Pada 1969 Gunung Iya meletus, letusannya cukup besar, sehingga merombak kawahnya yang semakin lebar dan dalam. Endapan hasil letusan pada lereng Barat tergerus aliran lahar apabila hujan turun. Dengan demikian banyak sekali perobahan topografinya. Baru tahun ini dapat dilaksanakan pemetaan topografinya. Keadaan gunungnya tak begitu tinggi (640 m dpl), hanya pendakian cukup berat.
Untuk meningkatkan tehnis perekaman gempa dan pengum-lan data yang lebih baik maka sejak bulan Agustus 1979 pesawat makanik merk Spindle & Hoyer pada Pos Pengamatan G. Iya di Tewejangga Ende telah diganti dengan pesawat Transistor Elektromaknit satu komponen. Selanjutnya untuk dapat menentukan sumber, arah dan kedalaman sebuah gempa maka pada tgl. 7 Juni 1980 sistem perekaman ditingkatkan dari …
Dengan Surat Perintah Perjalanan Dinas No. 940/P/81, tertanggal Bandung, 6 Juli 1981, penyusun laporan ditugaskan ke G.Rokatenda di P. Palue, Nusatenggara Timur, selama 22 hari, terhitung mulai tanggal 9 Juli s/d 30 Juli 1981. Maksud penugasan tersebut untuk mengerjakan pengukuran tepi batas kubah lava G.Rokstenda, juga untuk mengetahui berapa meter kubik volume/isi dari pada kubah lava tersebu…
Sehubungan dengan belum/tidak adanya ketinggian tetap di sekitar G. Rokatenda, di daerah P. Palue, make Kepala Seksi Pengamatan Gunungapi Bali-Nusatenggara, mempunyai gagasan/pendapat agar di daerah tersebut diadakan/dipasang patok yang mempunyai ketinggian tetap. Untuk mengadakan/melaksanakan pendapat tersebut, maka penulis ditugaskan ke P. Palue selama satu bulan: ialah pada Oktober 1981. Mak…
Peningkatan kualitas jaringan seismik G. Batur-Agung merupakan bagian dari peningkatan sistem pemantauan gunungapi di Indonesia. Dengan adanya berbagai kesuitan yang telah ditemui selama beberapa tahun belakang ini terutama dalam hal kualitas signal seismik yang terekam yang terlalu rendah maka pemindahan sistem penerimaan dari yang semula berbasi di Rendang ke yang saat ini di Pos G. Batur tel…
G. Egon di Flores Timur termasuk salah satu gunungapi Tipe B. Sewaktu-waktu terhadap gunung ini dikhawatirkan akan terjadi peningkatan kegiatan / meletus dan akan mempengaruhi kestabilan kehidupan lingkungan disekitarnya. Sebelum terjadinya dampak negatit yang ditimbulkannya maka perlu dilakukan berbagai penelitian terhadap gunungapi tersebut. Salah satu penelitian yang akan dilakukan adalah pe…
G. Agung terkenal dengan letusan besar pada tahun 1963 yang menewaskan 1.148 orang. Disamping itu G. Agung sangat berperan didalam kehidupan beragama bagi umat Hindu Di P. Bali, dan juga merupakan daerah tujuan wisata. Sebagaimana gunungapi yang mempunyai sifat letusannya yang besar, G. Agung mempunyai sifat denga periode istirahat yang cukup lama.
G. Inelika merupakan salah satu gunungapi katif tipe A yang berada di Pulau Flores, Kabupaten Ngada (Bajawa), Flores Tengah, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai G. Inelika dari Kota Bajawa sangat mudah sekali, karena sarana pencapainnya telah ada, baik dengan menggunakan roda dua maupun roda empat. Dari Kota Bajawa kita menuju ke arah utara yaitu jalur ke Desar Gou dengan jarak ke loka…
Batugamping dijumpai pada Formasi Tokala yang tersusun atas batugamping dan Batuan Malihan Paleozoikum yang terdiri atas batugamping termalihkan (marmer), genes, dan sekis. Keterdapatan batugamping tersebut di lokasi penyelidikan umumnya dijumpai dalam bentuk bukit-bukit. Formasi Tokala tersusun atas batugamping yang pada beberapa tempat telah mengalami proses metamorfisme. Formasi ini berum…
G. Rokatenda termasuk gunungapi aktif tipe A, dengan catatan letusan sebanyak 8 kejadian sejak tahun 1928. Periode istirahat G. Rokatenda bervariasi antara 1 hingga 35 tahun. Letusan yang banyak menimbulkan korban jiwa terjadi pada tahun 1928, yaitu sebanyak 266 orang meninggal dunia. Dari hasil penelitian geologi foto disimpulkan bahwa periode kegiatan G. Rokatenda dibagi dalam 4 tahap, dimana…