Laporan ini merupakan kumpulan informasi yang diperoleh dari kelompok kerja Seismik/Magenetik, Kantor Seksi Penyelidikan Gunung Merapi, yang telah memanfaatkan komputer baik dalam hal, pengolahan data sampai dengan penyimpanan data kegiatan G. Merapi. Penulis melakukan pengamatan sistem tersebut di Yogyakarta dari tanggal 14 Mei sampai 27 Mei 1992.
Penyelidikan dan pemantauan geokimia di G.Merapi meliputi kegiatan pengambilan cuplikan gas, kondensat, sublimat, aerosol, batuan/lava dan pengukuran temperatur di solfatar - solfatar puncak Merapi
Penyuluhan dilaksanakan di daerah Kabupaten Sleman yang meliputi tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Tempel, Kecamatan Pakem dan Kecamatan Turi, pada tanggal 15, 16, dan 17 Juli 1992. Lokasi penyuluhan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat.
Dalam menghadapi musim penghujan yang mungkin bisa memicu sistem yang telah seimbang pada gunung Merapi khususnya kegiatan fase banyak yang terus meningkat, maka pada bulan Juli, diadakan perbaikan, perawatan serta kalibrasi untuk peralatan seismik dan magnetik, sehingga bila terjadi krisis maka peralatan diperkirakan masih dalam kondisi baik.
Penyelidikan dan pemantauan geokimia di G.Merapi meliputi kegiatan pengambilan cuplikan gas, kondensat, sublimat, aerasol, batuan/lava dan pengukuran temperatur di solfatar - solfatar puncak Merapi.
Dalam rangka pemantauan tingkat aktivitas Gunung Merapi telah dilakukan pemantauan secara terpadu dari berbagai bidang yaitu geokimia, seismik, deformasi, dan laharan.
Dalam rangka mengantisipasi peningkatan aktivitas gas Gunung Merapi telah dilakukan pemantauan secara kimia yaitu dalam bidang geokimia gas. Kegiatan penyelidikan meliputi pengambilan dan analisis kimia gas vulkanik dan pengukuran temperatur di lapangan solfatar Gendol G.13 dan Woro. 30 di Puncak G.Merapi. Selain itu, dilakukan pula cuplikan udara bebas di puncak G.Merapi.
Pada tanggal 31 Januari 1992 dilakukan pengamatan di puncak G. Merapi yang pada saat itu volume kubah lava diperkirakan sudah mencapai sekitar 2 juta meter kubik. Hingga bulan Juli 1992 kubah lava masih menunjukkan pertumbuhannya. Dengan terjadinya aktivitas 1992 ini, jelas keadaan di puncak akan banyak mengalami perubahan di permukaannya. Untuk itu perlu dilakukan penngamatan langsung ke lapan…
Pada tanggal 31 Januari 1992 dilakukan pengamatan di puncak G. Merapi yang pada saat itu volume kubah lava diperkirakan sudah mencapai sekitar 2 juta meter kubik. Hingga bulan Juli 1992 kubah lava masih menunjukkan pertumbuhannya. Oleh sebab itu perlu segera dilakukan pengukuran volume kubah lava. Data volume kubah lava ini sangat penting dari segi ilmiah menyangkut kecepatan pertumbuhannya dan…
Penelitian laharan dan geologi di daerah K.Putih dan sekitarnya dimaksudkan untuk menentukan penyebaran lahar yang terjadi sebagai akibat aktivitas G. Merapi yang telah berlangsung. Hasil perhitungan volume material yang tersebar dikaitkan dengan perhitungan volume kosong akan dapat diketahui volume lahar yang mungkin terjadi dan kemungkinan daya tampung sungai yang dilalui.