Sesuai dengan rencana kerja dari Proyek Pemetaan Geologi Gunungapi, Direktorat Vulkanologi pada triwulan I tahun 1982/1983 Pelita ke III, akan melakukan pemetaan gunung-api Sundoro dan sekitarnya.
Tujuan penyelidikan ialah pengumpulan data geologi yang berupa stratigrafi, struktur geologi serta penyebarannya sehingga dapat diterbitkan suatu peta geologi gunungapi, dari data tersebut dapat diharapkan juga untuk melihat potensi ladang panas bumi yang mungkin dapat di manfaatkan sebagai sumber energi bukan minyak.
Gunung Salak terletak pada perbatasan Betawi dan Priangan mempunyai dua tepi kawah, sangat rontok dan tererosi air, yang pertama dengan jari - jari 1 km, lewat puncak Salak III (2080 m), Salak I atau Gg. Gaja, titik tertinggi dari gunung-apinya (2211 m), Salak II atau G. Ciapus (2189,5 m), Gg. Gedogan (1920 m) dan sebuah puncak tanpa nama tingginya 1930 m.
Salah satu gunungapi paling teratur dari Jawa, cukup dikenal dari bahasan dan bagan Junghuhn. Puncaknya terletak di perbatasan Kedu dan Bagelen, tingginya 3145 m di atas muka laut. Di sebelah timur bahannya tersebar di atas Ngadirejo dan Parakan hingga kaki pegunungan Tersier.
Bentuk geologi dari kawah Galunggung, secara keseluruhan paling baik dapat dipelajari berdasarkan potret 14 dan 15. Disini jeles tampak, bahwa aliran lava dan lapisan abu yang membangun pema tang kawahnya yang tinggi, menurun dari kawah Guntur. Dilihat dari adanya tangga tempat jatuhnya air terjun dari kawah ini ke bawah, lereng ini pada potret 15 juga sangat jelas.
Di Jawa sedikit gunungapi yang mempunyai bentuk yang sama baiknya dengan Sendoro. Melihat Slamet yang agak kurang teratur, Sendoro menunjukkan pada ketinggian lebih dari 1500 m bentuk kerucut yang terpancung murni dan teratur.
Pengukuran topografi dilakukan sesuai dengan SPPJ No 279/P/81 tanggal 9-5-81 maksudnya untuk menetapkan kedudukan lokasi tilting dengan titik tetap, dimana satuan koordinatnya dengan sistim polyder, lokasi yang diukur di daerah G.Tangkubanparahu Lembang, pekerjaan dilaksanakan antara 9 s/d tanggal 23 Mei 1981.
Salah satu hasil sampingan (sekunder) letusan G. Ga-lunggung ialah lahar. Lahar yang dimaksud ialah hasil transportasi bahan-bahan yang berasal dari endapan awan-panas (ladu), endapan jatuhan (air-fall deposits) dan ba-han yang ada sebelumnya, seperti bongkah andesit lepas, kayu dsb, diangkut oleh air hujan atau air permukaan dalam bentuk arus pekat ketempat yang lebih rendah atau menye-leweng …
Peninjauan dari Kawah Ijen telah dilangsungkan secara teratur. Hasil peninjauan itu telah digambarkan secara grafis. Apabila dibandingkan dengan tahun 1922, maka terlihat bahwa garis pembacaan skala ukuran dalam tahun 1923 menunjukan suatu perkembangan yang lain sama sekali daripada dalam tahun 1922.
Baru sedikit contoh bahan letusan G. Galunggung yang diperiksa dan terutama hanya susunan mineralnya, sehingga tulisan ini dibuat dengan mengambil banyak bahan sekunder yang berasal dari hasil penelitian Baak (1948, 1949) ngenai penyebaran abu vulkanik, susunan mineral dan kimianya, selain dari buku-buku dan catatan-catatan dalam surat kabar Kompas.