Pengamatan lapangan kegiatan vulkanik di Kw. Ijen, yaitu untuk melihat perubahan kegiatannya. Ancaman bahaya yang paling menonjol dari kegiatan vulkanik di Kw. Ijen, adalah terhadap kemungkinan terjadinya pelepasan gas racun di sekitar lobang solfatara.
Dalam mengantisispasi perkembangan aktifitas G.Merapi terutama setelah aktifitas G. Merapi menjadi aktif normal, maka pada bulan Agustus diadakan penyelidikan dan pengamatan, terutama untuk mengikuti perkembangan gempa LF dan gempa vulkanik.
Maksud penulisan laporan ini adalah untuk melakukan evaluasi kegiatan vulkanik G.Kelut saat ini, selama perioda November 1992 s/d 10 Maret 1993. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kegiatan vulkaniknya hingga saat ini (selama Desember 1992 s/d Maret 1993)
Dalam menghadapi musim penghujan yang mungkin bisa memicu sistem yang telah seimbang pada gunung Merapi khususnya kegiatan fase banyak yang terus meningkat, maka pada bulan Juli, diadakan perbaikan, perawatan serta kalibrasi untuk peralatan seismik dan magnetik, sehingga bila terjadi krisis maka peralatan diperkirakan masih dalam kondisi baik.
Jumlah gempa vulkanik dangkal G.Slamet terus meningkat sejak tanggal 17 Januari hingga Maret 1991, kemudian disusul oleh peningkatan jumlah gempa permukaan.
Sebagaimana telah diketahui, gunungapi terbentuk apabila magma telah menembus litosfera yang muncul dipermukaan bumi berupa leleran pijar, semburan hancuran pijar atau kedua-duanya menempuh permukaan yang dapat membentuk kubah di gunungapi.
Dalam penanggulangan bahaya letusan gunungapi diperlukan pemantauan yang sangat ketat. Salah satu metode pemantauan untuk mendeteksi denyut dari suatu gunungapi adalah dengan mempelajari gembumi di sekitar dan dibawah gunungapi (volcano seimology)
Kegiatan permukaan G. Sorik Marapi berupa tembusan solfatara/fumarola di kawah puncaknya, kawah-kawah yang ada di lerengnya, seperti kawah Sibanggor Julu di lereng utara, kawah Siunik di lereng timur, dan kawah Sibanggor Tonga di lereng timur laut dekat pos pengamatan.
Pada pengamatan kegempaan gunungapi, seringkali dijumpai sinyal asal gunungapi dengan ciri menerus dan kuasi harmonik. Dari sinyal jenis ini, dipelajari kandungan frekuensi dominan yang merupakan pencerminan dari viskositas dan dimensi kantung fluida. Guna mengetahui kandungan frekuensi dominan, dilakukan perhitungan/estimasi spektral menggunakan transormasi fourier cepat/diskrit.
Gunung Lokon merupakan gunungapi tipe A yang memiliki dua puncak yaitu Gunung Lokon dan puncak Gunung Empung. Sesungguhnya Gunung Lokon dan Gunung Empung adalah gunungapi yang berdampingan dan berbagi waktu erupsi.