Sesuai dengan Rencana Kerja Seksi Pemetaan Geologi en-dapan gunungapi, maka pada tanggal 16 Oktober 1980 te-lah berangkat tim pemetaan sebanyak 10 orang untuk me lakukan pemetaan daerah gunung Lawu/Kukusan dan seki tarnya.
Pemetaan geologi Komplek G. Lamongan dilaksanakan sesuai dengan Rencana kerja Seksi Pemetaan Geologi, Proyek Pemetaan Geologi Gunungapi, dalam Repelita III tahun II, Pemetaan ini diprioritaskan berhubung permasalahan di Komplek Gunungapi belum terungkapkan secara jelas.
This report concerns magnetic fields measurements exclusively. It is a continuation of the 1977 report on the same subject. In the field, a number of scientists were involved, under mutually encouraging conditions.
Pengukuran Landaian Suhu dan Penelitian Hantaran Panas Batuan dilakukan pada lubang Bor Gunung Cirempag, di daerah Konsensi Penambangan Mineral Logam P.T. Aneka Tambang di Bogor, bekerja sama dengan Proyek Survey Mineral Logam, Subdit Explorasi Direktorat Geologi, Bandung.
Adapun survey tersebut bertujuan, antara lain, ialah a. Untuk mengetahui kerusakan kerusakan yang diakibatkan lahar hujan b. Lokasi penyimpangan/Peluapan lahar hujan c. Desa desa yang kemungkinan dapat terkena penyimpangan/peluapan lahar hujan.
daerah yang aken dipetakan moliputi luas sekitar 240 im persegi, termasuk vilayah Karesidenan Desuki. Keta keta yang terdekat anos to nanvuwangi, Jember dan Dendowose, masing masing terletak di so henah tenggara, baratdaya dan baratlaut dari daerah yang akan dipeta- kan. Peta kerja yang dipakai berkedar 1: 25.000.
Mt. Merapi is one of the most active volcanoes in Indonesia, geologically is situated on the intersection of two faults of regional importance, namely the transverse fault which separates East Java from Central Java, and a longitudinal fault through Java which forms the boundary between the western Kendeng Ridge and the Ngawi sub Zone North of Simo.
As no satisfactoy scientific work has been completed to date at Dieng it is proposed that the scientific teams scheduled to work in Bali should be redirected immediately to Dieng. With the suggested programme, scientific work could continue through to December 1975 allowing the possible sitting of the first exploratory well by then.
Dalam rangka penelitian batuan gunung api purba G. Muria, penulis ditugaskan mendampingi tenaga ahli. Mereka adalah mahaguru Uniersitan Padjadjaran dan ITB.