Bertitik tolak dari berita yang dimuat dalam B.D.G no.22, tahun ke VII edisi Juli (1976), oleh Kepala Bagian Proyek WASAPI berdasarkan laporan dari pos pengawasan Kawah Ijen di Paltuding, menyatakan bahwa G. Raung meletus pada tgl 2-8 Juni 1976.
Akibat turunnya hujan yang lebat dipuncak gunung maupun disekitarnya mengakibatkan air hujan itu massanya besar dan menjadi motor membawa/mengikis material - material berupa guguran lava dan hasil - hasil letusan yang terendap dilereng - lereng gunung dan dilembah - lembah sungai.
Dengan surat perintah No. 4174/S/1975, tanggal 4 Oktober 1975, penulis ditugaskan untuk melakukan pengamatan lahar di sungai-sungai sebelah baratdaya Gunung Merapi; sehubungan dengan banjir yang terjadi tanggal 4 Oktober 1975.
Sejak peningkatan kegiatan G. Kelut bulan Agustus 1973, perhatian terhadap salah satu gnungapi yang berbahaya itu sangat meningkat pula, yaitu dalam usaha pengumpulan data sehubungan dengan gejala kegiatannya.
Dalam rangka penyempurnaan pengamatan seismik di Gunung Kelut dalam bulan Juli hinggga Agustus telah dilakukan pemasangan kabel bawah tanah dari Bambingan sampai Margomulyo sepanjang 1k. 4000 meter.
Pada tanggal 9 Februari 1975 jam 11.45 lebih dari 33 detik terjadi gempa bumi di daerah Sukabumi dan sekitarnya akibat tersebut banyak bangunan - bagunan yang rusak retak - retak bahkan ada yang roboh pula.
Pada tanggal 7 Juni, Poenarmo Kridoharto, Ubed Betakandata dari seksi Esplorasi Geofisika , Pramono dan penulis ditugaskan ke G. Merapi untuk melakukan pengamatan geomagnet.
Antara tanggal 19 hingga 30 November 1961 telah dilakukan pemotretan dari udara diatas daerah sekitar G.Merapi, Djawa Tengah, dengan maksud untuk mengumpulkan keterangan - keterangan jang nantinya dapat dipakai sebagai pegangan pada penafsiran daerah - daerah jang akan bandjir serta akibat2nja.
According daily reports from a mantrie-observer at Haron, during the first half of November 1930 there was many white vapour forning on the top of the Herapi, but nearly everyday he reported, that no stone avalanches were heard.
The lamongan is not known by big destroying catastrophes such as the Tambora and Krakatau, but as far as the news reach us, he is however one of the most active volcanoes on Jawa.