Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi dan evolusi pembentukan gunungapi Egon dengan menggunakan berbagai data yang menunjang, baik berupa pengamatan geologi langsung (lapangan), data pengamatan tak langsung (foto udara) serta ditunjang dengan analisis laboratorium. Dari berbagai data yang telah kami dapatkan dapat diketahui penyebaran batuan, stratigrafi, struktur geolog…
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi daerah penelitian yang mencakup; Geomorfologi, struktur geologi dan stratigrafinya sehingga dapat diketahui sejarah/evolusi pembentukan Gunungapi Egon tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjang untuk penelitian selanjutnya terutama dalam pemetaan geologi, pemetaan daearah bahaya dan disiplin ilmu lainnya.
Berdasarkan data pemeriksaan kawah. pengukuran suhu pada Juni 1996 terdapat perubahan dibanding pada pemeriksaan Oktober 1995, yaitu : (a) Warna air danau putih keabuan sebelumnya kehijauan; (b) suara desisan terdengar di bibir kawah/kaldera sebelumnya hanya di tempat pengukuran suhu (di dasar kaldera); (c) kolom asap di Kawah A lebih tebal; dan (d) suhu kawah A dan C meningkat 5C. Peningkatann…
G. Agung merupakan Gunungapi Aktif tipe A, selayaknya untuk dipantau secara terus menerus kegiatannya, selain pengamatan dengan kegempaan dan visual dari Pos, kita juga mengetahui keadaan kawah G. Agung dan sekitarnya, sehingga Direktorat Vulkanologi Bandung menugaskan staf Seksi Bali dan Nusatenggara yaitu penulis dengan Sdr. Ariestika Gunalan.
Maksud pemantauan ini adalah sebagai realisasi Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Bali NTB dan NTT sesuai dengan tugas dan fungsi Kanwil antara lain untuk mengetahui sejauhmana Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (d.h. Daerah Bahaya Gunungapi), di G. Lewotobi dan sekitarnya.
Dibandingkan dengan aktifitas kegempaan antara Januari - September 1996 jumlah gempa vulkanik tercatat rata - rata 23 kejadian per bulan. Sehingga secara kegempaan sampai dengan September 1996, G. Banda Api aktifitasnya dinilai pada aktif normal. Didukung pula oleh data visual berupa hembusan asap putih tipis bertekanan lemah dengan ketinggian mencapai lk. 30 meter dari Kawah Puncak, sedangkan …
Semula pengamatan gempa di G. Tambora memakai seismograf sistim kabel, dengan sistim ini kurang efektif karena kabel yang menghubungkan rekorder dengan seismometer sering putus, maka pada Agustus 1996 sistim kabel diganti dengan sistim radio telemetri.
Dari data pengamatan visual dan pendakian menunjukkan bahwa kegiatan vulkanik G. Leroboleng tidak tampak dari permukaan yang tampak adalah hutan yang lebat dan ladang yang subur. Mungkin banyak orang termasuk penulis berpendapat bahwa G. Leroboleng sudah tidak aktif lagi atau sedang beristirahat panjang karena sudah tidak menunjukkan kegiatannya. Namun, dari data kegempaan menunjukkan terdapat …
Hasil evaluasi seismik serta ditunjang oleh data visualnya, kegiatan G. Ili Boleng saat ini dinilai dalam kondisi aktif normal. Sedangkan dari evaluasi seismik kegiatan G. Ili Lewotolo, secara kuantitas menunjukkan tingkat kejadian gempa vulkanik per harinya diatas normal, hal ini diduga sudah berlangsung sebelum pemasangan seismograf di Pos PGA Ili Lewotolo (September 1994). Secara visual akti…
Pengamatan secara visual dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi G.Rinjani di Sembalun Lawang umumnya G. Rinjani tampak jelas, tetapi pada siang maupun sore hari terkadang terjadi kabut 0I - 0II. Selain itu, dilakukan juga pengamatan kegempaan menggunakan Seismograf Model PS-2 bersistem Radio Telemetri (RTS), dimana seismometer ditempatkan di lereng G. Rinjani daerah Padabalong dekat G. PLawang…