatara atau Fumarolla, yang kini telah dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik atau disebut juga Panasbumi atau Geothermal.
Pemetaan kawasan Gunungapi Gagak dilakukan untuk menghasilkan Peta Kawasan Rencana Gunungapi Gagak, yang diharapkan dapat diterapkan untuk mengurangi bencana letusan yang akan terjadi serta bermanfaat bagi Instansi Pemerintah lainnya dalam rangka menyusun rencana pembangunan secara umum dan rencana detil tataruang daerah disekitar Gunungapi Gagak di Jawa Barat.
Pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi G.Pulosari dan sekitarnya dilakukan pada bulan April 1997, dalam rangka pelaksanaan Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi, Pelita VI Tahun Anggaran 1997/1998 tahun ke 3.
Morfologi gunungapi Wayang Windu diduga berada pada zona depresi yang tumbuh dan berkembang secara bebas, dimana batas dengan morfologi sekitarnya dipisahkan oleh suatu morfologi yang hampir datar yang diperkirakan sebagai akibat adanya strukur geologi.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan tahap-1 (Mei 1997), kegiatan/evolusi vulkanik G.Cikuray cukup menarik untuk dipelajari karena produk dominannya berupa endapan aliran piroklastik membentuk tubuh kerucut sempurna lancip (+2830m).
G. Karang merupakan gunungapi aktif tipe B. Morfologi gunungapi Karang tumbuh bebas ke arah timur, tenggara, selatan, dan baratdaya dimana daerah lerengnya di beberapa temat ditemukan beberapa kerucut, sehingga membentuk morfologi berelief sedang, sedangkan bagian kakinya membentuk morfologi berelief lemah hingga relatif dasar.
Dalam menginventarisir jalur objek wisata ini tahap pertama diperlukan studi kepustakaan dari aspek geologi/kegunungapian, keindahan alam serta aspek penunjang lainnya seperti kebudayaan, sosial, sejarah, antropologi, dan lain - lain. Selanjutnya perlu melakukan penelitian langsung ke lapangan meninjau situasi tempat - tempat yang potensil untuk pengembangan keparawisataan.
Tujuan dengan dibuatnya peta kawasan rawan bencana gunungapi adalah diharapkan sebagai antisipasi jika suatu saat terjadi peningkatan aktifitas gunungapi disekitar Kawah Karaha akan memudahkan bagi penduduk dan pemerintah daerah untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan dengan berpedoman kepada peta kawasan rawan bencana gunungapi, sehingga dapat meminimalkan jumlah korban yang diakibatkan…