Pada tanggal 8 September 1974, satu team yang berjumlah 5 orang terdiri dari dua orang Seksi Petapi, 2 orang dari Labolatorium Kimia Mineral dan 1 orang lagi di Cabang Dinas Volkanologi Yogyakarta telah mengadakan pendakian ke puncak kawah Gunung Merapi di Jawa Tengah.
Perjalanan ke G. Merapi (Plawangan - Babadan) dilakukan selama 20 hari terhitung dari tanggal 26 Maret - 14 April 1959.
Berita interlokal tgl 25 Djuni 1957 dari Pusat Pendjagaan Merapi di Djokja kepada Pusat Djawatan Geologi di Bandung, melaporkan bahwa, G. Merapi tambah giat. Guguran - guguran benda - benda berapi dari puntjak Trising terus - menerus, turun ke Sektor Trising- Senowo.
Pada tg.18 Djanuari 1954, suasana keadaan di sekitar daerah Merapi gelap tertutup kabut tebal. G.Merapi tidak tam-pak sama sekali. Kira2 pada djam 11. pagi, terdengar suara 2 guruh hebat dari djurusan Merapi dan tak lama kemudian menju-sul asap ban jak menembus dari dalam kabut membubung tinggi diudara jang warmanja kamerah2-Xan dan soland jutnja menerang-kan, bahwa pada tig. 20 pagi, G.Merapi …
Termasuk lanjutan pemintaan Kep. U.G.A Jogyakarta tgl 11 Mei 1954 No. 249/60/UGA/M/54 dan dengan surat perintah Kep. Djawatan Pertambangan Tjb. Jogjakarta tgl 17 Juli 1954 No. 116/Um, penulis mengerjakan Trianguleren di Pos U.G.A Krindjing.
Sehubungan dengan surat tugas No. 125/Um. tgl 28/8-1954 dari Kepala Cabang Djawatan Pertambangan Yogyakarta, beserta Sdr. Merkum maka kami mulai menyelenggarakan bunyi pasal 2 (Mengadakan peilingen ke bagian - bagian dari puncak), dari surat No. 249/60/UGA/M/54 tertanggal 11 Mei 1954 oleh Kepala U.G.A Yogyakarta.
After the volcanic destruction in 1931 the W foot of the mountain was harassed by heavy banjirs, which beat in pieces the bridges and covered fields with sand. The banjir problem of the Merapi was studied in detail by K.G.R. Schmidt, a separate detailed report about this is in preparation by him.
A good 20 km2 terrain, with 13 kampungs completely and 20 kampungs has partly destroyed by the big eruptions of December 18 and 19, 1930, causing 1369 men and a good 2100 big cattle killed and more than 1100 house lost.
After the December eruption 1930, the laducourses of Merapi Volcano, Central Java previously showed no water circulation, expect at big rainfall, which caused shorthliving banjirs.