Sehubungan dengan saran Sdr. Sadjiman dari laporan pengamatan K. Putih dan K. Batang datanggal * Maret 1977, yaitu alangkah baiknya bila diadakan survey K. Blongkeng, K. Putih, dan K. Bebeng, dan sesuai dengan rencana seksi PETAPI.
Dilihat dari rata - ratanya ternyata kadar HC1 dari contoh gas tanggal 8 September 1974 dan tanggal 16 Februari 1975 dalam jangka waktu kira - kira 5 bulan, tidak jauh berbeda, yaitu masing - masing 4601 ppm dan 4506 ppm, walaupun keadaan suhu gas serta lokasinya jauh berbeda.
Pengukuran kubah lava bertujuan untuk mengetahui "volum pendekatan" nya. Disini penulis menggunakan istilah "volum pendekatan", karena berdasarkan cara - cara pengukurannya, antara lain sebagai berikut: a) puncak kubah lava diukur dengan "aanpeilingen" dari 2 tempat titik tetap. b) disesuaikan dengan peta ukuran puncak G.Merapi, yang dilakukan oleh penulis sendiri pada tahun 1962.
Untuk melengkapi kebutuhan data koordinat dan tinggi di atas muka laut di pos pengawasan G. Mrapi (Selo, Jrakah, Deles), telah dilakukan pengukuran untuk hal tersebut
Sebelum kejadian longsoran yang dimulai pada tgl 22 September, jam 15.00 turun hujan lebat dengan curah hujan yang tercatat di Plawangan rata - rata 83 mm per jam selama lk 3 jam. Longsoran diiringi awan panas hingga sejauh lk. 6 km kejurusan K.Batang dan Bebeng.
Penyelidikan geomagnet G.Merapi dengan sistem telemetri radio telah dimulai sejak tahun 1978. Namun sampai saat ini masih sering juga timbul persoalan, misalnya kerusakan sensor akibat petir, kerusakan regulator pada sistem catu daya, dan sebagainya.
Sesuai dengan nota dinas Asisten Ekbang/Kesra untuk Sekretaris Wilayah/Daerah Tk. I Propinsi Sumatera Barat No. 4/BKLH/1988 tanggal 7 Januari 1988, perihal Pemberangkatan Tim Geologi penelitian Bahaya Letusan Gunung Merapi dan Bahaya Gelodo Gunung Talang, sebagai realisasi dana bantuan Gubernur Kepala Daerah Tk. I Propinsi Sumatera Barat kepada Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi Sumatera…
Dalam laporan lapangan ini penulis menitik beratkan tentang aliran lahar hujan, terutama mengenai keselamatan kampung - kampung yang terletak disekitar jalur - jalur sungai yang kemungkinan akan dilaluinya. Hal ini berhubungan dengan gejala - gejala kenaikan kegiatan G. Merapi pada bulan Mei 195.
Pengukuran kubah lava di G. Merapi direncanakan setiap 6 bulan, apabila gunung tersebut dalam keadaan normal. Keadaan normal berarti, gunung yang bersangkutan tidak menunjukan peningkatan kegaiatan.
G.Merapi adalah gunungapi yang paling aktif di seluruh Indonesia. Pada waktu bekerja giat dibangunlah kubah lava yang kemudian dihancur-kan lagi. Kegiatan yang bersifat membangun dan merusak ini mengakibat-kan tingginya selalu berubah. Pada pengukuran 1962 tinggi G.Merapi a-dalah + 2947 m di atas muka laut. Titik ketinggiannya selalu berpindah-pindah. Oleh karenanya daerah yang terancan bahaya …