Sebagai tindak lanjut/kelanjutan dari pengukuran deformasi jarak horizontal Gunung Tangkubanparahu. Maka awal bulan Agustus 1986 dilakukan pengukuran ulang terhadap titik ukur deformasi baik yang mobile maupun yang permanent dengan menggunakan peralatan Range Master III dan distomat (DI 20).
Dari tanggal 4 Juli 1988 s/d 23 Juli 1988, L.Djoharman, B.Sc, Komar R. dan pengemudi Kosim Al Sukar ditugaskan ke G. Tangkubanparahu (Jawa Barat) dan G. Lamongan (Jawa Timur), untuk melakukan penelitian dan pengukuran deformasi di kedua gunung tersbut.
Penelitian deformasi di G.Lamongan ini adalah pengukuran jarak dengan menggunakan EDM, sedangkan sifat datar atau leveling yang biasanya dilakukan secara bersamaan kali ini tidak dilakukan.
Kegiatan pengumpulan data dan informasi ini adalah untuk mengetahui perkembangan jumlah maupun pemukiman penduduk di sekitar G. Ciremai yang merupakan gunungapi aktif dan kegiatannya terus berlanjut.
Maksud dan tujuan Pengukuran Deformasi dengan metoda Sifat Datar Teliti Gunung Tangkuban Parahu adalah menentukan harga beda tinggi antar Bench Mark (BM), dan hasilnya dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya perioda Oktober 1998.
Dalam rangka usaha menekan korban jiwa dan harta benda yang diakibatkan oleh bencana letusan gunung berapi, maka seksi pemetaan Topografi Sub Direktorat Pemetaan gunungapi dalam tahun anggaran 1999/2000 telah melaksanakan kegiatan pengukuran sifat datar teliti di Gunung Papandayan Jawa Barat.
Pengumpulan data dan informasi G. Raung dilapangan dititikberatkan kepada pendataan kependudukan di daerah bahaya (KRB) untuk menghadapi letusan yang akan datang.
Pengumpulan data dan informasi di lapangan terutama pendataan kependudukan di daerah bahaya (Kawasan Rawan Bencana II) dan di daerah waspada (Kawasan Rawan Bencana I) atau wilayah sekitar G. Slamet yang termasuk kedalam radius 8-10 km dari puncak G. Slamet.
Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan leveling pada sejumlah titik ukur (Bench Mark) yang terpasang di G. Kelud. Tujuannya adalah untuk mengetahui deformasi yang terjadi pada tubuh gunungapi tersebut dengan cara membandingkan data hasil pengukuran yang telah dilakukan sebelumnya.
Maksud dan tujuan Pengukuran Deformasi dengan metode sifat datar teliti Gunung Tangkuban Parahu adalah menentukan harga dasar beda tinggi antar Bench Mark (BM), guna mengetahui perubahan beda tinggi yang diakibatkan oleh aktivitas gunung api sehingga tingkat kegiatannya dapat dideteksi sedini mungkin.