On the eve of the Japanese occupation in
1942, A.F. Lasut took part in a native militia training program organized by
the colonial government of the Netherlands East Indies, namely the Corps Reserve Officier (CORO),
or Reserve Officers Corps, in Bandung. Lasut was even involved in combat to
hold back Japanese troop attacks at Ciater, Lembang, near Subang (Mardanas
Safwan, Arie Frederik Lasut,
1981, p. 28).
Safwan notes that during the Japanese
occupation (1942–1945), Lasut did not continue a military career but instead
returned to work as a geological assistant at the Geological Survey, which
during the Japanese period was referred to as “Bandung Tititsutiyo Zaiyi.” He devoted his expertise in mining as
part of efforts to maintain vital sectors for Indonesia, together with R. Sunu
Sumosusastro, despite operating under Japanese control (Safwan, 1981, pp.
40–41).
A.F. Lasut carried out various activities
in mining investigation and management, including studies of jarosite at Ciater
(Subang); sulfur at Telagabodas and Wanaraja (Garut); and coal mines at
Cisaat–Sukabumi, Ngandang–Rembang, Bayah–Banten, and Jalen–Watulimo
(Tulungagung). He also investigated coal reserves at Kali Bendo and Kali
Watugemuk. In addition, Lasut was involved in oil mining activities at Bongas
(Cirebon) and Cepu, where production increased in 1943 before declining toward
the end of the Japanese occupation. These activities took place within the
context of harsh colonial exploitation, particularly in Bayah, which was
notorious for the suffering of romusha
(forced laborers). Consequently, Lasut’s technical work cannot be separated
from the broader context of popular suffering and the dynamics of the struggle
toward Indonesian independence (Safwan, 1981, pp. 41–42).
Safwan (1981, pp. 43–44) further states
that A.F. Lasut also played a role in continuing and opening mining enterprises
outside Java, especially in Sumatra. These activities included the
Ombilin–Sawahlunto and Bukit Asam coal mines, whose production declined due to
damaged facilities, as well as the opening of the Logas coal mine, which was
considered prospective. Oil mining activities in North Sumatra were also
continued to support Japan’s war needs, while in 1943–1944 new drilling and
exploration were conducted at Kenaliasem, Senami, Tempino, and Sungai Gelam.
Most of these mining and geological activities were under the technical
supervision of A.F. Lasut together with R. Sunu Sumosusastro, enabling both of
them to master strategic mining maps and information at that time.
Based on his conviction that the Japanese
occupation was temporary, Lasut was also active in mentoring young personnel
within the Geological Service in Bandung, instilling a spirit of nationalism
and readiness to take over the mining sector once Japanese power weakened in
the Pacific War. One of the young figures he mentored was R.I. Subroto (Safwan,
1981, p. 45).
One piece of evidence of Lasut’s activities
during the Japanese occupation is the inclusion of his name among the “Names of
individuals and bodies (associations) awarded the Service Emblem pursuant to Osamu Seirei No. 2 of the 20th
year of Showa (2605),
‘Regulation on the Service Emblem to the Military Government,’” as published in
Kan Po (Government
Gazette) No. 62, Month 3, 2605.
A.F. Lasut, together with R. Ali
Tirtosoewirjo, who worked at Tisitu
Tyuuososyo kinmu (Mining Investigation Office) Nitoo Gizyutukanpo and Tisitu Tyuuososyo kinmu Yontoo Gizyutukan, received an
award in the form of the “Bintang
Matjam No. 4.”
Another piece of evidence of A.F. Lasut’s activities is the report on the inventory of hot springs in Java and Madura entitled Hotsprings in Djawa and Madura. In the preface written in Bandung on June 26, 2604 (1944), Lasut stated that the report was a compilation of literature on hot springs, prepared on the basis of the geological–mining bibliography of the Netherlands East Indies up to 1932, and supplemented with reports and archives of the Mining Service during the Japanese occupation (Tisitutyosatzyo). The hot spring data were classified by residency, with Chapter I containing descriptions of location, physical and chemical properties, discharge, and deposits, and Chapter II presenting a concise list with references to topographic maps at a scale of 1:50,000 and a distribution map at a scale of 1:1,000,000. (Written by Atep Kurnia, edited by Eko Suryanto).
Sumber: Koleksi Perpustakaan Pusat Survei Geologi (PSG), Badan Geologi, Jl. Diponegoro No. 57, Bandung
Biografi
Arie Frederik Lasut (6): Zaman Pendudukan Jepang
Menjelang pendudukan Jepang pada tahun
1942, A.F. Lasut sempat mengikuti pelatihan milisi bangsa bumiputra yang
diselenggarakan pemerintah kolonial Hindia Belanda, yaitu Corps Reserve Officier (CORO) atau korps perwira cadangan di
Bandung. Lasut bahkan terlibat dalam pertempuran untuk menahan serangan pasukan
Jepang di Ciater, Lembang, dekat Subang (Mardanas Safwan, Arie Frederik Lasut, 1981, hlm. 28).
