Text
Laporan Survei Rinci Magnetotelurik (Mt) dan Time Domain Electromagnetic (Tdem) Daerah Panas Bumi Adum Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pada tahun 2002, telah dilaksanakan survei terpadu geologi, geokimia dan geofisika (gaya berat, geomagnet dan geolistrik) di daerah panas bumi Adum, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan survei rinci magnetotellurik (MT) dan Time Domain Electromagnetic (TDEM) dilaksanakan pada tahun 2023 untuk mendapatkan data bawah permukaan yang berkorelasi dengan sistem panas bumi di daerah ini sehingga data-data keprospekan panas buminya akan lebih terlihat dengan jelas.
Berdasarkan data tahun 2002, geologi daerah survei terdiri dari batuan gunung api yang sudah terendapkan di laut dalam Formasi Kiro maupun Formasi Nangapanda. Selain itu juga terdapat gunung api kuarter dan juga batuan vulkanik produk Ile Mingar dan juga produk Ile Labalekang. Struktur sesar yang berkembang kebanyakan berupa sesar normal dengan arah yang bervariasi dari baratdaya-timurlaut, barat-timur dan baratlaut-tenggara. Manifestasi panas bumi yang ada di daerah survei terbagi atas tiga (3) kelompok mata air panas yakni mata air panas Adum yang bertipe klorida, mata air panas Bata yang bertipe bikarbonat dan mata air panas Boto yang bertipe sulfat. Geotermometer suhu bawah permukaan menunjukan kisaran temperatur minimum antara 169.90C –
210.28C. Hasil dari survei terpadu tersebut mendapatkan besarnya sumber daya panas bumi sebesar 36 MWe pada kelas cadangan mungkin.
Metode MT dan TDEM yang digunakan dalam survei rinci pada tahun
2023 memanfaatkan medan elektromagnet (EM) untuk mengetahui parameter fisik batuan bawah permukaan berupa resistivitas (tahanan jenis). Metode MT ini memiliki penetrasi hingga lebih dari 3 km di kedalaman yang saat ini merupakan metode yang cocok dalam mendiferensiasi parameter-paremeter dalam sistem panas bumi. Sedangkan metode TDEM digunakan sebagai data untuk mengkoreksi data MT di permukaan yang sering mengalami pergeseran (shifting) dikarenakan oleh lapisan inhomogenitas dekat permukaan dan juga topografi lapangan.
Jumlah data yang diperoleh sebanyak 35 data dengan jarak antar titik pengukuran sekitar 1000 meter. Sebaran titik pengukuran ini melingkupi mata air panas Adum, mata air panas Bata dan mata air panas Boto. Dari 35 data, 74 % data termasuk dalam data dengan kualitas sangat bagus sedangkan sisanya 26
% termasuk ke dalam kualitas data bagus.
Tidak tersedia versi lain