Penulis melaksanakan tugas di daerah G. SUndoro berdasarkan Surat Perintah Perjalanan Dinas No.2580/P/85, tertanggal Bandung 12 November 1985.
Pemeriksaan kawah dan pengukuran suhu G. Galunggung dilakukan dari tanggal 17 November s/d 21 November 1984, selama 5 hari. Sedangkan peralatan yang digunakan untuk pemeriksaan ini adalah termometer dan peta topografi kawah G.Galunggung.
Pada Oktober 1984 penulis mendapat tugas melakukan pengukuran suhu di G.Papandayan dan G.Guntur, bersama Sdr. Asep Sugiri dan Unu Hidayat, dengan SPPD No.2117/P/84. Maksud pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui aktifitas solfatara ke dua gunungapi tersebut yang termasuk Daerah Tk II Kab. Garut.
G.Slamet (3432 m) yang terletak di antara Kabupaten Purwokerto, Purbalingga dan Pemalang, adalah gunungapi yang ter-tinggi di Jawa Tengah. Bentuk / topografi lereng sebelah timur timur laut keadaannya agak rata dan teratur. Pada lereng sebelah barat-barat laut keadaannya cukup terjal
Sebagaimana pembaca ketahui bahwa pada 5 April 1982 sampai dengan Januari 1983 di gunung Galunggung terjadi lotusan yang sempat mengundang perhatian ke seluruh dunia. Dengan adanya kegiatan tersebut di atas, maka jelas keadaan kawah dan sekitarnya akan mengalami perubahan. Oleh karena itu Kasi Pemetaan Topografi, Sub Dit Ponetaan Gunungapi se-nganggap perlu diadakan lagi pengukuran topografi…
Berdasarkan SPPD no. 3776/P/84 kami bersama para Pengamat dari Pos Pengamatan G.Merapi ditugaskan untuk melakukan pengamatan, pemeriksaan,serta pengukuran suhu solfatara di G.Merapi.
Pemeriksaan kawah serta pengukuran suhu kali ini dapat kami katakan sedikit kurang menguntungkan karena adanya beberapa faktor yang terjadi setelah letusan 15 Juni 1984. Diantaranya ialah tidak adanya peralatan yang memadai, misalnya alat/pelindung panas dan gas, disamping cuaca yang buruk serta kepulan asap yang tebal dari pusat kegiatan.
Pemeriksaan kawah dan pengukuran suhu dilakukan untuk mengetahui tingkat kegiatan G. Guntur dan G. Papandayan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya, yaitu berdasarkan keadaan kawah, solfatara dan suhunya.
Di sekitar G. Merapi dipasang 6 stasiun/lokasi di sekitar 4 buah lokasi, sebelah timur 1 lokasi dan sebelah selatan 1 lokasi, jarak dari puncak minimal 2,5 km dan maksimum 6 km. Sedangkan untuk memonitor G. Kelut dengan metode Dry Tilting telah dipasang sebanyak 7 stasiun yang dipasang di lereng sebelah utara dan barat dengan jarak min 1/2 km dan max 7km dari puncak.
Pada tanggal 5 April 1982 G.Galunggung meletus maka Direktorat Vulkanologi dengan segala daya upaya serta kemampuan yang ada dikerahkan untuk memonitor kegiatan selanjutnya oleh para ahli Indonesia maupun luar negri.