Indonesia adalah negeri yang
lahir dari dinamika bumi. Di bawah hamparan pulau-pulaunya, lempeng-lempeng
tektonik aktif bergerak. Di sepanjang wilayahnya, gunung-gunung api aktif
berdiri sebagai penanda bahwa bumi di Nusantara tak pernah benar-benar diam. Dari
pergerakan lempeng yang sama, gempa bumi dapat terjadi tanpa peringatan, bahkan
di wilayah pesisir dapat memicu gelombang tsunami yang bergerak cepat menuju
daratan. Di kawasan perbukitan, hujan deras yang berpadu dengan kondisi geologi
tertentu juga dapat memicu gerakan tanah yang mengubah bentang alam dalam
sekejap. Di satu sisi, kondisi geologi ini menghadirkan bentang alam yang
indah, tanah yang subur, hingga kekayaan sumber daya alam. Namun di sisi lain,
Indonesia juga menyimpan potensi bencana geologi yang harus dipahami dan
diantisipasi bersama.
Kesadaran itulah yang menjadi
semangat dalam Talkshow Kebencanaan yang diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli
2026, di Auditorium Museum Geologi. Menghadirkan para ahli dari berbagai bidang
kebencanaan, kegiatan ini mengajak masyarakat memahami bahwa mitigasi bencana
tidak dimulai ketika bencana datang, melainkan jauh sebelum itu, dengan
mengenali bumi tempat kita tinggal.
Talkshow yang diselenggarakan
dalam rangkaian Day & Night at the Museum ini menghadirkan empat narasumber
yang membahas beragam ancaman bencana geologi, mulai dari gunung api, gempa
bumi dan tsunami, gerakan tanah, hingga kesiapsiagaan masyarakat.
Mengawali diskusi, Kristianto,
M.Si., Penyelidik Bumi Utama dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi (PVMBG) Badan Geologi menjelaskan bahwa Indonesia memang dikenal
sebagai Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, kawasan yang memiliki
konsentrasi gunung api aktif terbesar di dunia.
Saat ini Indonesia memiliki 127
gunung api aktif yang terbagi menjadi 77 gunung api Tipe A, 29 gunung api Tipe
B, dan 21 gunung api Tipe C. Dari jumlah tersebut, 69 gunung api dipantau
secara efektif melalui Pos Pengamatan Gunung Api, sementara sisanya berada di
bawah laut sehingga membutuhkan pendekatan pemantauan yang berbeda
Pemantauan gunung api dilakukan
secara berkelanjutan menggunakan berbagai metode ilmiah, mulai dari pengamatan
visual, seismik, deformasi, geokimia, hingga teknologi penginderaan jauh (remote
sensing). Seluruh data tersebut menjadi dasar dalam menentukan tingkat
aktivitas gunung api yang dibagi menjadi empat level, yaitu Normal (Level I),
Waspada (Level II), Siaga (Level III), dan Awas (Level IV).
"Pemantauan dilakukan
terus-menerus agar setiap perubahan aktivitas gunung api dapat dideteksi sedini
mungkin sehingga informasi yang diterima masyarakat akurat dan dapat menjadi
dasar dalam pengambilan langkah mitigasi," jelas Kristianto.
Pembahasan kemudian berlanjut
pada ancaman gempa bumi dan tsunami bersama Dr. Akhmad Solikhin, Analis Data
Ilmiah Ahli Madya Badan Geologi. Ia mengajak peserta memahami bahwa kondisi
geologi Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pertemuan lempeng-lempeng
tektonik dunia.
Menurutnya, bumi memiliki tujuh
lempeng tektonik besar dan sebelas lempeng minor, sementara Indonesia berada
pada pertemuan tiga lempeng besar serta sejumlah mikro lempeng. Interaksi
antarlempeng inilah yang menjadi sumber utama terjadinya gempa bumi di Indonesia.
Namun, ia menegaskan bahwa
memahami penyebab gempa saja belum cukup. Yang lebih penting adalah memahami
bagaimana melakukan mitigasi. "Mengetahui kondisi bumi kita dan melakukan
upaya mitigasinya menjadi kunci," tegasnya.
