Dalam rangka melaksanakan rencana kerja kegiatan lapangan dari Bagian Proyek Pemetaan Daerah Bahaya Gunungapi Seksi Penanggulangan Bahaya, maka ditugaskan tiga anggotanya terdiri dari Sdr. Samud Wikartadipura dengan SPPD n 2355/P/1981, Sdr. A.D. Sumpena dengan SPPD n 2356/P/1981 dan saya dengan SPPD n 2515/P/1981. Lamanya pekerjaan tersebut selama 50 hari untuk Gunung Sibayak dan Gunung Sina…
Pada 25 Juni 1981, dengan SPPJ n. 761/P/1981, n. 762/P/1981, dan n.888/P/1981, S.Wikartadipura, M.S.Santoso dan A.D. Sumpena ditugaskan ke G.Salak Jawa Barat untuk melakukan pemeriksaan puncak dan pemetaan daerah bahayanya.
Mengingat musim hujan 1983-1984 sudah mulai tiba, maka beberapa gunugapi yang dianggap rawan memerlukan perhatian khusus, maka para petugas dari Seksi Pemetaan Daerah Bahaya diberangkatkan untuk melihat perkembangan lahar selanjutnya, oleh karena sudah sejak 1981 G. Semeru ini ditinggalkan.
Surat Keputusan Gubernutr Kepala Daerah Tk.I Jawa-Barat tgl 3 Nopember-82 Nomor 360/SK-16 12-Binsos/1982 tentang penugasan Piket di Poskogab PBA Galunggung di Kab dt.II Garut
Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kegiatan G. Kelut dalam masa pemeriksaan dibandingkan dengan tahun yang lalu.
Penulis bersama petugas lain ditugaskan ke Kw. Ijen oleh Pemimpin Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi, Direktorat Vulkanologi untuk melakukan pemeriksaan kawah dan suhu seluruh solfatara di Kw. Ijen. Tugas ini adalah untuk mengumpulkan data yang tampak di kawah dan suhu yang sangat diperlukan, sebagai sa-lah satu gejala untuk menentukan tingkat suatu kegiatan gunungapi.
G.Sumbing pada waktu pemeriksaan masih tetap normal. Asap solfatara pada umumnya putih tipis dengan tekanan gas lemah, ketinggian asap maksimum 10 m dari permukaan dan minimum 4 m. Suhu solfatara tercatat minimum 90'C dan maksimum 110'C, sedangkan suhu air panas di dasar kawah terukur minimum 75'C dan maksimum 87'C.
G.Bromo menunjukkan kegiatan yang benar - benar tenang. Sedangkan pemeriksaan Mei 1984 melaporkan bahwa letusan - letusan terjadi dari 12 s/d 31 Mei. Abu yang dihasilkan oleh letusan tersebut terendap di sekitar kawah. Di bibir kawah setebal lk 1 m.
Pemetaan daerah bahaya G.Guntur dimaksudkan selain melakukan pengecekan keadaan kawah (kegiatan puncak) juga pemeriksaan lembah sungai yang berhulu dari daerah puncak yang akan menampung debu dan pasir hasil letusan G.Galunggung 1982 yang menutupi G.Guntur serta bahan longsoran untuk potensi banjir bandang (galodo).
Pekerjaan lapangan selain melakukan pemeriksaan kawah (puncak) juga pemeriksaan lembah sungai yang berhulu dari daerah puncak serta sensus penduduk yang pemukimannya berdekatan dengan sungai tersebut.