Longsoran lava dan awan panas meluncur mengikuti hulu S. Batang ke arah Barat Daya. Endapan longsorang dan Ladu terdapat pada lembah S. Batang, S. Bebeng, S. Blongkeng dan sebagian meluber di sekitarnya sungai-sungai tersebut di atas. Hujan abu bercampur dengan pasir halus yang mempunyai ketebalan antara 3 s/d. 4 mm. mempunyai luas kurang lebih 53.125.000 m2.
Pelaksanaan pekerdjaan ini sesuai dengan tugas jang diberikan oleh Kepala Urusan Vulkanologi, jaitu pemindahan pesawat gempa elektromaknetik di Bojolali, serta kalibrasi pesawat2 gempa lainnja disekitar G.Merapi dan G.Kelut.
Periode kegiatan G. Merapi ini dimulai sedjak Djanuari 1967 jang didahului olch auanpanas-auanpanas letusan. Disusul muntjulnja lava ba-ru.Titik kegiatan tepat pada kegiatan tahun 1961. Pembentukan kubah lava berlangsung terus, diselingi oleh awanpanas-asan-pansa guguran dan letusan.
Diantara gunung-gunung berapi di Indonesia G. Merapilah yang paling aktif. Kalau kita melihat sejarah kegiatannya sejak tahun 1991 maka gunung api tersebut dalam jangka waktu 72 tahun lebih banyak bekerja daripada tidak.. Kecuali menurut kenyataan bahwa G. Merapi sering bekerja dan hampir tiap kegiatan menyemburkan awan panas, maka G. Merapi tergolong yang paling berbahaya di Indonesia.
Pada tanggal 8 September 1974, satu team yang berjumlah 5 orang terdiri dari dua orang Seksi Petapi, 2 orang dari Labolatorium Kimia Mineral dan 1 orang lagi di Cabang Dinas Volkanologi Yogyakarta telah mengadakan pendakian ke puncak kawah Gunung Merapi di Jawa Tengah.
Perjalanan ke G. Merapi (Plawangan - Babadan) dilakukan selama 20 hari terhitung dari tanggal 26 Maret - 14 April 1959.
Berita interlokal tgl 25 Djuni 1957 dari Pusat Pendjagaan Merapi di Djokja kepada Pusat Djawatan Geologi di Bandung, melaporkan bahwa, G. Merapi tambah giat. Guguran - guguran benda - benda berapi dari puntjak Trising terus - menerus, turun ke Sektor Trising- Senowo.
Termasuk lanjutan pemintaan Kep. U.G.A Jogyakarta tgl 11 Mei 1954 No. 249/60/UGA/M/54 dan dengan surat perintah Kep. Djawatan Pertambangan Tjb. Jogjakarta tgl 17 Juli 1954 No. 116/Um, penulis mengerjakan Trianguleren di Pos U.G.A Krindjing.
Sehubungan dengan surat tugas No. 125/Um. tgl 28/8-1954 dari Kepala Cabang Djawatan Pertambangan Yogyakarta, beserta Sdr. Merkum maka kami mulai menyelenggarakan bunyi pasal 2 (Mengadakan peilingen ke bagian - bagian dari puncak), dari surat No. 249/60/UGA/M/54 tertanggal 11 Mei 1954 oleh Kepala U.G.A Yogyakarta.