G, Ruang dengan ketinggian 714 m dari permukaan laut termasuk gunungapi aktif bertipe strato yang terletak kurang lebih 2 km sebelah barat daya P, Tagulandang Sulawesi Utara, pada posisi geografi 2°17' LU dan 125° 25,5', seperti terlihat pada gambar 1.1. Gunung ini telah dikenal sejak tahun 1603, tetapi peningkatan kegiatannya baru diketahui pertama kali tahun 1808. Akibat letusan yang terjad…
G. Lokon yang terdiri dari Puncak Lokon dan G. Empung merupakan gunung api aktif yang letusannya telah dikenal sebagai eksplosif. Frekuensi letusannya menunjukan peningkatan terhadap selang waktu terjadinya letusan. Hal ini dapat dilihat dari sejarahnya dimana sebelum th.1800 mempunyai selang waktu letusan yang sangat lama (400th), meningkat 2 kali terjadi letusan dalam kurun watu 100 tahun kem…
Dalam periode Pelita V tahun anggaran 1991-1992, telah diberangkatkan satu tim pemetaan daerah bahaya gunung api dari seksi penanggulangan Bahaya gunung api, Sub Direktorat Pemetaan Gunung api, Direktorat Vulkanologi ke G. Soputan, Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara
Daerah penyelidikan Lembar Morotai A-3 secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Utara dan dan Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara dengan luas penyelidikan sekitar ± 750 km2. Pengolahan geokimia terhadap 75 sampel sedimen sungai, dilakukan dengan analisis statistika yang kemudian dimodelkan dengan menggunakan system informasi geografis. Analisis statistik yang digu…
Dalam upaya untuk mengetahu karakteristik deformasi Gunungapi Batur, dilakukan penelitian menggunakan metode-metode geodetik seperti Sipat Datar, EDM, GPS dan InSAR, dengan maksud untuk memperoleh informasi pada tubuh Gunungapi Batur, baik dalam arah horisotal maupun vertikal yang kemudian dapat dipergunakan untuk mengetahui karakteristik deformasinya.
lapangan panasbumi Kamojang telah mengalami penurunan kadar air hingga 20%, sehingga menyebabkan turunnya produksi uap. Upaya peningkatan produksi uap terebut dengan cara injeksi air pada sumur-sumur yang sudah tidak produktif.
Sejarah nama jalan di Kota bAndung tahun 1907 - 1941 mencerminkan dinamika politik dan sosial kolonial. Setelah menjadi Gemeente pada 1906, di kota Bandung mulai digunakan nama-nama jalan yang menegaskan kekuasaan kolonial. beberapa diantaranya diambil dari nama pulau-pulai di Hindia Belanda , Provinsi di Belanda, pelukis Belanda, dan anggota kerajaan Belanda, serta nama gubernur jenderal Hindi…