Dengan maksud untuk mengetahui untuk mengetahui adanya perubahan akibat kegiatan Gunung Slamet pada waktu ini dibandingkan dengan sebelumnya, perlu dilakukan pendakian ke puncak G. Slamet belum diamati secara tahap sehingga dengan adanya pemeriksaan secara periodik dapat diikuti perkembangan kegiatannya.
Berdasarkan Surat Perintah Perjalanan Dinas dari Pimpinan Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi tanggal 23 Mei 1980 Nomor 150/P/80, kami bersama Sdr. Toha ditugaskan ke puncak Gunung Raung.
Berdasarkan Surat Perintah Perjalanan Dinas No.1880/P/80 tanggal 1 Desember 1980, penulis bersama dengan dua orang pengamat dari G. Merapi di Pos Babadan dan Plawangan ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan kawah G. Merapi.
G. Gede merupakan gunungapi tipe strato yang terletak pada posisi geografi 6°47' L.S dan 106°59' B.T, Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur. Ketinggian dari muka laut : 2958 m (Atlas Trop. Neder). Pengukuran suhu solfatara serta pemeriksaan kawah dilakukan secara rutin oleh petugas Pos PGA Gede di Ciloto.
Gunung Ciremai terletak di Jawa-Barat termasuk Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka pada posisi geografi 6° 53 lintang Utara dan 108 25 lintang Selatan dengan ketinggian 3.070 m dari permukaan laut dan tergolong pada kwalifikasi tingkat kegiatan tipe A/strato.
G.Bromo menunjukkan kegiatan yang benar - benar tenang. Sedangkan pemeriksaan Mei 1984 melaporkan bahwa letusan - letusan terjadi dari 12 s/d 31 Mei. Abu yang dihasilkan oleh letusan tersebut terendap di sekitar kawah. Di bibir kawah setebal lk 1 m.
G.Slamet (3432 m) yang terletak di antara Kabupaten Purwokerto, Purbalingga dan Pemalang, adalah gunungapi yang ter-tinggi di Jawa Tengah. Bentuk / topografi lereng sebelah timur timur laut keadaannya agak rata dan teratur. Pada lereng sebelah barat-barat laut keadaannya cukup terjal
Berdasarkan laporan dari Sekwilda Tk. II. Kabupaten Tasikmalaya pada 21 Agustus 1984 pk. 09.30, pada 16 Agustus 1984 di Blok Cibitu Kp. bahwa Pasir Gede Desa Sukahening, Kecamatan Cisayong telah terjadi letusan yang disertai semburan lava. Kegiatan ini merupakan yang kelima. Maka pada 22 Agustus kami berangkat menuju lokasi guna mengadakan pengecekan. Berdasarkan keterangan penduduk setempat ke…
Pemeriksaan kawah serta pengukuran suhu kali ini dapat kami katakan sedikit kurang menguntungkan karena adanya beberapa faktor yang terjadi setelah letusan 15 Juni 1984. Diantaranya ialah tidak adanya peralatan yang memadai, misalnya alat/pelindung panas dan gas, disamping cuaca yang buruk serta kepulan asap yang tebal dari pusat kegiatan.
Penulis bersama Sdr. Sumaryanto mendapat tugas dari Pimpinan Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi melakukan pemeriksaan kawah dan pengukuran suhu solfatara di G. Sumbing dan G. Sundoro di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung. Maksud pemeriksaan untuk mendapatkan data kegiatan G. Sumbing dan perobahan puncak, dibandingkan dengan hasil pendakian 12 Juli 1980 oleh Sdr. Semeru Harto.…