Aktivitas gunungapi yang salah satunya dimonitor dengan metoda seismik terus dikembangkan sehingga dapat memberikan informasi secara cepat dan tepat. Real Time Seismic Measurement (RSAM) merupakan teknik penghitungan amplituda seismik yang digunakan untuk menghitung energi yang dibawah oleh gelombang seismik.
Status Gunung Merapi telah dinaikkan dari siaga menjadi "awas" sejak pukul 06.00 WIB, pada hari Senin 25 Oktober 2010. Peningkatan status ini disebabkan aktivitas kegempaan Merapi yang terus meningkat. Berkaitan dengan meningkatnya status Gunung Merapi tersebut, maka perlu adanya pendokumentasian dari visual Gunung Merapi yang kontinyu dan terbaru.
Lahar adalah istilah vulkanologi yang berasal dari Indonesia untuk menggambarkan fenomena aliran (panas atau dingin) dari campuran air dan bahan-bahan material vulkanik dalam ukuran abu, pasir sampai dengan bongkahan batuan berukuran meter yang mengalir menuruni lereng gunung dan (atau) lembah-lembah sungai.
Sejak tanggal 20 September 2010 pukul 16.00 WIT status G. Merapi dinaikkan dari Normal menjadi Waspada, sehubungan dengan terjadi peningkatan kegiatan secara seismik. Peningkatan kegiatan terus berlanjut sehingga pada tanggal 21 Oktober 2010 status dianaikkan menjadi Siaga, dan pada tanggal 25 Oktober 2010 status kegiatan G. Merapi dinyatakan awas.
Aktivitas G. Merapi mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan sejak awal September 2010. Kemudian pada 20 September 2010 tingkat aktivitas dinyatakan dalam tingkat Waspada. Sejak itu kegiatan sosialisasi dilakukan secara intensif dengan sasaran semua desa yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III G. Merapi.
G. Merapi merupakan salah satu gunungapi yang teraktif di dunia dan telah menjadi laboratorium alam gunungapi. Gunung ini secara teratur 2-7 tahun sekali mengalami peningkatan aktifitas. Secara administratif terletak dalam wilayah 3 (tiga) Kabupaten yaitu, Kabupaten Sleman, Mageng, dan Boyolali dengan posisi geografis.
Aktivitas Gunung Merapi, mulai menunjukkan peningkatan pada bulan September 201. Gelajar aktivotas G. Merapi belum terlihat dipermukaan secara visual, tetapi secara instrumental baik kegempaan G. Merapi, deformasi dan geokimia menunjukkan pepingkatan yang signifikan dari kondisi normal. Status G. Merapi meningkat dari "Status Normal" menjadi "Status Waspada".
Selama ini seismisitas masih menjadi faktor terpenting dalam menentukan tingkat aktivitas menjelang krisis. Namun pada erupsi 2006, disamping data seismik, data EDM juga berperan dalam penentuan tingkat aktivita G. Merapi. Aktivitas baru yang mengarah ke letusan tanggal 14 Juni 2006 sebenarnya sudah terdeteksi dari perubahan yang nampak pada data pengukuran EDM dari Pos Babadan tahun 2003.
Sejak Awal September 2010, Aktivitas Seismik G. Merapi meningkat tajam hingga status aktivitas dinaikkan menjadi "Waspada" pada 20 september 2010. Untuk itu perlu dilakukan penguatan sisten monitoring seismik untuk menjamin ketersediaan data yang real-time dan akurat. Penyediaan informasi secara real time yang dapat menginterpetasikan energi seismik secara cepat harus dilakukan.
Letusan gunung Merapi tahun 2010 merupakan letusan yang cukup dahsyat di banding dengan letusan 10 tahun terakhir ini. Aktifitas vulkanik tahun 2010 kalau dibandingkan dengan letusan tahun 2006, terjadi peningkatan gempa yang cukup signifikan. Peningkatan intensitas gempa vulkanik dapat dirasakan di semua pos Pengamatan G. Merapi.