Pengamatan visual dan pemeriksaan kawah pada bulan Mei - Juni 1994, tidak mendapatkan adanya peningkatan bualan dan tidak ada laporan dari penambang belerang tentang bualan tersebut, yang ada hanya bualan gelembung gas yang berlangsung terus seperti biasanya.
Dalam mengamati perkembangan aktifitas G.Merapi dibutuhkan peralatan dengan kondisi yang baik, sehingga selain dilakukan penyelidikan dan pengamatan terhadap aktivitas gunungapi Merapi maka dilakukan juga perawatan serta kalibrasi peralatan seismik/magnetik.
Pemantauan ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh kegempaan tersebut terhadap kegiatan vulkanik di Komplek Dieng, yaitu dengan melihat dan mempelajari gempa - gempa yang tercatat pada seismogram.
Pengamatan lapangan kegiatan vulkanik di Kw. Ijen, yaitu untuk melihat perubahan kegiatannya. Ancaman bahaya yang paling menonjol dari kegiatan vulkanik di Kw. Ijen, adalah terhadap kemungkinan terjadinya pelepasan gas racun di sekitar lobang solfatara.
Dalam mengantisispasi perkembangan aktifitas G.Merapi terutama setelah aktifitas G. Merapi menjadi aktif normal, maka pada bulan Agustus diadakan penyelidikan dan pengamatan, terutama untuk mengikuti perkembangan gempa LF dan gempa vulkanik.
Kelompok Kerja Seismik/Magnetik pada kesempatan ini mencoba menganalisa pengaruh gempa bumi (gempa tektonik) terhadap aktivitas gunungapi Merapi. Mekanisme gempa tektonik karena perubahan posisi massa batuan di dalam kerak bumi secara serentak. Dengan perubahan posisi massa batuan itu apakah dapat mempengaruhi aktivitas gunung (Merapi) atau tidak.
Maksud penulisan laporan ini adalah untuk melakukan evaluasi kegiatan vulkanik G.Kelut saat ini, selama perioda November 1992 s/d 10 Maret 1993. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kegiatan vulkaniknya hingga saat ini (selama Desember 1992 s/d Maret 1993)
Dalam menghadapi musim penghujan yang mungkin bisa memicu sistem yang telah seimbang pada gunung Merapi khususnya kegiatan fase banyak yang terus meningkat, maka pada bulan Juli, diadakan perbaikan, perawatan serta kalibrasi untuk peralatan seismik dan magnetik, sehingga bila terjadi krisis maka peralatan diperkirakan masih dalam kondisi baik.
Untuk memantau kegiatan G.Ciremai telah dibangun sebuah Pos Pengamatan di Desa Kaliaren, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Pos dilengkapi peralatan dan alat komunikasi, yang dikelola oleh tiga petugas setempat. Pekerjaan yang dilakukan meliputi pengamatan visual, kegempaan, dan pengukuran suhu air panas disamping dilakukan pemeriksaan puncak secara berkala.
Minggu kedua Desember 1991 terjadi lonjakan jumlah gempa tektonik lokal, yaitu mencapai 172 kejadian, kemudian untuk memantau pengaruh tersebut terhadap kegiatan vulkanik G.Lamongan, serta kemungkinan pembentukan rekahan seperti pernah terjadi sebelumnya, maka perlu dilakukan pemantauan seismik lebih intensif dan peninjauan lapangan.