Status aktivitas G. Merapi pada triwulan I (April - Juni 1999) berada pada status "aktif normal" yang berlaku sejak pertengahan bulan Januari 1999, secara visual tercermin dengan asap solfatar berwarna putih tebal, tekanan lemah, tinggi asap maksimum berkisar antara 100 - 600 meter, kecuali pada tgl 11 Juni 1999 tinggi asap maksimum mencapai 1000 meter terukur dari Pos Pengamatan Selo pada jam …
Pemahaman fenomena - fenomena magmatik dan pengawasan gunung - gunung api tidak bisa terlepas dari studi deformasi. Di G.Merapi, gunungapi tipe strato dan kubah lava, yang aktivitasnya tidak berhenti sejak tahun 1992, sehingga dilakukan pengukuran tahunan jaringan GPS sejak bulan Sepetember 1993.
Misi kerja ini memungkinkan untuk membuat sintesa tentang keadaan stasiun - stasiun deformasi, yang memungkinkan berlangsungnya beberapa diskusi teknik yang kaya dengan CSN yang baru.
Informasi datangnya ancaman bahaya G.Merapi yang cepat dan mudah dimengerti oleh penduduk sekitar G. Merapi adalah penggunaan sirine. Disamping itu juga, Tim mengadakan pengecekan dan pemeliharaan sejumlah alat sensor lahar di sepanjang K.Boyong dan K. Bebeng dan penakar hujan yang ada lereng G.Merapi
Aktivitas G.Merapi didominasi oleh gempa guguran walaupun pada saat sekarang sudah mulai menurun baik jumlah maupun energinya. Dilihat dari gempa MP maka bulan Januari 1996 ini mulai terlihat adanya penurunan energi, demikian pula bila kita anggap MP adalah indikasi adanya pertumbuhan kubah lava, maka dari visualpun kubah tidak mengalami pertumbuhan yang begitu cepat.
Rencana kerja Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi Direktorat Vulkanologi tahun anggaran 1996 - 1997 membuat dokumentasi G. Kelut, Jawa Timur dan G. Merapi di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Dokumentasi tersebut merupakan rekaman perkembangan wilayah sesudah letusan dan dokumentasi aktivitas gunungapinya.
Penyelidikan dilakukan terpadu mekanisme G.Merapi untuk memantau, mengamati, dan penanggulangan aktivitas G.Merapi dan sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Alam Gunungapi Direktorat Vulkanologi. Penyelidikan terpadu G. Merapi meliputi kelompok kerja kimia/cospec; seismik/magnet; deformasi/visual, dan kelompok kerja geologi/laharan.
Penyelidikan dilakukan terpadu mekanisme G.Merapi untuk memantau, mengamati, dan penanggulangan aktivitas G.Merapi dan sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Alam Gunungapi Direktorat Vulkanologi. Penyelidikan terpadu G.Merapi meliputi kelompok keja kimia/cospec; seismik/magnet; deformasi/visual, dan kelompok kerja geologi/laharan.
Dalam membantu dalam penentuan batas sebaran awan panas dan penghitungan daya tampung K. Bedog digunakan altimeter saku, penduga jarak (range finder), kompas geologi, pita ukur serta kamera untuk kelengkapan dokumentasi.
A rain-triggered lahar occured in K.Boyong (Southern slope of Merapi volcano) on 19 February 1995. This lahar was the biggest in this channel since 22 November, 1994 Merapi eruption which left more than 2 million cubic meters of pyroclastic flow deposits as far as 6 km from the summit.