Gunung Guntur termasuk gunungapi tipe-A merupakan gunungapi aktif di Jawa Barat. Kegiatan letusannya tercatat mulai 1690 sampai 1847, sekurang - kurangnya telah terjadi 22 kali kegiatan.
Puncak G.Slamet memiliki ketinggian 3676 m merupakan gunungapi tertinggi di Jawa Tengah. Aktivitas G.Slamet saat ini dipantau dari Pos Vulkanologi Gambuhan terletak dibagian utara kaki G.Slamet yang merupakan titik referensi.
Tujuan penyelidikan kimia gas dan air terhadap suatu gunungapi adalah mengumpulkan data kimia gas dan air yang diharapkan melalui pengumpulan data secara periodik dapat membantu data - data lain terhadap gunungapi dalam membuat prakiraan tingkat kegiatan suatu gunungapi.
Penyelidikan dan pengamatan seismik di G. Slamet dilakukan untuk mendapatkan data kegempaan G.Slamet berupa parameter - parameter dasar gempa, kemudian kita mencoba melakukan lokalisasi sebaran dan kedalaman sumber gempa.
G.Guntur dimonitor oleh Direktorat Vulkanologi (DV) secara terus menerus sejak Pos Pengamatan Gunungapi (Pos PGA) Guntur didirikan tahun 1985 di Desa Sirnajaya Kecamatan Tarogong Kabupaten Garut, Jabar.
Pemetaan Zona Risiko Gunungapi Galunggung bertujuan untuk melakukan pengecekan/penelitian tingkat bahaya/risiko secara kwalitatif. Pengecekan lapangan dilakukan terutama mengenai batas - batas zonasi bahaya, pola sebaran aliran piroklastik serta lahar, pemanfaatan lahan dan perhitungan jumlah penduduk setiap pemukiman serta pengumpulan data - data lapangan yang berkaitan dengan faktor sosial ek…
Penyelidikan deformasi G. Semeru dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang adanya suatu aktivitas suatu gunungapi yang menimbulkan perubahan bentuk tubuh gunungapi dan perkembangan deformasinya juga untuk melengkapi titik - titik ukur yang telah ada sebelumnya di Argosuko agar pemantauan menjadi lebih efisien.
Pemetaan zona risiko bahaya G.Kelut dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkatan risiko yang timbul sebagai akibat bahaya G.Kelut dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Dilakukan hubungan emisi gas SO2 dalam plume vulkanik dengan tingkat aktivitas Gunung Merapi. Sejak September 1974, emisi gas SO2 dalam plume vulkanik cukup rendah yaitu sekitar 50 ton/hari (dari hasil SO2 smoothing) dan emisi SO2 menunjukkan peningkatan sehari setelah terjadinya awan panas guguran.
Awan panas letusan - letusan G. Semeru tanggal 3 Februari 1994 terjadi kearah selatan yaitu 11,5 km dan mengendap disepanjang sungai B.Kobokan dengan jumlah endapan kurang lebih 4,6 juta m3 dan 9 km kearah jalur sungai B. Kembar dengan jumlah endapan 1,7 juta m3.