Text
Laporan survei rinci geokimia daerah panas bumi Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara
Keberadaan sistem panas bumi Sipoholon ditandai oleh kehadiran manifestasi panas bumi di permukaan berupa mata air panas kelompok Sipoholon (kelompok 1) dan Sibaragas (kelompok 2) dengan temperatur air panas terukur sebesar 35°C hingga 64°C, ber-pH relatif netral dan memiliki debit antara 0,01 liter/detik hingga 10 liter/detik. Kontrol Sesar Sumatera di daerah Sipoholon dan sekitarnya mengakibatkan terbentuknya 2 karakteristik manifestasi panas bumi yang berbeda. Kelompok air panas 1 yang berada tepat pada sesar permeabelnya memiliki endapan sinter travertin sangat tebal, bertemperatur lebih tinggi, pH netral, dan memiliki debit yang lebih besar, serta mengeluarkan bualan gas bertekanan relatif tinggi dengan sedikit terdeteksi gas H2S. Kelompok air panas 2 yang berada di luar area sesar permeabelnya memiliki endapan oksida besi, bertemperatur lebih rendah, pH netral hingga sedikit agak asam dan debit yang lebih kecil, serta jarang mengeluarkan bualan gas hingga mengeluarkan bualan gas yang lemah dan bersifat tidak menerus.
Pengaruh air meteorik pada sampel air dan gasnya mengakibatkan fluida panas bumi yang diperoleh menjadi tidak ideal untuk mencerminkan kondisi reservoir panas bumi sesungguhnya. Fluida panas bumi dari reservoir sistem panas bumi Sipoholon yang diperkirakan paling rendah bertemperatur 117°C - 183°C, dalam perjalanannya melepaskan gas saat mengalami boiling akibat perbedaan tekanan, berkaitan dengan migrasi fluida (steam) dari reservoir yang dalam. Senyawa bikarbonatnya yang berasal dari proses pelarutan mineral karbonat batuan pada temperatur lebih tinggi, kemudian secara perlahan terendapkan kembali menjadi sinter karbonat atau travertin di permukaan pada kondisi temperatur yang lebih rendah di kelompok air panas 1. Sedangkan fluida panas pada kelompok 2 diduga merupakan hasil kondensasi fluida panas (steam) yang bermigrasi dari kedalaman terhadap air permukaan dan menghasilkan endapan oksida besi di permukaan. Peristiwa di dekat permukaan tersebut diikuti juga oleh konversi HCO3 menjadi CO2, sehingga konsentrasi gas karbondioksida menjadi lebih tinggi. Gas karbondioksida yang dominan tersebut diikuti oleh sedikit konsentrasi H2S, namun tidak berasosiasi dengan HCl, serta memiliki konsentrasi Ar yang tinggi memperkuat indikasi bahwa fluida panas yang diperoleh berasosiasi dengan gas atmosferik atau air meteorik.
Pendekatan identifikasi area prospek panas bumi Sipoholon berdasarkan hasil analisis tanah dan udara tanah berasosiasi dengan zona anomali temperatur tinggi dan gas karbondioksida di sekitar manifestasi panas bumi.
Tidak tersedia versi lain