Senin, 12 Oktober 2026
(Humas – Skretariat Badan Geologi)
Kepala Badan Geologi, Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si., secara
resmi membuka GeoFestival dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan
Ahli Geofisika Indonesia (PIT HAGI) ke-51 di Auditorium Badan Geologi, Bandung,
Senin (12/10). Mengusung tema “Driving Disaster Resilience: Integrating
Science, Technology, and Community Preparedness”, kegiatan ini menjadi wadah
kolaborasi dan diseminasi ilmu kebumian untuk meningkatkan pemahaman serta
kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
“Pilihan
kita bukan menolak kenyataan, melainkan belajar hidup selaras dan tangguh
bersamanya,” ujar Lana Saria.
Ia
menjelaskan bahwa Indonesia menghadapi beragam ancaman bencana geologi, mulai
dari erupsi gunung api, gempa bumi, tsunami, gerakan tanah, likuefaksi, hingga
penurunan muka tanah. Pengalaman bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di
Palu pada 2018 serta tsunami Selat Sunda akibat longsoran tubuh Gunung Anak
Krakatau pada tahun yang sama menjadi pengingat bahwa bencana geologi dapat
terjadi secara beruntun dan saling memicu.
Sebagai
bagian dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi
menjalankan tugas mitigasi bencana geologi melalui penyelidikan dan pemetaan
kawasan rawan bencana, pemantauan aktivitas gunung api dan gerakan tanah,
penyampaian rekomendasi teknis, serta pelaksanaan tanggap darurat geologi
bersama pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Lebih
lanjut, Lana Saria menyampaikan empat hal penting dalam membangun ketangguhan
menghadapi bencana geologi. Pertama, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
risiko bencana melalui pengenalan sumber ancaman serta pemanfaatan peta kawasan
rawan bencana sebagai dasar penataan ruang dan pembangunan. Kedua, memperkuat
sistem pemantauan dan peringatan dini melalui integrasi teknologi dan data yang
andal, cepat, serta berkelanjutan.
Ketiga,
meningkatkan diseminasi dan komunikasi informasi kebencanaan agar hasil kajian
ilmiah dapat dipahami dan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah maupun
masyarakat. Keempat, membangun budaya kesiapsiagaan melalui edukasi, latihan
evakuasi, penyediaan jalur dan tempat evakuasi, serta pemanfaatan kearifan
lokal.
Dalam
upaya tersebut, para ahli geofisika memiliki peran strategis dalam
mengidentifikasi struktur sesar aktif, memetakan kerentanan tanah terhadap
likuefaksi, memantau dinamika magma, mengukur deformasi dan penurunan muka
tanah, hingga memodelkan penjalaran tsunami. Pemanfaatan teknologi seperti
sensor, satelit, pengolahan data, dan kecerdasan buatan juga berpotensi
meningkatkan kecepatan serta ketepatan pemantauan bahaya geologi.
Melalui
PIT HAGI ke-51, Lana Saria berharap para ahli, akademisi, peneliti, dan
pemangku kepentingan dapat memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ilmu
geofisika dan penerapannya untuk mitigasi bencana. Sejumlah hal yang diharapkan
menjadi perhatian dalam forum tersebut meliputi pemutakhiran model sumber gempa
bumi dan tsunami, integrasi data geofisika, geodesi, dan geologi dalam sistem
peringatan dini, pemanfaatan teknologi baru, serta penguatan komunikasi sains
kebencanaan kepada masyarakat.
“Saya berharap hasil diskusi di forum ini tidak berhenti di ruang seminar, tetapi menjadi rekomendasi yang dapat diterapkan dalam kebijakan dan praktik mitigasi,” tegasnya.
GeoFestival juga menjadi sarana untuk mendekatkan ilmu kebumian kepada masyarakat melalui pameran, talkshow, edukasi publik, dan berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian, informasi ilmiah diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga mendorong tindakan nyata dalam mengurangi risiko bencana.
Pada
kesempatan tersebut, Kepala Badan Geologi turut menyampaikan ucapan selamat
atas 50 tahun perjalanan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI). Ia
menegaskan komitmen Badan Geologi untuk terus mendukung kemajuan ilmu geofisika
melalui kolaborasi riset, berbagi data dan fasilitas pemantauan, serta
pengembangan kapasitas sumber daya manusia bersama HAGI, perguruan tinggi, dan
industri.
Melalui
penyelenggaraan GeoFestival dalam rangkaian PIT HAGI ke-51, kolaborasi antara
pemerintah, organisasi profesi, akademisi, industri, dan masyarakat diharapkan
semakin kuat dalam membangun Indonesia yang tangguh menghadapi bencana.
Integrasi sains, teknologi, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah
penting untuk memastikan informasi kebencanaan dapat diterjemahkan menjadi
upaya mitigasi dan tindakan penyelamatan yang efektif. (Anggi, Irsan,Rizki, SBG)