Kegiatan G. Kelut sejak letusan terakhir (Februari 1990), tidak menunjukkan perubahan vulkanis yang mencolok. Data suhu berkisar antara 39-43 C, begitu juga kegiatan seismik hanya terjadi gempa - gempa tektonik saja. Namun mulai bulan Mei 1996 data suhu air danau kawah berangsur-angsur meningkat menjadi 46-51 C. Data suhu ini hampir sama dengan suhu air danau menjelang erupsi pada th 1990.
Ciri erupsi G.Semeru sejak 1967 adalah letusan bertipe vulkanian - strombolian yang terjadi pada interval antara 20 menit sampai 1 jam. Erupsi yang besar disertai oleh aliran lava, awan panas, dan lahar. Aktifitas gunungapi ini diamati terus menerus oleh Direktorat Vulkanologi dari 3 Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yaitu Tawonsongo sebelah timur, di G. Sawur sebelah selatan dan di Argosuko sebe…
Seksi Jawa Bagian Tengah dan Timur, pada triwulan pertama tahun 1995, diawali dari G.Slamet dibangun bak dari tembok tempat penyimpanan beberapa instrumen alat pemantauan seismik, dari pembangunan baik ini diharapkan dapat menghindari sekecil mungkin gangguan yang bakal terjadi.
Pada 5 Oktober 1995, dilakukan pemerksaan Kawah Jonggring Seloko di Puncak G. Semeru. Dari hasil pemeriksaan tersebut terdapat perubahan dasar kawahnya jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan tahun 1994.
Dari sejarah letusan G.Slamet yang tercatat mulai tahun 1772 sampai tahun 1992, letusan yang terjadi hanya berupa letusan abu, letusan lava pijar dan peningkatan kegiatan seismik ( Kusumadinata, 1979).
Dari beberapa pemantauan visual yang dilakukan di G.Semeru, salah satunya adalah pemantauan lidah/kubah lava di puncak. Kemudian, dilakukan juga perbaikan seismograf yang rusak dan pembenahan lokasi pemasangan seismometer.
G. Semeru merupakan gunungapi tertinggi di P.Jawa, puncak tertinggi dikenal Mahameru (+3676) tetapi menurut Data Dasar Gunungapi Indonesia, pada pengamatan tahun 1973 Kawah Jonggring Seloko yang terbentuk tahun 1913 mempunyai kubah lebih tinggi dari Puncak Mahameru yaitu 3744.5 meter.
Puncak dari peningkatan kegiatan vulkanik Kawah Ijen ini diperlihatkan dengan terjadinya beberapa kali letusan freatik pada 3, 4, 7 Juli dan 1 Agustus 1993. Kegiatan vulkanik ini dianggap merupakan peningkatan kegiatan yang cukup menonjol secara visual maupun seismik dalam sejarah pengawasan Direktorat Vulkanologi terhadap Kw. Ijen.
G.Kelut merupakan salah satu gunungapi berbentuk strato yang masih aktif, mempunyai ketinggian +1731 meter di atas permukaan laut, atau +1650 meter di atas dataran kota Kediri.