Dalam rangka pemantauan tingkat aktivitas Gunung Merapi telah dilakukan pemantauan secara terpadu dari berbagai bidang yaitu geokimia, seismik, deformasi, dan laharan.
Dalam rangka mengantisipasi peningkatan aktivitas gas Gunung Merapi telah dilakukan pemantauan secara kimia yaitu dalam bidang geokimia gas. Kegiatan penyelidikan meliputi pengambilan dan analisis kimia gas vulkanik dan pengukuran temperatur di lapangan solfatar Gendol G.13 dan Woro. 30 di Puncak G.Merapi. Selain itu, dilakukan pula cuplikan udara bebas di puncak G.Merapi.
Pada tanggal 31 Januari 1992 dilakukan pengamatan di puncak G. Merapi yang pada saat itu volume kubah lava diperkirakan sudah mencapai sekitar 2 juta meter kubik. Hingga bulan Juli 1992 kubah lava masih menunjukkan pertumbuhannya. Dengan terjadinya aktivitas 1992 ini, jelas keadaan di puncak akan banyak mengalami perubahan di permukaannya. Untuk itu perlu dilakukan penngamatan langsung ke lapan…
Pada tanggal 31 Januari 1992 dilakukan pengamatan di puncak G. Merapi yang pada saat itu volume kubah lava diperkirakan sudah mencapai sekitar 2 juta meter kubik. Hingga bulan Juli 1992 kubah lava masih menunjukkan pertumbuhannya. Oleh sebab itu perlu segera dilakukan pengukuran volume kubah lava. Data volume kubah lava ini sangat penting dari segi ilmiah menyangkut kecepatan pertumbuhannya dan…
Penelitian laharan dan geologi di daerah K.Putih dan sekitarnya dimaksudkan untuk menentukan penyebaran lahar yang terjadi sebagai akibat aktivitas G. Merapi yang telah berlangsung. Hasil perhitungan volume material yang tersebar dikaitkan dengan perhitungan volume kosong akan dapat diketahui volume lahar yang mungkin terjadi dan kemungkinan daya tampung sungai yang dilalui.
Penelitian laharan dan geologi yang dilakukan di daerah K. Senowo, K.Lamat, K. Blongkeng dan sekitarnya dimaksudkan untuk mengetahui penyebaran awan panas dan lahar yang terjadi sebagai akibat aktivitas G. Merapi yang sedang berlangsung.
Uji coba pengukuran SP telemetry dilakukan beberapa percobaan untuk mendapatkan masukan dalam rangka perencanaan sistem pengukuran SP telemetry. Diantaranya elektroda sebagai komponen utama pada pengukuran SP membutuhkan yang dapat digunakan untuk waktu lama, baik kualitas bahan dasarnya maupun larutannya.
Dalam penelitian ini, Regu Gaya Berat melakukan pengukuran harga besaran gravitasi bumi (g) dengan cakupan wilayah sekitar Kawah Ijen, sedangkan Titik Acuannya (BASE) terletak di Pesanggrahan Sumberweringin, Bondowoso.
Dalam meningkatkan peramalan aktivitas Gunung Merapi maka diperlukan kualitas data yang baik dan kontinyu, untuk mencapai maksud tersebut maka pada bulan Mei 1992 dilakukan perbaikan/perawatan dan kalibrasi unit seismograf lapangan dan unit magnetik lapangan.
Laporan ini merupakan hasil evaluasi peta daerah bahaya G.Gede (+ 2958 m), yang telah dilakukan pemeta terdahulu pada 1989 (S.Dirasutisna, dkk), guna mendapatkan suatu peta daerah bahaya yang cukup memadai, serta dapat digunakan oleh aparat Pemda atau instansi terkait lainnya dan pemakai peta daerah bahaya G.Gede.