G. SangeangApi terakhir erupsi pada 24 Januari 1997 yang sampai Juli 1998 letusan/hembusan asap masih sering terjadi. Erupsi 1997 bersifat eksplosif dan efusif. Karena dari hasil pengamatan menunjukkan terjadinya guguran - guguran lava ke arah S. Berano. Sampai dengan Juli 1998 gempa vulkanik terekam oleh seismograf yang jumlahnya per bulan di atas normal.
Pengamatan kegiatan G. Sirung telah dilakukan sejak Agustus 1994, Pos PGA G. Sirung lokasinya terpencil, transportasi umum dari Labuhan Baranusa ke Pos Pengamatan belum ada. Sehingga untuk kelancaran kebutuhan Pos Pengamatan sering terlambat dalam perjalanan keluar maupun masuk ke P. Pantar. Sebaiknya untuk kelancaran operasional Pos Pengamatan G. Sirung, Direktorat Vulkanologi perlu melakukan …
Seismograf di G. Egon sejak dipasang pada Mei 1995 beroperasi dengan baik, tetapi sejak Januari 1996 hingga awal Mei mengalami kerusakan sehingga data yang diperlukan hilang, setelah dilakukan perbaikan pada Mei 1996, seismograf berfungsi kembali dengan baik. Rekaman gempa di G. Egon umumnya didominasi oleh gempa tektonik jauh yang rata - rata tiap bulannya merekam sebanyak lebih dari 100 kejad…
Pengamatan aktifitas G. Sirung dilakukan secara menerus sejak tahun 1994, setelah dibangunnya Pos Pengamatan. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan visual, pemeriksaan kawah, pengukuran suhu, dan pengamatan gempa bumi. Pengamatan sehari - hari dilakukan oleh petugas setempat yang hanya terdiri 1 orang.
G. Anak Ranakah merupakan gunungapi yang keberadaannya tidak diduga, karena muncul dari gunungapi tua yang tidak aktif ribuan tahun, serta terdapat diantara dua bukit yaitu Pocok Ranakah dan Pocok Mandasawu. Pengamatan visual dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi di Kampung Poka. Pemeriksaan puncak yang dilakukan pada 26 Juli 1997 dimaksudkan untuk mengetahui perubahan - perubahan yang terjad…
Selama pengamatan kami disana dari pertengahan Juni sampai dengan akhir Juni 1997, G. Rokatenda tampak jelas, asap Solfatara tampak umumnya berwarna putih tipis dengan tekanan gas lemah lk. 20 meter dari atas puncak. Sedangkan pengamatan gempa G. Rokatenda dilakukan dengan menggunakan Seismograf Kinemetrics PS-2 sistem radio telemetri (RTS).
Merekam semua sistem pemantauan kegiatan vulkanik dan persiapan Direktorat Vulkanologi maupun Pemerintah setempat termasuk masyarakatnya dalam menghadapi kemungkinan terjadinya letusan G. Batur. Hal ini untuk memudahkan komunikasi dalam penyuluhan, apabila seluruh data telah tercatat.