Safwan menyatakan bahwa pada masa
pendudukan Jepang (1942-1945), A.F. Lasut tidak melanjutkan karier militer,
melainkan kembali bekerja sebagai asisten geologi di Jawatan Geologi yang di
masa pendudukan Jepang disebut sebagai “Bandung
Tititsutiyo Zaiyi”. Ia mengabdikan keahliannya di bidang pertambangan
sebagai bagian dari upaya mempertahankan sektor vital bagi Indonesia, bersama
R. Sunu Sumosusastro, meskipun berada di bawah kendali Jepang (Safwan, 1981,
hlm. 40-41).
A.F. Lasut melakukan berbagai kegiatan
penyelidikan dan pengelolaan pertambangan, antara lain Yarosit di Ciater
(Subang), belerang di Telagabodas dan Wanaraja (Garut), serta tambang batubara
di Cisaat–Sukabumi, Ngandang–Rembang, Bayah–Banten, dan Jalen–Watulimo (Tulungagung).
Ia juga melakukan penyelidikan cadangan batubara di Kali Bendo dan Kali
Watugemuk. Selain itu, Lasut terlibat dalam kegiatan pertambangan minyak di
Bongas (Cirebon) dan Cepu, yang produksinya sempat meningkat pada 1943 sebelum
menurun menjelang akhir pendudukan Jepang. Aktivitas tersebut berlangsung dalam
konteks eksploitasi kolonial yang keras, terutama di Bayah yang dikenal dengan
penderitaan romusha, sehingga kegiatan teknis Lasut tidak terlepas dari konteks
penderitaan rakyat dan dinamika perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia
(Safwan, 1981, hlm. 41-42).
Safwan (1981, hlm. 43-44) menyatakan bahwa
A.F. Lasut juga berperan dalam melanjutkan dan membuka usaha pertambangan di
luar Jawa, terutama di Sumatera, Kegiatan tersebut mencakup tambang batubara Ombilin–Sawahlunto
dan Bukit Asam yang produksinya menurun akibat kerusakan fasilitas, serta
pembukaan tambang batubara Logas yang dinilai prospektif. Kegiatan pertambangan
minyak di Sumatera Utara juga dilanjutkan untuk mendukung kebutuhan perang
Jepang, sementara pada 1943–1944 dilakukan pengeboran dan eksplorasi baru di
Kenaliasem, Senami, Tempino, dan Sungai Gelam. Sebagian besar kegiatan
pertambangan dan geologi tersebut berada dalam pengawasan teknis A.F. Lasut
bersama R. Sunu Sumosusastro, sehingga keduanya menguasai peta dan informasi
strategis pertambangan pada masa itu.
Berlandaskan keyakinan bahwa pendudukan
Jepang bersifat sementara, A.F. Lasut juga aktif membina tenaga muda di
lingkungan Jawatan Geologi di Bandung
dengan menanamkan semangat kebangsaan dan kesiapan mengambil alih sektor
pertambangan ketika posisi Jepang melemah dalam Perang Pasifik. Salah satu
tokoh muda yang dibinanya adalah R.I. Subroto (Safwan, 1981, hlm. 45).
Salah satu bukti aktivitas A.F. Lasut pada
masa pendudukan Jepang adalah namanya tercantum sebagai salah seorang dari “Nama-nama orang dan badan (perkoempoelan)
jang dianoegerahi Lambang Kebaktian menoeroet Oesamu Seirei No. 2 tahoen Syoewa
20 (2605) ‘Peratoeran tentang Lambang Kebaktian kepada Pemerintahan Balatentara’”,
sebagaimana yang dimuat dalam majalah Kan
Po (Berita Pemerintah) No. 62, Boelan 3, 2605.
A.F. Lasut bersama R. Ali Tirtosoewirjo
yang bekerja di Tisitu Tyuuososyo kinmu
(Kantor penyelidikan tambang) Nitoo Gizyutukanpo dan Tisitu Tyuuososyo kinmu (Kantor penyelidikan tambang) Yontoo Gizyutukan
menerima penghargaan berupa “Bintang
Matjam No. 4”.
Bukti lain aktivitas A.F. Lasut adalah
laporan inventarisasi mata air panas di Jawa dan Madura berjudul Hotsprings in Djawa and Madura. Dalam
kata pengantar yang ditulis di Bandung pada Juni 2604 (1944), Lasut menyatakan
bahwa laporan tersebut merupakan kompilasi literatur tentang mata air panas
yang disusun berdasarkan bibliografi geologi-pertambangan Hindia Belanda hingga
1932, serta dilengkapi laporan dan arsip Jawatan Pertambangan pendudukan Jepang
(Tisitutyosatzyo). Data mata air
panas diklasifikasikan menurut keresidenan, dengan Bab I memuat deskripsi
lokasi, sifat fisik-kimia, debit, dan endapan, serta Bab II berisi daftar
ringkas beserta rujukan peta topografi skala 1:50.000 dan peta sebaran skala
1:1.000.000. (Penulis ATEP KURNIA,
editor EKO SURYANTO)