Sesuai dengan rancana kerja Seksi Penganggulangan Bahaya/Bagian Proyek Pemetaan Daerah Bahaya Gunung Api. Pada tangaal 1 Oktober 1982 saya, bersama Sdr. A. Djuhara W dan Sdr. Djadja Sumpena dengan Sppd masing masing No. : 2124/P/82, 2125/P/82, 2126/P/82 ditugaskan ke daerah Maluku Utara untuk mengadakan Pemetaan daerah bahaya dan pemeriksaan puncak gunungapi Malumpang Warirang di Pulau Halmaher…
Sesuai dengan SPPD yang bernomor 2229/P/1981, tertanggal 19 Oktober 1981 penulis berangkat dari Bandung dengan tujuan P. Makian G. Kie Besi. Maksud perjalanan ini ialah untuk mengadakan pemeriksaan kawah G. Kie Besi untuk melihat sampai dimana kegiatannya. Dari hasil pemeriksaan ini kegiatan vulkanik kawah tidak menunjukkan adanya peningkatan, baik di sekitar danau kawah maupun pada lerengnya.
G. Makian adalah salah satu diantara 127 buah gunungapi di Indonesia yang terhitung aktip dan salah satu diantara 51 buah gunungapi yang perlu mendapat pengawasan yang teratur. Letusan G.Makian dapat disejajarkan dengan letusan G.Kelut di Jawa Timur atau letusan G.Awu di P. Sangir Besar. Gunungapi2 ini biasanya meletus dengan dahsyat dalan waktu yang relatip berlangsung sangat pendek, katakan k…
Pada 17 Desember 1980 saya dengan SPPD n. 1962/P/80, A.D. Viranapu dan tra A.D. Sumpena ponsurvai dari Saksi Penotaan Vopografi dengan SPPD n. 1963/P/00 dan SPPD n. 1964/P/60 ditugaskan ke Dasrah Haluka Utara untuk melakukan pameriksaan puncak dan pemetaan daerah bahaya G. Ibu, G. Gankonora dan Telaga Bano. Posisi geografi G. Ibu torle-tak pada guris Lintang Selatan 1°29' dan 127°38 Bujur Tim…
G. Kie nesi di p. Makian terletak pada posisi 0°19' Lintang Uters 127 24 Majur Timur. Puncak tertinggi terletak 1357 m diatas permukaan laut. Sebuah danau berukuran 450 g 150 n terdapat dipuncaknya (Neuman van Padang, 1951) sedangkan menurut penelitian pada tahun 1969 luas danau tersebut lebih kurang 75000 m. Menurut sejarah kegiatannya gunung ini termasuk gunung yang ak-tip. Letusan letusan …
Buku ini merupakan karya pustaka visual yang mendokumentasikan kekayaan geodiversitas (keragaman geologi) di seluruh wilayah Indonesia melalui lensa fotografi. Karya ini menggabungkan deskripsi ilmiah mengenai formasi batuan, struktur tektonik, dan fenomena vulkanisme dengan komposisi artistik lanskap Nusantara.
Buku ini mengeksplorasi filosofi dan implementasi layanan prima (service excellence) di perpustakaan dengan pendekatan yang humanis. Penulis menekankan bahwa layanan perpustakaan bukan sekadar transaksi peminjaman buku, melainkan sebuah bentuk dedikasi dan empati ("Layanan Cinta") untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka secara totalitas.
Buku ini membahas tentang hidrologi untuk pengairan.
Buku ini membahas tentang letusan katastropik Gunung Krakatau tahun 1883.