Gunung Guntur adalah nama sebuah puncak dari suatu kelompok gunungapi yang disebut dengan Komplek Gunung Guntur. Komplek Gunung Guntur ini terdiri atas beberapa kerucut, yaitu Gunung Masigit (2249) yang merupakan kerucut tertinggi. Ke arah tenggara dari Gunung Masigit terdapat Gunung Parukuyan (2135m), Gunung Kabuyutan (2048) dan Gunung Guntur.
Gunung Gede merupakan salah satu gunungapi yang banyak dikunjungi para wisatawan dan pencipta alam. Hutan sekitar Gunung Gede mempunyai daya tarik tersendiri; alamnya yang subur, indah, sejuk, dan sebagai pusat tempat tumbuhnya aneka ragam jenis tumbuhan; merupakan hutan/taman wisata. Selain itu penduduk yang bertempat tinggal di sekitar G. Gede cukup padat.
G. Kelud merupakan gunungapi berbentu strato yang masih aktif dengan mempunyai danau kawah di puncaknya. Gunungapi Kelut terletak di Propinsi Jawa Timur yang mencakup tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Dalam catatan sejarah kegiatan letusan, gunungapi ini pernah beberapa kali memporak-porandakan ratusan desa/kampung berikut lahan pertanan dan m…
Komplek G. Arjuno - Welirang adalah gunungapi tipe A yang mempunyai beberapa kerucut di puncak. Kerucut-kerucut ini terbentuk karena adanya perpindahan titik letusan yang terletak dalam satu garis lurus berarah Tenggara-Barat laut. Kelurusan ini merupakan sesar normal memanjang. G. Arjuno Welirang mempunyai banyak kawah.
Dari 129 gunungapi aktif di Indonesia (Tipe A, B, dan C) terdapat 79 gunungapi tipe-A dan 65 buah gunungapi Tipe-A yang dipantau secara kontinyu, satu diantaranya adalah G. Galunggung yang terletak di Kab, Tasikmalaya dan Kab. Garut, Propinsi Jawa Barat. G. Galunggung terakhir meletus pada 5 April 1982 - 19 Mei 1983, merupakan fase letusan yang menghancurkan 80% kubah lava Gunung Jati.
Disepanjang P. Sumatera, jawa, bali, nusatenggara, maluku dan sulawesi utara tersebar sebanyak 129 buah gunungapi aktif, 79 gunungapi diantaranya sangat aktif dan berbahaya. Selama dua abad terakhir tidak kurang dari 200.000 jiwa yang menjadi korban letusannya dan tidak terhitung kerusakan harta bendanya.
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya bertanggung jawab untuk melakukan pengaatan, pemantauan dan penjagaan terhadap 129 gunungapi aktif di Indonesia melalui satu jaringan 68 pos pengamatan gunungapi.
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Energi Dan Sumber daya Mineral, memiliki wewenang untuk melakukan pengamatan, pemantauan dan penjagaan terhadap 129 ginungapi aktif di Indonesia melalui 68 pos pengamatan gunungapi.
Kegiatan pemantauan dan penyuluhan ini dilakukan pada lokasi akibat letusan G. Lewotobi Laki - laki (+1584m) pada 1 Juli 1999 pukul 10.59 WITA, yang telah menimbulkan kebakaran hutan akibat lontaran bom vulkanik (batu pijar). Kegiatan penyuluhan gunungapi telah dilakukan bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Daerah Bahaya.
Maksud kegiatan ini sebagai realisasi dari Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi NTB dan NTT sesuai dengan tugas dan fungsi Kanwil, untuk itu maka perlu dilakukan pemantauan untuk mengetahui antara lain sejauh mana penerapan Daerah Bahaya Gunungapi (Kawasan Rawan Bencana Gunungapi), kaitannya dengan pengembangan lingkungan pembangunan di sekitar gunungapi.