Papandayan merupakan salah satu gunungapi strato tipe A, berbentuk kerucut terpancung yang dibangun oleh perselingan aliran lava dan endapan piroklastika aliran dan jatuhan, hingga saat ini G. Papandayan masih terus aktif dengan hembusan solfatara dan fumarol di dasar kawah dan juga bualan-bualan air. Berdasarkan sejarah letusannya, G. Papandayan pernah tercatat beberapa kali meletus.
Gunung Gede sering disebut sebagai Komplek Gunungapi Gede - Pangrango karena letaknya yang berdekatan dan membentuk suatu gunung kembar. Gunungapi Pangrango relatif lebih tua dari pada Gede fan sudah tidak memperlihatkan aktifitas vulaknismenya lagi di sekitar kawasan tersebut diantaranya Gumuruh, Sukaratu, dan Masigit, yang menggambarkan perpindahan pusat vulkanisme di komplek gunungapi ini.
Perkembangan pemukiman di sekitar lereng gunungapi ini sangat pesat, terbukti dengan banyaknya bangnan-bangunan dari tipe sederhana hingga real estate dan villa serta hotel-hotel berbintang yang jaraknya sekitar 6 km dari puncak G. Gede. Disamping itu, aset-aset penting seperti Taman Nasional Cibodas yang merupakan tujuan wisata, perkebunan teh dan Istana Peristirahatan Presiden di CIpanas juga…
Pemukiman di sekitar lereng gunungapi ini cukup padat, malahan di kaki baratdaya G. Salak terdapat lapangan panas bumi yang sudah beroperasi sebagai pembangkit listrik. PAda tahun 1698/1699 terjadi letusan yang merusak dan terakhir pada 1938 terjadi letusan freatik. Untuk mengantisipasi jika terjadi lagi letusan di masa datang, perlu dilakukan pemetaan kawasan rawan bencana untuk mengurangi kor…
Gunungapi Ciremai merupakan salah satu gunungapi aktif tipe A yang pernah mengeluarkan aliran awan panas, aliran lava dan jatuhan piroklastik. Produk yang dikeluarkan gunungapi tersebut dapat membahayakan serta memusnahkan semua yang dilaluinya. Untuk mengantisipasi serta mengurangi korban yang mungkin terjadi, maka perlu dilakukan evaluasi Kawasan Rawan Bencana Gunungapi.
G. Ciremai merupakan salah satu gunungapi aktif dan tertinggi di Jawa Barat dengan elevasi 3078 meter di atas muka laut. Bila dilihat dari rangkaian penyebaran gunungapi di Jawa BArat dari barat ke timur, G. Ciremai merupakan gunungapi soliter yang terpisah daru rangkaian gunungapi lainnya. Fenomena gunungapi soliter ini pada umumnya sering terakait dengan tatanan tektonik yang rumit.
G. Galunggung menempati daerah seluas kurang lebih 275 km2 dengan diameter 27 km (baratlaut-tenggara) dan 13 km (timurlaut-baratdaya). G. Galunggung merupakan gunungapi aktif tipe strato dengan ketinggian 2168 m dpl atau 1820 di atas daratan Tasikmalaya. Sejarah letusan G. Galunggung secara umum bersifat relativ aktif.
G. Galunggung merupakan salah satu gunungapi aktiv tipe A yang ada di Indonesia. Kegiatan vulkaniknya selalu dipantau dari Pos Pengamatan Gunungapi Galunggung di Kampung Sayuran, Desa Padakembang, termasuk kedalam wilayah Kabupaten Singaparna, sekitar 17 km dari Kota Tasikmalaya. G. Galunggung dengan tinggi puncaknya 1.168 m di atas permukaan laut.
Tingkat kegiatan G. Tangkubanparahu pada saat ini adalah "Aktif Normal". Pada tahun 2004 mengalami peningkatan kegempaan yang menyolok, sehingga pada tahun itu gunungapi dinaikkan statusnya menjadi "Siaga" atau level-3, tetapi aktivitasnya tidak sampai terjadi letusan. Letusan yang terjadi paling akhir pada tahun 1994 berupa letusan freatik.
Gunung Salak merupakan gunungapi tipe A dan secara administratif masuk dalam wilayah tingkat II Sukabumi dan Bogor. Gunung ini termasuk dalam tipe Strato dimana tubuh gunung dibangun oleh perlapisan antara aliran lava dan endapat piroklastik. Gunung Salak mempunyai dua buah dinding kawah berbentu tapal kuda yang mengarah ke barat daya dan utara-timur laut.