Dr. Akhmad juga meluruskan
berbagai pemahaman masyarakat mengenai tsunami. Ia menjelaskan bahwa tsunami
tektonik umumnya terjadi di wilayah megathrust ketika gempa menyebabkan
deformasi dasar laut sehingga massa air terdorong ke permukaan dan bergerak
menuju daratan.
Secara umum, deformasi yang mampu
memicu tsunami lebih sering berkaitan dengan gempa bermagnitudo besar, sekitar
6,5 ke atas, namun ia mengingatkan bahwa tidak semua gempa besar pasti memicu
tsunami. Sebaliknya, terdapat kondisi tertentu ketika gempa dengan magnitudo
tidak jauh di atas 7 justru menghasilkan mekanisme patahan yang mampu
mengangkat dasar laut sehingga memicu tsunami.
Selain gempa tektonik, tsunami
juga dapat dipicu oleh longsoran bawah laut, aktivitas gunung api bawah laut,
bahkan dalam kasus yang sangat jarang, jatuhnya meteor ke laut.
Sementara itu, pembahasan
mengenai gerakan tanah disampaikan oleh Dwi Siswanto, S.T. dari Tim Kerja
Gerakan Tanah. Ia mengawali paparannya dengan meluruskan istilah yang selama
ini sering disamakan oleh masyarakat.
Menurutnya, gerakan tanah tidak
sama dengan longsor. Mengacu pada definisi Cruden dan Varnes (1996), gerakan
tanah adalah perpindahan material penyusun lereng, baik tanah, batuan, material
timbunan maupun campurannya yang bergerak ke bawah dan keluar lereng. Adapun
longsor hanyalah salah satu jenis gerakan tanah, yakni tipe gelinciran (slide).
Dengan kata lain, tidak semua
gerakan tanah adalah longsor, tetapi longsor merupakan bagian dari gerakan
tanah.
Ia menjelaskan bahwa gerakan
tanah memiliki berbagai tipe, mulai dari jatuhan (fall), robohan (topple),
gelinciran (slide) baik rotasional maupun translasional, sebaran (spread),
rayapan (creep), hingga aliran (flow) yang sering dikenal
masyarakat sebagai banjir bandang material.
Masyarakat, menurut Dwi,
sebenarnya dapat mengenali potensi gerakan tanah sejak dini dengan
memperhatikan kondisi di sekitar.
“Beberapa indikator yang dapat
diamati antara lain kemiringan lereng, kondisi batuan dan tanah yang banyak
retakan, perubahan tata guna lahan pada daerah perbukitan menjadi kawasan
permukiman, hingga memperhatikan informasi resmi mengenai potensi gerakan tanah
melalui portal informasi Badan Geologi” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa gerakan
tanah dipengaruhi oleh dua kelompok faktor. Faktor pengontrol meliputi kondisi
alami seperti kemiringan lereng, karakteristik batuan, tata guna lahan, dan
keberadaan air, sedangkan faktor pemicunya dapat berupa curah hujan tinggi,
gempa bumi, aktivitas gunung api, maupun pemotongan lereng akibat aktivitas
manusia.
Menutup rangkaian diskusi, Drs. Edy
Heryadi, M.Si dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa
Barat mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam penanggulangan bencana bukan
hanya persoalan alam, melainkan juga kesiapan masyarakat.
Menurutnya, di lapangan masih
dijumpai rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap potensi
bencana di lingkungan sekitarnya.
Karena itu, upaya membangun
budaya sadar bencana harus terus dilakukan. Masyarakat diharapkan mampu
mengenali potensi bahaya di sekitarnya, memahami risiko dan dampak bencana,
mengetahui langkah penyelamatan diri, menyusun rencana evakuasi keluarga,
hingga menyiapkan tas siaga bencana yang dapat digunakan sewaktu-waktu.
Talkshow ini menjadi pengingat
bahwa hidup di Indonesia berarti hidup berdampingan dengan dinamika bumi.
Bencana memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi
melalui ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya mitigasi yang terus dibangun.
Mengenali karakter wilayah tempat
tinggal, mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang, serta memahami
langkah-langkah penyelamatan diri merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Sebab, kesiapsiagaan bukan hanya urusan pemerintah atau para ahli, melainkan
menjadi bekal penting bagi setiap individu untuk melindungi diri, keluarga, dan
lingkungan ketika bencana datang.