Deformasi sebagai salah satu metode monitoring yang diterapkan di G.Merapi, dituntut untuk bisa memberikan data secara teratur dan menerus agar bisa memberikan masukan untuk interpretasi aktivitas G. Merapi secara lebih baik.
Sejak September 1967 G.Semeru selalu aktif. Kegiatannya berupa pembentukan lidah lava di Kw. Jonggringseloko yang mengarah ke Selatan, kadang - kadang bergeser ke arah tenggara. Pergeseran posisi akumulasi lava menyebabkan perubahan arah bahaya yang mengancam. Oleh karena itu, dilakukan pendataan ulang di daerah yang diduga akan terancam bahaya pada waktu ini oleh 5 orang petugas selama 15 hari.
Pada tahun anggaran 1993/1994 Proyek Pengamatan/Pengawasan dan Pemetaan Gunungapi, telah menugaskan satu tim deformasi ke gunung Guntur dan gunung Ciremai untuk melakukan pengukuran deformasi dengan metoda ungkit kering (dry tilt) dengan metoda "EDM" (Electro-Optical Distance Measurements). Tugas tersebut dilaksanakan selama 34 hari, yaitu dari tanggal 24 April sampai dengan 27 Mei 1993.
Pada tahun anggaran 1993/1994 ini Kelompok Kerja Deformasi telah mengajukan rencana kegiatan lapangan sebanyak 6 (enam kali), sehingga rata - rata setiap 2 bulan sekali naik ke puncak Merapi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kesinambungan data. Disamping itu, hal yang lebih penting adalah untuk mengetahui perkembangan terakhir aktivitas Merapi secara visual dari dekat.
Untuk mengetahui perkembangan keadaan tubuh gunungapi G. Kelut sehubungan dengan aktivitasnya Nopember 1989, telah diberangkatkan Tim Pengukuran Deformasi G. Kelut dengan menggunakan cara ungkit kering terhadap 8 titik ukur, levelling di lintasan terowongan, EDM dari Margomulyo terhadap Lirang I dan II yang lokasinya dipinggir bagian Barat bawah G. Kelut.
Gunungapi Lamongan dipantau secara terus menerus, baik secara visual dan seismik oleh Seksi Pengamatan Gunungapi Jawa Timur dan Bali dari Pos Pengamatan Gunungapi di G.Meja. Pemantauan dengan metoda "dry tilt" telah dilakukan sejak tahun 1988 oleh Seksi Pemetaan Topografi dan Pengkuran Deformasi, dan pengamatan tersebut dilakukan paling sedikitnya sekali dalam setahun.
Terhitung dari tanggal 27 Juni sampai dengan Juli 1992 telah diukur enam stasiun deformasi disekitar G.Gede masing-masing satu kali, kecuali stasiun deformasi Taman Cibodas diukur 2 kali. Keenam stasiun yang telah diukur tersebut ialah : St. Taman Cibodas, St. G. Putri, St. Culamega, St. Goalpara, St. Perbawati, dan St. Situgunung.
Pemasangan pilar dan pengukuran deformasi metoda ungkit kering dilakukan sejak mulai bulan Maret 1989. Dari hasil pengukuran Mei 1992 dibandingkan Juli 1991 dari stasiun deformasi yang jaraknya lebih dekat puncak menunjukan perubahan yang tidak berarti/relatif kecil.
Pengukuran deformasi cara ungkit kering (tilting) di sekitar G. T. Parahu untuk memperoleh data pengukuran deformasi, sejak tahun 1986 tidak dilakukan pengukuran dan keadaan aktivitasnya relatif menurun, sedangkan pada permulaan tahun 1992 jumlah gempa vulkaniknnya mulai meningkat, sehingga pada bulan Mei 1992 mulai dilakukan pengukuran deformasi kembali G. Tangkubanparahu, disertakan pengukura…
G.Tangkubanperahu dan G.Gede adalah gunungapi aktif type A di Jawa Barat, yang dipantau terus menerus secara visual dan seismik dari masing - masing Pos pengamatan gunung tersebut. Pemantauan dengan metode "dry tilt" telah dilakukan sejak tahun 1981 di G.Tangkubanperahu dan sejak tahun 1991 di G.Gede. Periode pemantauan tidak menentu dan tergantung dari jumlah anggaran proyek yang tersedia sert…