Pada 5 Oktober 1995, dilakukan pemerksaan Kawah Jonggring Seloko di Puncak G. Semeru. Dari hasil pemeriksaan tersebut terdapat perubahan dasar kawahnya jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan tahun 1994.
Pemeriksaan bahan letusan G.Semeru yang terjadi pada tanggal 3 Februari 1994 dilakukan penulis dengan SPPD No. /0441/3402/94 selama 10 hari termasuk perjalanan 2 hari Daerah pemeriksaan meliputi B.Kobokan yang letaknya di Desa Supitupang dan B.Kembar termasuk Desa Sumberurip kecamatan Pronojiwo, sedangkan pemeriksaan kali laharan meliputi daerah aliran B.Kobokan, K. Liprak, dan K. Rejali yang m…
Penyuluhan di Kabupaten Lumajang bagi para Aparat Pemerintah di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa selain instansi yang terkait dan organisasi non - pemerintah. Bimbingan digabung dengan pelaksanaan yang dilakukan bersama Departemen Pekerjaan Umum, Sabo Technical Centre, serta Pemerintah Daerah menjelaskan bahan galian gol C. di dalam kantong lahar.
Dari beberapa pemantauan visual yang dilakukan di G.Semeru, salah satunya adalah pemantauan lidah/kubah lava di puncak. Kemudian, dilakukan juga perbaikan seismograf yang rusak dan pembenahan lokasi pemasangan seismometer.
Dalam keadaan aktif normal kegiatan seismik G.Semeru terdiri dari Gempa vulkanik (dangkal, dalam), tektonik (lokal, jauh), guguran, letusan, tremor, dan banjir.
Penyelidikan deformasi G.Semeru merupakan penyelidikan yang pertama kali, sehingga data - data deformasi ini dianggap sebagai data dasar bagi penyelidikan selanjutnya.
Sejak September 1967 G.Semeru selalu aktif. Kegiatannya berupa pembentukan lidah lava di Kw. Jonggringseloko yang mengarah ke Selatan, kadang - kadang bergeser ke arah tenggara. Pergeseran posisi akumulasi lava menyebabkan perubahan arah bahaya yang mengancam. Oleh karena itu, dilakukan pendataan ulang di daerah yang diduga akan terancam bahaya pada waktu ini oleh 5 orang petugas selama 15 hari.
G. Semeru merupakan gunungapi tertinggi di P.Jawa, puncak tertinggi dikenal Mahameru (+3676) tetapi menurut Data Dasar Gunungapi Indonesia, pada pengamatan tahun 1973 Kawah Jonggring Seloko yang terbentuk tahun 1913 mempunyai kubah lebih tinggi dari Puncak Mahameru yaitu 3744.5 meter.
Laporan ini membahas pengolahan dan analisis data seismik Gunung Semeru yang difokuskan pada pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan terhadap frekuensi kejadian gempa berdasarkan magnitudo laju pelepasan energi seismik serta beberapa parameter seismik lainnya guna memperoleh gambaran karakteristik aktivitas seismik Gunung Semeru.
Pemantauan aktivitas Gunung Ijen saat ini dilakukan secara visual dan dengan instrumentasi. Satu unit seismograf dengan sistem telemetri telah dipasang, dengan lokasi seismometer berada di puncak Kawah Ijen dan unit perekam (recorder) ditempatkan di Pos Pengamatan. Sementara itu, pemantauan Gunung Semeru dilakukan dengan pemasangan tiga seismograf RTS, sehingga melengkapi seismograf HOSAKA yang…