Kunjungan dalam 1980 ini dimaksudkan untuk melihat Peta Daerah Bahaya sementara yang ada secara langsung di lapangan sehubungan permintaan Pemerintah Daerah Bitung mengingat rencana perluasan tatakota serta pengembangan lingkungan daerah tersebut. Secara kebetulan saja, daerah bahaya G.Tongkoko ini termasuk daerah cagar alam atau hutan lindung yang sampai saat ini masih belum berpenduduk. Hanya…
Dalam rangka pemeriksaan G. Matalelu pada bulan April 1076, Sdr. Rivai Chaniago B.Sc dan penulis sempat mengadakan peninjauan ke G. Colo di pulau Una Una, selama 4 hari. P. Una Una terletak pada posisi geografi 121 derajat 36 menit Bujur Timur dan 0 derajat 10 menit Lintang Selatan, yaitu di teluk Tomini, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Pencapaiannya dari Poso menggunakan perahu motor, yang da…
Surat dari pemerintah daerah tingkat I Sulawesi Tengah tertanggal 15 Maret 1976, No. Ditbang 2/55/481, tentang letusan G. Natalulu, menyebutkan antara lain; 1) Batu bara dari puncak gunung semakin banyak di sekitar kaki gunung dan berbau belerang; (2) Semburan api keluar, pohon pohon dipuncak gunung terbakar; (3) Di waktu siang hari nampak asap mengepul di puncak gunung; (4) Gunung tersebut pad…
Pasca letusan G. Inelika 11 Januari 2002, telah merubah anggapan masyarakat setempat terhadap keberadaan G. Inelika yang sebelumnya hanya menganggap sebuah bukit (gunung) mati dan dapat diperlakukan apa saja, kini masyarakat telah sedikit banyak mulai ''memperhitungkan" keberadaanya, hal terbukti ketika Tim Direktorat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geolohi mewawancara mereka pada tanggal 27 da…
Selama ini seismisitas masih menjadi faktor terpenting dalam menentukan tingkat aktivitas menjelang krisis. Namun pada erupsi 2006, disamping data seismik, data EDM juga berperan dalam penentuan tingkat aktivita G. Merapi. Aktivitas baru yang mengarah ke letusan tanggal 14 Juni 2006 sebenarnya sudah terdeteksi dari perubahan yang nampak pada data pengukuran EDM dari Pos Babadan tahun 2003.
Keberadaan sebuah gunungapi di suatu wilayah membawa dua hal yang saling berlawanan. Keberadaannya bisa menguntungkan karena mendukung perekonomian penduduk sekitarnya baik dari bidang pertanian ataupun pariwisata. Tetapi dari sisi lain gunungapi juga menyimpan bahaya yang dapat merusak kehidupan.
Gunungapi Guntur termasuk gunungapi aktif Tipe A yang terletak di Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat, lk. 60 km di sebelah timur kota Bandung. Nama Guntur mempunyai arti suara yang menggelegar, (dalam bahasa Belanda DIndenberg, Matahelemual, 1989) seperti pada saat hujan bersamaan dengan halilintar, kilat, guntur, dan guruh.
Sejarah kegiatan G. Guntur menunjukkan bahwa letusan besar magmatik terkahir yang mengahasilkan aliran lava terjadi pada 1840, sedangkan letusan berikutnya yaitu pada 1841, 1843 dan 1847 hanya disebutkan letusan sangat besar namun tidak dilaporkan adanya aliran lava. Jadi sejak 1840 hingga 2003 gunungapi ini telah mengalami masa istirahat selama 163 tahun yang berarti telah mencapai lebih dari …
Gunungapi Raung atau Rawon termasuk gunungapi strato yang paling aktif, seperti gunung Merapi dan gunung Semeru, Tumbulah di sebelah Barat kompleks kaldera Ijen, termasuk di Kabupaten Bondowoso, Jember dan Banyuwangi propinsi Jawa Timur. Gunung raung merupakan gunungapi raksasa di bagian timur pulau jawa, yang memiliki kaldera di bagian puncaknya.
Gunungapi Patuha termasuk gunungapi tipe B (Neuman van Padang, 1951) yang terletak di wilayah kabupaten Bandung,Provinsi Jawa Barat, lk.80 km di selatan kota Bandung dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat selama 2 jam. G. Patuha ini dapat dipandang sebagai Gunungapi Kembar (twin volcanoes) karena mempunyai dua buah kawah yakni Kawah Taman Saat atau sering disebut Patuha Kaler (terletak …