G. Batur adalah salah satu gunungapi aktif di Indonesia, termasuk gunungapi yang sering meletus dibandingkan dengan G. Agung, keduanya terletak di P.Bali. Berdasarkan produk erupsi 1994/1995, erupsi G. Batur bersifat esplosif (strombolian), efusif atau kombinasi esplosif dengan efusif.
Kegiatan pengumpulan bahan informasi G. Ebulobo ini dilakukan dari tanggal 24 Mei 1998 sampai dengan 5 Juni 1998. Pengadaan bahan informasi yang meliputi pengamatan dan pendataan kependudukan di dalam Daerah Bahaya (Kawasan Rawan Bencana II) dan Daerah Waspada (Kawasan Rawan Bencana I) G. Ebulobo dan sekitarnya, dengan cara melakukan pendataan/pengecekan langsung ke lapangan.
Evaluasi kegiatan G. Batur tahun 1995 terutama didasarkan pada hasil pengamatan visual dan kegempaan yang dilakukan dari Pos PGA G. Batur di Penelokan. Secara visual kegiatan G. Batur sampai dengan akhir 1955 masih ditandai dengan adanya letusan dan hembusan yang teramati pada bulan Januari, Maret, dan Mei 1955. Tinggi asap letusan mencapai lk 300 m di atas pusat letusan.
Faktor yang ikut menentukan intensitas bencana gunungapi adalah sifat dan tipe letusan gunungapi, sebaran produk letusan, perioda letusan, kepadatan penduduk di sekitar gunungapi serta perkembangan pemukiman dan wisatawan. Berdasarkan data letusan yang telah lampau, produk letusan G. Lewotobi Laki - laki dan Perempuan yang dapat menimbulkan bencana meliputi abu, pasir, dan lapili, bom volkanik,…
Kegiatan G. Iya dan G. Ebulobo dipantau secara terus - menerus oleh Sub Direktorat Pengamatan Gunungapi melalui Pos Pengamatan Tetap yang berlokasi di daerah gunungapi tersebut. Pemantauan kegiatan gunungapi selain visual juga pengamatan gempa. Pengamatan gempa untuk G.Iya dengan seismograf PS-2 bersistem telemetri satu komponen vertikal. Sedangkan G.Ebulobo menggunakan seismograf Elektromagnet…
Memperhatikan sifat erupsi masa lampau dan makin padatnya penduduk yang bermukim di sekitar puncak G.Ileboleng, hal ini akan menambah tingkat bahaya eupsi G.Ileboleng. Untuk mengantisipasi mitigasi akibat erupsi yang akan datang, sangat diperlukan suatu usaha mengevaluasi aktifitas vulkaniknya. Untuk keperluan pekerjaan tersebut diperlukan pengumpulan data - data masa lampau dan kondisi sekaran…
Komplek G. Rinjani terdapat di P.Lombok bagian utara, termasuk Prov. NTB, mencakup 3 (tiga) Kabupaten yaitu : Kab. Lombok Barat, Kab. Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Timur. Peningkatan aktifitas G. Rinjani terjadi sejak tgl 4 Juni 1994 pkl. 02.00 WITA berupa suara dentuman dari arah kaldera, kemudian pada tgl 4 Juni 1994 pkl. 08.00 WITA teramati asap letusan berwarna hita, tebal dengan tinggi lk…
Pengamatan terhadap tingkah laku G.Agung dilakukan dari 3 Pos Pengamatan, yang terletak di Rendang, Budakeling dan Batulompeh. Selain pengamatan visual juga pengamatan kegempaan/seismik yang dilakukan dari Pos Rendang dengan menggunakan seismograf sistim telemetry jenis Kinemetrick PS-2 yang terpasang sejak Mei 1988.
Dalam bulan Mei 1992 penulis bertugas mengamati kegiatan G. Iliboleng di P. Adonara, Kabupaten Flores Timur NTT. Posisi geopgrafi G. Iliboleng terletak antara 8° 20,5' Lintang Selatan dan 1230 15,5' Bujur Timur ( Atlas Trop. Nederl.1938 lembar 27;dalam Kusumadinata, K. 1979), G. Iliboleng berbentuk kerucut yang teratur di bagian tenggara pulau, menutupi daerah sekitar 9 - 11 km ( Neumann van P…
Gunungapi Wurlali adalah gunungapi aktif tipe A yang terletak di Pulau Damar (Damer), Kecamatan Damer, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Gunungapi ini bertipe strato dengan kawah lebar di bagian puncaknya, dan sudah beristirahat selama 123 tahun terhitung dari letusan yang terakhir tahun 1892. Panorama Gunungapi Wurlali yang masih aktif ditandai oelh beberapa lapangan solfatra berwa…